SuaraJawaTengah.id - Masih banyaknya stigma warga terhadap tenaga medis yang menangani pasien Virus Corona ternyata menciptakan trauma. Hal tersebut setidaknya terjadi pada sejumlah tenaga kesehatan Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Kariadi Semarang yang memilih tidak kembali ke indekos meski telah dinyatakan sembuh dari Covid-19.
Banyaknya pengalaman tenaga medis di beberapa tempat yang diusir dari indekos bahkan jenazahnya ditolak warga menjadi dilema yang kini dihadapi.
Persoalan ini pula dialami tenaga kesehatan RSUP dr Kariadi Semarang yang sejak dua pekan lalu menjalani isolasi di Hotel Kesambi Hijau. Meski sudah dinyatakan sembuh dari Covid-19, tenaga kesehatan RSUP Kariadi Semarang tidak berani pulang ke indekos.
Hal itu disampaikan dokter yang juga berprofesi sebagai Dosen Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Prof Zainal Muttaqin saat mengikuti acara diskusi online di channel Youtube Cendekia TV Jateng pada Senin (27/4/2020) malam.
“Banyak dari kami yang tidak berani pulang, terutama yang tinggal di kos. Padahal mereka sudah dinyatakan negatif (sembuh). Mereka butuh surat keterangan dari rumah sakit yang menyatakan mereka negatif. Sebelum ada SK itu enggak diizinkan kembali oleh RT, kos. Jadi seolah-olah penyakit ini aib,” ujarnya seperti dilansir Solopos.com-jaringan Suara.com pada Rabu (29/4/2020).
Zainal mengaku permasalahan stigma sosial masih sangat meresahkan tenaga kesehatan yang berjuang melawan pandemi Covid-19. Diakuinya, masalah tersebut terjadi akibat ketidakpahaman masyarakat tentang pandemi Covid-19.
“Mayat yang sudah dibungkus plastik, yang udah enggak bisa nulari saja enggak diterima. Apalagi, kami,” tutur dokter yang juga berprofesi sebagai dosen Universitas Diponegoro (Undip) Semarang itu.
Lantaran itu, Zainal berharap pemerintah memberikan edukasi secara masif kepada masyarakat terkait persebaran Covid-19. Menurutnya, pencegahan penyebaran Covid-19 sebenarnya bisa berjalan efektif, jika masyarakat mengikuti anjuran pemerintah tentang social distancing dan physical distancing.
“Virus ini kan kalau enggak dites enggak ketahuan. Kalau mau nurut untuk isolasi selama 14 hari, sebenarnya enggak perlu dites. Isolasi 14 hari virusnya sudah hilang."
Baca Juga: Miris, Dianggap Pembawa Penyakit, Tenaga Medis di Gayo Lues Dikucilkan
Berita Terkait
-
Relawan Covid-19: Gizi Tidak Diperhatikan, Tenaga Medis Seperti Bunuh Diri
-
Baru 3.000 Orang, Gugus Tugas Masih Membutuhkan Relawan Medis Lawan Corona
-
Miris, Ratusan Tenaga Medis Pasien Corona Jambi Belum Gajian dari Januari
-
Curhat Tenaga Medis RS Wisma Atlet: Dapat Stigma Negatif dan Rindu Keluarga
-
Anies: Tenaga Medis Bukan Garda Terdepan Melawan Virus Corona
Terpopuler
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
- 5 Bedak Padat Mengandung SPF, Praktis untuk Touch Up Sekaligus Lindungi Kulit dari Matahari
- Mathew Baker Masih Dianggap Milik Australia meski Dipanggil Timnas Indonesia Senior
- Sinyal Penggulingan '98 Jilid 2' Menguat, Cuma PDIP dan Habib Rizieq yang Bisa Selamatkan Prabowo?
Pilihan
-
Lucky Hakim Dinobatkan Sebagai Bupati Terbaik, Wakilnya Malah Jadi Tersangka
-
Dasco Pagi-pagi Kumpulkan Menkeu Purbaya dan Gubernur BI di DPR, Evaluasi Ekonomi
-
Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
-
Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
-
Tersangka Korupsi MBG Sony Sonjaya Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator, Siap Ungkap Pihak Lain
Terkini
-
Kejurnas Sprint Rally Dongkrak Pengembangan Sport Tourism Jawa Tengah
-
Tumbuhkan Kesadaran Ekologis, Taj Yasin Ajak Ratusan Santri Tanam Mangrove di Rembang
-
Stafsus Menag Hubungi Ahmadiyah, Dalami Pembubaran Paksa Kemah di Karanganyar
-
Program Mageri Segoro, Ikhtiar Bersama Menjaga Masa Depan Pesisir Jateng
-
Camping Anak Ahmadiyah di Karanganyar Dibubarkan, SETARA Institute: Polisi Jadi Saksi Bisu