- Petani Desa Tombo mengikuti pelatihan budidaya kopi Arabika pada Selasa, 11 Agustus 2026, di Pondok Sidawung.
- Sebanyak 5.400 bibit kopi Arabika disalurkan kepada 13 petani untuk ditanam di lahan milik warga setempat.
- Program kolaboratif ini bertujuan meningkatkan ekonomi masyarakat sekaligus menjaga fungsi lingkungan di Desa Tombo secara berkelanjutan.
SuaraJawaTengah.id - Jauh sebelum kopi menjadi bagian dari tren gaya hidup seperti sekarang, Desa Tombo, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, telah lebih dulu mengenal komoditas ini.
Sejak masa Belanda, Tombo dikenal memiliki kekayaan kopi yang bahkan pernah dipasarkan hingga ke pasar internasional. Kopi menjadi salah satu kekuatan pertanian masyarakat dan bagian dari identitas desa yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Namun, perjalanan kopi Tombo tidak selalu berada di masa kejayaannya.
Persaingan pasar yang semakin ketat dan berbagai tantangan dalam pengelolaan komoditas membuat kopi perlahan tergeser oleh tanaman lain, termasuk karet dan teh. Seiring waktu, kejayaan kopi Tombo pun tidak lagi sekuat masa sebelumnya.
Baca Juga:Studi 12 Tahun Ungkap PLTU Batang Jadi Habitat 465 Spesies, BPI Luncurkan Buku Biodiversitas
Kini, semangat untuk kembali menguatkan potensi “emas” dari Tombo itu mulai tumbuh. Masyarakat, termasuk generasi muda desa, mulai melihat kopi bukan hanya sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai peluang ekonomi yang masih memiliki masa depan. Di saat yang sama, pengembangan kopi juga dipandang dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga fungsi lingkungan, khususnya di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS).
Semangat tersebut salah satunya diwujudkan melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Budidaya Kopi Arabika bagi para petani Desa Tombo di Pondok Sidawung, Selasa (11/8/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari program Daerah Aliran Sungai (DAS) Lestari, yang mendorong pengembangan ekonomi masyarakat sekaligus pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.
Para petani mendapatkan pengetahuan praktis mengenai budidaya kopi Arabika, mulai dari teknik penanaman hingga pengelolaan hama dan penyakit tanaman. Burohim dan Anang dari Petani Kopi Surjo hadir sebagai narasumber untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan yang dapat diterapkan langsung di lahan petani.
Antusiasme terlihat selama kegiatan berlangsung. Berbagai pertanyaan disampaikan peserta, terutama mengenai hama dan penyakit tanaman yang menjadi salah satu tantangan dalam menjaga pertumbuhan dan produktivitas kopi.
Bagi para petani, pengetahuan tersebut bukan sekadar materi pelatihan. Apa yang dipelajari akan dibawa kembali ke kebun dan menjadi bekal dalam merawat tanaman agar dapat tumbuh dengan baik.
Baca Juga:Duh! 5 Tahun Ubah Sawah Jadi Tambak Udang, Pengusaha Batang Jadi Tersangka
Salah satu peserta, Tarmujo, petani kopi di Tombo mengatakan pelatihan tersebut memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai tahapan budidaya kopi.
“Untuk pelatihan hari ini, mulai dari penanaman sampai dengan pengetahuan dan penanganan hama dan penyakitnya sudah cukup jelas. Ke depan akan saya terapkan dan saya pahami dalam pengelolaan tanaman kopi,” ungkapnya.
Kepala Desa Tombo, Mustajab, melihat antusiasme para petani sebagai modal penting untuk kembali memperkuat pengembangan kopi di desanya.
“Alhamdulillah, petani sangat antusias mengikuti kegiatan ini. Banyak pertanyaan yang disampaikan, dan mudah-mudahan pengetahuan yang diperoleh dapat mendukung keberhasilan pengembangan kopi Arabika di Desa Tombo. Kami berharap dari tahap awal hingga pelaksanaan nantinya dapat berjalan baik dan memberikan dampak terhadap peningkatan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Penguatan budidaya tersebut kemudian dilanjutkan dengan dukungan bibit. Sebanyak 5.400 bibit kopi Arabika disiapkan untuk mendukung penanaman di lahan petani.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Cabang Dinas Kehutanan Wilayah IV Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Tengah (CDK IV) terhadap 27 bidang tanah, bibit tersebut direncanakan disalurkan kepada 13 petani untuk ditanam menjelang musim hujan.