“Kalau saya pusing malah tidurnya di ambulans, karena kebetulan diparkir di rumah. Malah jadi obat pusing,” kata Daryo yang sebelumnya merupakan sopir angkutan pedesaan.
Dalam penilaian Daryo, ambulans erat kaitannya dengan hidup dan mati. Dengan tidur di ambulans, ia bisa mendapatkan ketenangan mengenai arti kehidupan yang entah esok atau lusa, semua manusia akan menemui ajal.
“Hidup dan mati sudah diatur sama yang di Atas. Kita hanya menjalani. Orang hidup itu terpenting sumeleh (berserah diri) dan soleh (berbuat baik),” kata Daryo seraya berharap pekerjaannya yang erat berkaitan dengan jasa pertolongan itu bisa tercatat sebagai amal yang baik.
Pengakuan serupa disampaikan sopir ambulans Unit Pelayanan Paguyuban Belasungkawa RW 02 Desa Kedunguter, Kecamatan Banyumas, Poniman (60). Baginya, tidak ada yang horor dalam menjalani pekerjaan sebagai sopir ambulans.
“Ambulans ini sebenarnya khusus RW. Tapi kalau luar RW atau luar desa meminta bantuan tetap dilayani. Tidak ada biaya. Cuma biasanya kalau yang dari luar itu suka ada yang kasih keikhlasan buat mengisi bensin,” kata pria yang akrab disapa Epong tersebut.
Serupa dengan Daryo, Epong tidak pernah mengalami hal mistik selama menjalani pekerjaan yang kerap mengantarkan jenazah. Sekalipun dia meyakini, bahwa makhluk halus itu ada.
“Dalam menjalankan pekerjaan ini, semua baik-baik saja kok. Tidak ada yang horor atau mistik,” kata Epong.
Menurutnya, hal itu tidak terlepas dari kebersihan dan ketulusan niat dalam menjalani pekerjaan sebagai sopir ambulans.
“Saya kan cuma berpikir membantu orang membutuhkan jadi terpenting meluruskan niatan itu,” kata pria yang semula membuka usaha bengkel kecil-kecilan tersebut.
Baca Juga: 4 Jenazah Korban Pembunuhan di Banyumas Dimakamkan Bersebelahan
Epong bercerita, lahirnya ambulans RW 02 Kedunguter sebagai usaha mempermudah keperluan jasa antar untuk orang sakit atau meninggal dunia.
“Kemudian dari tokoh-tokoh, atau orang penting di RW kami memberikan donasi. Ada juga dari warga masyarakat, sehingga bisa membeli mobil untuk ambulans,” kata dia.
Epong yang juga aktivis paguyuban RW kemudian diamanatkan untuk menjadi sopir ambulans-nya.
Untuk diketahui, empat jenazah korban pembunuhan di Dusun Karanggandul Desa Pasinggangan, Kecamatan Banyumas, Kamis (29/8/2019) diserahkan oleh Polres Banyumas kepada pihak keluarga, untuk kemudian dimakamkan di desa tersebut.
Proses penyerahan dilakukan di RSUD Margono Soekarjo, Purwokerto.
Karena ada empat jenazah yang sudah menjadi kerangka, ambulans yang diperlukan juga empat. Dari empat ambulans yang digunakan, dua di antaranya merupakan ambulans Desa Sudagaran dan ambulans Unit Pelayanan Paguyuban Belasungkawa RW 02 Desa Kedunguter.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bagaimana Cara Cek NIK Terindikasi Judol atau Tidak? Begini Langkah Mudahnya
- Buruh di Jogja Geruduk Kantor Gubernur DIY, Tantang Sultan Buktikan Keistimewaan untuk Pekerja
- KPK Ungkap Riwayat Tanah Kavling Pesantren Darul Istiqamah Maros, Minta Hak Warga Dituntaskan
- Cegah Papua Jadi 'Sudan Kedua', Pemerintah Diminta Tarik Pendekatan Militeristik dan Buka Dialog
- 5 Eye Cream Kemasan Jar untuk Bikin Area Mata Tampak Cerah dan Awet Muda
Pilihan
-
WNI 18 Tahun Terancam Hukuman Mati di Malaysia: Ada Barbuk 25 Kg Sabu dan Heroin
-
Akhirnya Buka Suara Usai KPK Usut Korupsi di ATR/BPN, Ini Penjelasan Lengkap Nusron Wahid
-
Pria yang Tendang Perempuan di Senayan City Ditangkap Polisi!
-
Usut Dugaan Korupsi KSO Pertamina EP, Kejagung Geledah Kantor Setda hingga Bapenda Kota Bekasi
-
Mekkah Diserang Houthi, Kemlu Minta WNI Hati-hati di Arab Saudi
Terkini
-
Jateng Tembus 3 Besar Era Luthfi, Dubai Siapkan Rp5 T untuk Kilang Jepara, GSI: Ramah Investasi
-
Kendal Tornado FC Syukuri Raihan Empat Poin dari Dua Laga Tandang
-
Polresta Solo Ungkap 537 Gram Sabu, Dua Tersangka Ikut Dibekuk
-
Berkah Pameran di MTQ Nasional 2026, UMKM Jateng Raup Transaksi Tembus Rp2,4 Miliar
-
Sumur Minyak Rakyat Belum Jadi PAD, Blora Desak BPE Lebih Agresif Cari Investor