Kirnadi, salah seorang pemuda yang biasa berkumpul di rumahku di pinggiran Desa Papringan, Sleman, tidak sempat lari. Dia melepas kemeja dan menyambar sapu sambil memasang wajah dungu.
Dor..dor! Peluru dari senapan dimuntahkan ke udara. Para serdadu itu melompat turun dari truk. Salah seorang berteriak. “Semua keluar!”
Salah seorang petugas lari mendekati rumah. Matanya liar melihat kemana-mana. Dibentaknya Kirnadi, “Hai, kau! Apa kerjamu disini!”
“Kulo nderek Ibu, rencang Pak,” jawab Kirnadi gugup sambil tetap memajang wajah dungu.
Baca Juga: AHY Ceritakan Kesaksian Kakeknya yang Dikenal Sebagai Penumpas PKI
Tentara itu masuk rumah dan mengobrak-abrik perkakas. Membongkar isi lemari dan menendang kopor tua berisi kain. “Sarang apa ini!”
Salah satu anakku, Gunung diam di pojok serambi. Dia tampak tabah dan tidak takut. Matanya terbuka lebar mengawasi segerombolan serigala yang kalap menggeledah rumah.
“Kau naik ke truk!” bentak orang itu padaku. Aku pandangi anak-anak satu-persatu, dan hanya berucap, “Wis ya, cah.” Dan berjalan meninggalkan mereka tanpa menoleh lagi.
Aku tidak mencium mereka. Aku takut kalau aku menciumnya, aku akan menangis dan aku tak mau itu terjadi. Air mataku hanya untuk mereka yang kukasihi, bukan untuk diperlihatkan kepada mereka para jahanam yang bertindak kejam.
Bintara yang memegang bedil masih tinggal di serambi rumah. Dari atas truk kulihat dia bicara dengan anak-anak ku yang masih menggerombol di sudut halaman. Kemudian dia berseru, “Yang bernama Nasti turun!”
Baca Juga: Survei SMRC: 37 Juta Warga Indonesia Percaya PKI Akan Bangkit Lagi
Ternyata bintara itu menanyai anak-anak, siapa yang akan tinggal bersama mereka kalau ibunya ditahan. Agaknya dia iba melihat Rino, anakku yang ragil, dengan matanya yang bundar memandangi dirinya.
Berita Terkait
-
Subarkah Hadisarjana Ternyata Sosok di Balik Kesuksesan Film G 30 S/PKI
-
Disiapkan Tempat Sembunyi Neneknya, Ini Cerita Anies Baswedan Soal PKI
-
Babak Sejarah Indonesia yang Hilang, Penculikan Soekarno-Hatta oleh DN Aidit
-
Di Balik Ketenangan Pulau Dewata: Kisah Pilu dan Upaya Berdamai dengan Tragedi 1965
-
Profil Yunus Yosfiah, Jenderal TNI yang Melarang Penayangan Film G30S/PKI Sejak 1998
Terpopuler
- Kode Redeem FF SG2 Gurun Pasir yang Aktif, Langsung Klaim Sekarang Hadiahnya
- Pemain Keturunan Indonesia Statusnya Berubah Jadi WNI, Miliki Prestasi Mentereng
- Pemain Keturunan Indonesia Bikin Malu Raksasa Liga Jepang, Bakal Dipanggil Kluivert?
- Jika Lolos Babak Keempat, Timnas Indonesia Tak Bisa Jadi Tuan Rumah
- Ryan Flamingo Kasih Kode Keras Gabung Timnas Indonesia
Pilihan
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
-
Ranking FIFA Terbaru: Timnas Indonesia Meroket, Malaysia Semakin Ketinggalan
-
Duel Kevin Diks vs Laurin Ulrich, Pemain Keturunan Indonesia di Bundesliga
-
Daftar Lengkap 180 Negara Perang Dagang Trump, Indonesia Kena Tarif 32 Persen
-
Detik-detik Jose Mourinho Remas Hidung Pelatih Galatasaray: Tito Vilanova Jilid II
Terkini
-
Operasi Ketupat Candi 2025: Kapolda Jateng Kawal Kenyamanan Pemudik di Jalur Solo-Jogja
-
Terapkan Prinsip ESG untuk Bisnis Berkelanjutan, BRI Raih 2 Penghargaan Internasional
-
Pemudik Lokal Dominasi Arus Mudik di Tol Jateng, H+1 Lebaran Masih Ramai
-
Koneksi Tanpa Batas: Peran Vital Jaringan Telekomunikasi di Momen Lebaran 2025
-
Hindari Bahaya, Polda Jateng Tegaskan Aturan dalam Penerbangan Balon Udara