SuaraJawaTengah.id - Masjid Agung Solo kerap menawarkan hal yang menarik, selain kemegahan bangunan yang masuk sebagai cagar budaya. Salah satu yang unik dan menarik di lingkungan Masjid Agung adalah keberadaan jam matahari atau 'istiwa' atau dikenal dengan 'Jam Bencet', lantaran jam tersebut mengandalkan sinar matahari sebagai penunjuk waktu.
Keberadaan jam tersebut terletak di sisi selatan masjid Agung, tepatnya di depan kantor Sekretariat Takmir Masjid Agung. Jam ini terletak di sebuah bangunan setinggi lebih kurang satu meter. Di bangunan tersebut terdapat tulisan tahun dengan bahasa Jawa yang menunjuk tahun 1784 Jawa atau 1855 Masehi.
Jam tersebut telihat unik karena berbentuk cekungan dan terbuat dari tembaga ditopang dengan beton. Di atas cekungan, terdapat jajaran angka mulai dari satu sampai 12.
Pun di atas cekungan, juga terdapat jarum yang terbuat dari tembaga. Jarum tersebut membujur horizontal menghadap ke arah utara dan selatan. Fungsi dari jarum tersebut adalah menunjukkan waktu, jam dan menitnya.
Lantaran mengandalkan sinar matahari, jam ini hanya bisa berfungsi sampai pukul 15.00 WIB. Itu pun dengan catatan, jika kondisi cuaca sedang bagus atau tidak mendung.
"Dahulu sebelum jam sepopuler sekarang ini, jam bencet itu masih difungsikan. Tetapi, sekarang sudah tidak lagi, karena sudah ada jam. Tapi itu masih berfungsi, kalau ada matahari," kata Sekretaris Takmir Masjid Agung Solo, Abdul Basid kepada Suara.com, baru-baru ini.
Meski sudah tidak difungsikan lagi, Basid menyampaikan, jam bencet masih terus dijaga sampai sekarang. Untuk melindungi jam bencet agar tidak rusak, ada sebuah kotak kaca tebal.
Kotak kaca dengan ketebalan kaca lebih kurang lima milimeter. Untuk melihat lebih jelas jam bencet, kotak kaca harus dibuka terlebih dahulu. Dengan kotak kaca ini maka jam tidak akan terlindungi dari hujan.
"Jarum ini berfungsi untuk menunjuk jam, yang bawahnya menunjukan menitnya. Ini hanya berfungsi sampai Pukul 15.00 WIB saja. Tapi kalau mendung ya tidak bisa mengetahui jamnya, karena tidak ada bayangan," terangnya.
Baca Juga: Keunikan Masjid Saka Tunggal di Banyumas dan Legenda Santri Dikutuk
Basid mengatakan, jam ini menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Tidak jarang, para mahasiswa maupun peneliti datang untuk melihat jam bencet tersebut.
Kontributor : Ari Purnomo
Berita Terkait
-
Beribadah di Masjid Ini, Barang Jemaah yang Hilang Akan DIganti
-
Kisah Masjid Keramat, Saksi Bisu Islam Masuk ke Kalimantan Selatan
-
Tarawih Spesial di Masjid Hijau Cambridge London, Masjid Pertama di Inggris
-
Masjid Sokambang, Saksi Peristirahatan Keluarga Raja Sumenep
-
Masih Ingat Masjid Kapal 'Bahtera Nuh' ? Intip Kondisinya Saat Ramadan
Terpopuler
- KBRI Kuala Lumpur Digeruduk, Warga Malaysia Desak Prabowo Buka Nama Perusahaan Terlibat Karhutla
- Gunung Anak Krakatau Meletus Abu Membubung 15 Km, BMKG Jepang Pantau Ancaman Tsunami
- Daftar Shio yang Paling Berpotensi Jadi Pengusaha Sukses
- Harga Sepatu Skechers Original, Cek 5 Pilihan Terbaik untuk Jalan dan Lari
- 5 Manfaat Air Mawar untuk Wajah dan Kulit yang Menarik Diketahui
Pilihan
-
Warga Serbu Pasar Asemka Cari Masker, Pedagang: Stok KF95 Kosong Sejak Kemarin!
-
Siswa TK sampai SMA di Jakarta dan Tangerang Raya PJJ Sampai Rabu 9 September
-
Episode Erupsi Gunung Anak Krakatau Berakhir, Kata Badan Geologi
-
Abu Vulkanik Krakatau Meningkat, Operasional Bandara Soetta Berhenti hingga Pukul 6 Sore
-
Kedutaan Besar Negara Asing Keluarkan Peringatan untuk Warganya Pasca Erupsi Anak Krakatau
Terkini
-
Erupsi Gunung Anak Krakatau, 29 Penerbangan di Bandara Ahmad Yani Semarang Batal
-
86 Personel Berjibaku Jinakkan Api di Lereng Gunung Sumbing, 1,72 Hektare Hutan Terbakar
-
'Kalian Anak Saya!' Aksi Spontan Gubernur Ahmad Luthfi Datangi Kos Mahasiswa NTT Bikin Haru
-
Bukan Menolak Geothermal, DPRD Jateng Minta Hitung Ulang Dampak PLTP Gunung Ungaran
-
Jateng Disebut 'Minimarket Bencana', Ahmad Luthfi Minta Relawan Bergerak Cepat!