- Moh. Miftahul Arief meraih gelar Doktor Studi Islam di UIN Walisongo Semarang dengan nilai nyaris sempurna pada 30 September 2026.
- Ia menyelesaikan disertasinya di samping tempat tidur ibunya di rumah sakit meskipun sang ibu wafat sebelum ujian promosi doktor.
- Disertasinya meneliti strategi pemasaran madrasah perkotaan dengan merumuskan Urban-Spiritual Resonance Model serta empat tipologi pemasaran madrasah.
SuaraJawaTengah.id - Perjalanan Moh. Miftahul Arief meraih gelar doktor di UIN Walisongo Semarang tidak berlangsung dalam jalan yang mudah.
Sebelum menyandang gelar Doktor Studi Islam, guru MI Miftahul Akhlaqiyah Ngaliyan itu pernah menjadi loper koran di lampu merah hingga bekerja sebagai penjaga toko buku untuk membiayai hidup dan pendidikannya.
Kini, Arief resmi menyandang gelar doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam Ujian Terbuka Promosi Doktor Program Studi S-3 Studi Islam Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Rabu (30/9/2026).
Ujian yang dipimpin Rektor UIN Walisongo Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag. tersebut menetapkan Arief lulus dengan nilai disertasi 3,98, atau nyaris sempurna.
Baca Juga:Bejat! Ini 7 Fakta Kasus Guru SMP Kirim Chat Mesum ke Murid di Blora
"Kepadanya diberi gelar Doktor Studi Islam, dan merupakan doktor ke-456 yang telah diluluskan oleh UIN Walisongo," kata Prof. Musahadi.
Bagi Arief, pencapaian tersebut bahkan sempat berada di luar bayangannya. Delapan tahun lalu, ia mengaku sudah merasa bahagia hanya dengan mengantar keluarganya mengikuti ujian terbuka doktor.
"Saya tak pernah bermimpi jadi doktor. Dulu, mengantar famili yang ujian terbuka sudah senang sekali bisa foto di photobooth-nya. Tapi tak terbesit kuliah S-3, mengingat usia sudah tidak muda dan biaya yang dibutuhkan juga tidak sedikit," ungkap pria berusia 45 tahun itu.
Pernah Jual Koran di Lampu Merah
Jauh sebelum berada di ruang sidang promosi doktor, Arief harus menjalani berbagai pekerjaan untuk menopang pendidikan dan kehidupannya.
Baca Juga:Guru Ngaji di Kebumen Jadi Tersangka Kasus Asusila, Polisi Ungkap Kronologi dan Jumlah Korban
Semasa kuliah, ia pernah berjualan koran di lampu merah Kalibanteng, tepat di samping Museum Ranggawarsita Semarang. Pekerjaan tersebut dijalaninya untuk membantu membiayai kebutuhan hidup sekaligus pendidikan.
Setelah menjadi guru pada 2005, perjuangan tersebut belum berhenti. Pagi hingga siang Arief mengajar, kemudian melanjutkan aktivitasnya dengan menjaga salah satu outlet Toko Buku Gramedia Pandanaran Semarang hingga pukul 22.00 WIB.
"Saat menjadi guru MI, pagi mengajar, siang hingga malam menjaga outlet di Gramedia Pandanaran. Saat itu yang saya pikirkan sederhana, bagaimana tetap bisa belajar sambil bekerja," kenangnya.
Ia juga pernah menjalankan usaha pengetikan komputer dari rumah bersama istrinya dengan hanya bermodalkan satu komputer lama. Hingga kini, Arief masih menjalani pekerjaan sampingan sebagai sopir taksi online.
Menurut Arief, berbagai pekerjaan tersebut bukan persoalan selama dilakukan secara halal dan baik. Bahkan, menjadi sopir taksi online menurutnya memberikan manfaat lain karena sekaligus memperluas relasi.
Perjalanan tersebut kemudian membawanya semakin jauh di dunia pendidikan. Setelah lima tahun menjadi guru, Arief dipercaya menjadi Kepala MI Miftahul Akhlaqiyah pada 2010-2022.
Pada 2020, ia juga dinobatkan sebagai Kepala Madrasah Berprestasi oleh Kementerian Agama Kota Semarang.
Di luar aktivitasnya sebagai pendidik, Arief mengembangkan Bimbingan Belajar AIO sejak 2014. Ia juga aktif sebagai jurnalis Majalah AULA NU, pengurus PWI Jawa Tengah, serta mendirikan dan menjadi pemimpin redaksi EDUKASIA.ID dan BeritaHaji.id.
Menulis Disertasi di Samping Tempat Tidur Ibu
Perjuangan Arief menyelesaikan pendidikan doktoral juga beriringan dengan tanggung jawab keluarga. Sang ibu yang mengalami penyakit komplikasi harus berulang kali menjalani perawatan di RSUP Dr. Kariadi Semarang.
Arief menjadi orang yang mendampingi langsung proses pengobatan sang ibu. Di tengah aktivitas menjaga dan mengantar ibunya menjalani perawatan, ia tetap berusaha menyelesaikan penelitian doktoralnya.
Laptop menjadi teman Arief selama berada di rumah sakit. Di sela waktu menunggu ibunya, ia menulis dan menyelesaikan bagian-bagian disertasinya.
"Sebagian disertasi ini saya kerjakan di kamar geriatri RS Kariadi. Saat ibu dirawat, saya menunggu sendiri, mengantar dan menjemput beliau, sekaligus menyelesaikan berbagai bagian penelitian di samping tempat tidurnya," ujar Arief.
Aktivitas tersebut bahkan menjadi pemandangan yang akrab bagi para perawat di bangsal geriatri.
"Beberapa perawat sampai hafal. Mereka sering melihat saya membuka laptop dan menulis disertasi di sela-sela menjaga ibu," lanjutnya.
Ada satu harapan yang selama ini ingin diwujudkan Arief, yakni melihat sang ibu menyaksikan langsung dirinya menjalani promosi doktor.
Namun harapan tersebut tidak terwujud. Tepat setahun sebelum promosi doktornya, sang ibu meninggal dunia.
"Harapan saya ibu bisa menyaksikan promosi doktor ini. Namun Allah memiliki rencana lain. Tepat setahun yang lalu ibu telah lebih dahulu berpulang," tuturnya.
Karena itu, gelar doktor yang kini disandangnya memiliki makna personal bagi Arief. Ia tidak melihat capaian tersebut semata sebagai hasil perjuangan dirinya sendiri.
"Doktor ini bukan hanya milik saya. Ada doa, pengorbanan, dan perjuangan ibu saya, perempuan hebat hebat yang tak lulus Madrasah Aliyah dan memeras keringat demi pendidikan anak-anaknya," katanya sambil berkaca-kaca.
Disertasi tentang Strategi Pemasaran Madrasah
Di balik perjalanan personal tersebut, Arief mempertahankan disertasi berjudul “Urban Marketing: Strategi Pemasaran Madrasah Ibtidaiyah (MI) pada Masyarakat Perkotaan.”
Penelitian itu berangkat dari fenomena menurunnya jumlah siswa Madrasah Ibtidaiyah di sejumlah kota besar di Pulau Jawa. Namun, di sisi lain, sejumlah MI di Kota Semarang justru menunjukkan pertumbuhan positif.
Arief kemudian melakukan penelitian multisitus di MI Nurul Islam Ngaliyan, MI Tarbiyatul Khairat Pedurungan, MI Taufiqiyah Tembalang, dan MI Nashrul Fajar Tembalang.
Dari penelitian tersebut, ia menemukan bahwa masyarakat perkotaan tidak lagi memilih madrasah hanya berdasarkan faktor agama atau kedekatan lokasi.
"Saya menemukan bahwa masyarakat perkotaan tidak lagi memilih madrasah hanya karena faktor agama atau kedekatan lokasi. Mereka juga mempertimbangkan mutu, pelayanan, keamanan, komunikasi, dan reputasi lembaga," ungkapnya.
Temuan tersebut kemudian dihubungkan dengan strategi Segmenting, Targeting, Positioning (STP) dan bauran pemasaran 7P.
Menurut Arief, pemasaran madrasah tidak cukup dimaknai sebagai upaya merekrut peserta didik baru. Mutu layanan dan kepercayaan masyarakat juga menjadi bagian penting.
"Urban Marketing bukan hanya strategi merekrut siswa. Ini adalah ikhtiar menghadirkan layanan pendidikan yang bermutu, profesional, sekaligus tetap berakar pada nilai-nilai Islam," jelasnya.
Dari penelitian itu, Arief merumuskan kebaruan berupa Urban-Spiritual Resonance Model, yang mempertemukan pendekatan pemasaran modern dengan nilai spiritual sebagai identitas madrasah.
Model tersebut kemudian melahirkan empat tipologi pemasaran madrasah, yakni Professional-Premium, Balanced-Moderate, Achievement-Inclusive, dan Grassroots-Authentic.
"Setiap madrasah tidak harus menjadi sama. Mereka dapat memilih model yang paling sesuai dengan karakter masyarakat, lingkungan, dan kekuatan yang dimiliki masing-masing," tegasnya.
Penelitian tersebut juga menemukan fenomena Demand Surplus Indicator, antara lain sistem inden pendaftaran, loyalitas keluarga lintas generasi, serta rekomendasi wali murid yang berkembang secara organik, termasuk melalui ruang digital.
Arief menilai promosi baru akan efektif jika berjalan bersama mutu layanan dan kepercayaan masyarakat.
"Madrasah yang berhasil bukan yang paling gencar berpromosi. Madrasah yang berhasil adalah madrasah yang mampu menghadirkan mutu dan kepercayaan secara konsisten," pungkasnya.
Direktur Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Muhyar Fanani, M.Ag., turut mengapresiasi perjalanan Arief menyelesaikan pendidikan doktoralnya.
Menurut Prof. Muhyar, Arief merupakan sosok pembelajar yang mampu menjadikan berbagai fase kehidupannya sebagai ruang untuk terus belajar dan berkembang.
"Dr. Arief adalah seorang pembelajar sejati. Setiap langkahnya dapat dijadikannya sebagai media belajar. Saya teringat dengan perkataan almarhum Prof. Satjipto Rahardjo bahwa seorang intelektual itu berbicara dengan pena. Dr. Arief benar-benar mempraktikkan hal ini," ujar Prof. Muhyar.
Ia juga menilai kemampuan menulis Arief menjadi salah satu kekuatannya.
"Kemampuan menulisnya di atas rata-rata mahasiswa kami," tegasnya.
Menurut Prof. Muhyar, pengalaman Arief sebagai guru, pengelola madrasah, jurnalis, penulis, dan praktisi pendidikan dapat menjadi modal untuk terus berkontribusi di dunia pendidikan.
"Saya yakin, Dr. Arief akan bisa berkiprah dalam banyak hal bagi masyarakat melalui madrasah dan dunia pendidikan secara luas. Tugas dalam dunia pendidikan tidak pernah ada habisnya. Tantangan muncul silih berganti. Selama masih ada manusia, pendidikan akan selalu dibutuhkan," lanjutnya.