Meski terlihat lelah, Hani masih bersemangat untuk bercerita soal perjalanannya sebagai waria.
“Sebenarnya masih banyak cerita, tapi saya ceritanya pas sudah sampai tempat tujuan kita saja ya” katanya.
Langit mulai mendung, pertanda Kota Semarang akan segera diguyur hujan dalam hitungan menit. Dugaan itu benar, selang lima menit hujan benar-benar turun. Beberapa pakaian kami basah, untungnya tempat yang kita tuju sudah dekat.
“Waduh teles kabeh,” cletuk Hani setelah kehujanan.
Setiba di tempat tujuan, Hani mencari tempat yang berdekatan dengan kipas angin dengan harapan agar baju yang dia pakai lekas kering. Selanjutnya, kopi dan tahu goreng menjadi pembuka dari obrolan kami selanjutnya.
Nasib Waria Saat Pandemi Covid-19
Adzan maghrib berkumandang, suara gemuruh hujan semakin hingar mengiringi hari yang mulai petang. Sembari menunggu adzan maghrib, Hani membalas pesan WhatsApp dari temannya yang sebelumnya belum sempat ia balas.
Jam menunjukan pukul 18.30 WIB, Hani mulai melanjutkan ceritanya tentang diskriminasi yang menimpa teman waria selama Covid-19 di Kota Semarang. Beberapa teman waria Hani tidak bisa mendapatkan bantuan Covid-19 karena tidak mempunyai identitas diri.
Menurutnya, identitas diri merupakan masalah klasik yang sering kali menjadi masalah bagi para waria. Selain itu, pandangan masyarakat terhadap waria masih negatif.
Baca Juga: KSAD Ditunjuk Jadi Wakil Ketua Komite Covid-19, DPR Bilang Begini
“Masih banyak masyarakat yang memandang waria itu sebelah mata bahkan kesannya itu negatif. Sering kali dibuat ejekan. Padahal kita kan manusia ya, yang berhak untuk hidup di negara kita,” keluhnya.
Meski mengeluh, Hani tetap sadar fenomena sosial yang ada di sekitarnya. Ia dan teman-temannya tak bisa memaksakan kehendak masyarakat.
Hani dan teman-temannya hanya bisa mawas diri, yang terpenting anggota Perwaris harus sopan dan baik kepada siapapun.
Menurutnya, Perwaris merupakan rumah keduanya. Di komunitas tersebut ia bisa bertemu dengan seorang teman yang mempunyai nasib sama yaitu sama-sama waria. Hal itu wajar lantaran Perwaris merupakan komunitas yang mempunyai anggota semuanya adalah waria.
Baginya, pewaris tidak hanya komunitas melainkan keluarga baru yang setiap saat melindungi dan memperjuangkan hak Hani dan teman-temannya sebagai warga negara Indonesia.
Menurutnya,itulah alasan Hani kenapa sampai saat ini ia bertahan di sebuah organisasi yang telah berdiri sejak 2006 tersebut. Jika ia hitung, sampai saat ini anggota Perwaris sekitar 125 waria.
Berita Terkait
-
Review Tenzing: Kisah Nyata Perjuangan Pendaki Korban Diskriminasi Everest
-
Apa yang Dimaksud dengan Diskriminasi Disabilitas?
-
Sisi Lain Anne of Green Gables: Benarkah Dunia Anne Tak Ramah Perempuan?
-
Menteri HAM Pigai: Aparat Selalu Bela Non-Papua, Rasisme Jadi Penghambat Keadilan di Papua!
-
Penggagas Entourage Bali yang Diskriminasi WNI Suka Pindah-pindah Negara Gegara Ini
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
Pilihan
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
Terkini
-
Ancaman Megathrust di Wisata Jateng, Sarif Abdillah Desak Hotel dan Destinasi Punya Standar Mitigasi
-
Bikin Bangga Indonesia! Inovasi Kelas Dunia Antarkan Semen Gresik Raih 4 Bintang di APQO 2026
-
BRI Raih Empat Penghargaan, Dorong UMKM Naik Kelas dan Makin Berdaya
-
Kembangkan Potensi Alam, Potret Desa Karangjengkol Purbalingga Raih Indonesia Awards 2026
-
Sempat Dihalangi Dampingi Puluhan Massa Aksi di Polda DIY, 34 Orang Akhirnya Dipulangkan