- Wapres Gibran dan Gubernur Jateng Ahmad Luthfi meninjau kasus keracunan Makan Bergizi Gratis di Batang pada 28 September 2026.
- Sebanyak 597 orang mengalami gejala keracunan, dengan delapan korban masih dirawat di Puskesmas Bawang pada hari peninjauan tersebut.
- Wali murid dan siswa meminta program Makan Bergizi Gratis tetap dilanjutkan dengan perbaikan tata kelola serta peningkatan higienitas.
Berdasarkan data SD Negeri Pasusukan, sebanyak 26 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 terdampak. Selain siswa, terdapat tujuh orang terdampak, termasuk kepala sekolah. Para korban mulai merasakan gejala secara bervariasi sejak Rabu (23/9/2026).
Kepala SD Negeri Pasusukan Maryana mengatakan, gejala tidak muncul secara bersamaan setelah makanan MBG dikonsumsi. Makanan tiba sekitar pukul 08.30 dan dikonsumsi siswa sekitar pukul 09.00 saat jam istirahat. Namun, keluhan baru muncul beberapa jam kemudian.
Menurut Maryana, waktu munculnya gejala pada siswa juga berbeda-beda. Ada yang mulai merasakan keluhan pada malam hari dan ada pula yang baru mengalami gejala pada keesokan harinya.
“Kalau untuk anak-anak beragam dari mulai malam. Ada juga yang esok harinya. Enggak sama,” ujarnya.
Baca Juga:Korban Dugaan Keracunan MBG di Batang Tembus 300 Orang, RS Sampai Penuh
Maryana mengatakan, 26 siswa yang terdampak telah pulang ke rumah. Sementara satu guru masih menjalani perawatan di RSUD Limpung. Keluhan yang paling banyak dirasakan adalah mual dan diare.
Ia berharap kejadian tersebut menjadi perhatian agar pelaksanaan MBG ke depan semakin aman bagi anak-anak.
Sementara itu, Kepala Puskesmas Bawang Ida Suryani, mengatakan bahwa penanganan di puskesmas yang dipimpin dimulai pada Rabu saat pasien berdatangan. Total ada 597 orang dengan rincian 32 rawat jalan di puskesmas, 384 orang rawat jalan, dan 182 orang dirujuk ke RSUD Limpung, RSUD Batang, dan Puskesmas Rawat Inap lainnya di Batang. Rentang usia korban mulai dari balita sampai lansia.
"Hari ini yang masih dirawat inap di sini ada 8 orang dan kondisinya sudah cukup membaik,” kata dia.
Ia menjelaskan, keluhan yang diderita pasien saat tiba di Puskesmas Bawang adalah mual, sakit perut, muntah, diare, dan panas-dingin. Dari hasil pemeriksaan belum diketahui secara pasti terkait penyebabnya, hasil laboratorium baru akan keluar setelah 20 hari.
Baca Juga:276 Korban MBG Dirawat, Pemkab Batang Minta SPPG Bertanggung Jawab
Ida menambahkan, peristiwa keracunan tersebut menjadi pelajaran bersama sehingga langkah antisipasi akan terus ditingkatkan agar kejadian serupa tidak terulang. Tentunya dimulai dari pihak SPPG yang memiliki wewenang dalam penyediaan makanan untun MBG.
"Kita juga sudah kerja sama dengan SPPG untuk masalah kelaikan sanitasi higienisnya, puskesmas juga sering meninjau ke SPPG supaya tidak terjadi hal seperti ini lagi. Koordinasi dengan SPPG berjalan," jelasnya.