- Calon Ketum PBNU Gus Rozin menilai penguatan NU harus bertumpu pada kebutuhan jamaah dan daerah.
- Gus Rozin menyampaikan gagasan tersebut dalam silaturahmi dengan PWNU dan PCNU di berbagai wilayah luar Jawa.
- Ia mendorong pendekatan dari bawah ke atas agar penguatan organisasi dan pesantren lebih tepat sasaran.
SuaraJawaTengah.id - Calon Ketua Umum PBNU, KH. Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), menilai penguatan Nahdlatul Ulama ke depan perlu lebih banyak bertumpu pada kebutuhan jamaah dan kondisi daerah, terutama di luar Pulau Jawa.
Menurut Gus Rozin, NU memiliki karakter yang khas. Jamaah telah tumbuh di tengah masyarakat sebelum struktur jam’iyyah terbentuk. Karena itu, pengembangan organisasi tidak selalu harus dimulai dari pusat.
Ini merupakan pesan yang perlu diperhatikan dalam menyambut Muktamar PBNU ke-35 di Jombang, Jawa Timur, nanti.
“NU itu jamaah ada duluan, baru jam’iyyahnya,” kata Ketua PWNU Jawa Tengah ini dalam salah satu pertemuan dengan pengurus NU di daerah.
Baca Juga:Sejarah Baru! 21 Ponpes Eks-Jamaah Islamiyah Siap Gelar Upacara HUT RI ke-81
Pandangan tersebut muncul dalam sejumlah silaturahmi Gus Rozin bersama PWNU dan PCNU dalam beberapa waktu terakhir.
Dalam pertemuan di berbagai wilayah seperti Lampung, Sulawesi Selatan dan Utara, Gorontalo, Bali, NTT, sampai Kalimantan Timur dan Utara, Gus Rozin menilai persoalan yang disampaikan pengurus daerah begitu khas dan berbeda-beda.
Pengurus NU di luar Jawa, misalnya, banyak menyampaikan persoalan keterbatasan pesantren, kaderisasi, sumber daya manusia, hingga akses terhadap pendampingan organisasi. Kondisi geografis juga membuat kebutuhan NU di luar Jawa tidak selalu sama dengan yang dihadapi NU di Jawa.
Karena itu, Gus Rozin mendorong agar penguatan NU dilakukan dari akar rumput.
PWNU dan PCNU perlu diberi ruang yang cukup untuk mengembangkan organisasi berdasarkan kebutuhan masing-masing daerah.
Baca Juga:BNN Gerebek 101 Billiard & Caf Tegal, Temukan Ekstasi Sabu dan 9 Orang Positif Narkotika
“Penguatan NU perlu dilakukan melalui pendekatan dari bawah ke atas, bukan hanya dari tingkat atas,” jelas Gus Rozin.
Ia juga menilai pesantren harus mendapat perhatian serius. Pesantren, kata Gus Rozin, merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah NU. Penguatan pesantren karena itu tidak hanya berkaitan dengan pendidikan, tetapi juga dengan masa depan NU sendiri.
Dalam pertemuan dengan pengurus NU di sejumlah daerah, persoalan pesantren menjadi salah satu pembahasan yang berulang. Di beberapa wilayah luar Jawa, bahkan masih terdapat daerah yang belum memiliki pesantren yang cukup representatif.
Bagi Gus Rozin, kondisi seperti itu membutuhkan kehadiran organisasi yang lebih praktis dan dekat. PBNU tidak harus mengambil alih semua urusan daerah, tetapi dapat membantu menghubungkan kebutuhan daerah agar bisa mendapat perhatian pusat.
Gagasan tersebut berjalan beriringan dengan pandangannya mengenai hubungan antara jamaah dan jam’iyyah. Penguatan struktur organisasi, menurut Gus Rozin, harus berjalan bersama dengan penguatan masyarakat yang menjadi basis NU.
Dalam suasana NU yang sedang menghadapi dinamika internal, ia juga mengingatkan pentingnya komunikasi dan ukhuwah.