SuaraJawaTengah.id - Seorang perajin jamu tradisional, Gerisah, 58, asal Desa Mujur, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap, yang sudah berkecimpung lama dalam bisnis usaha jamu tradisional mengaku dimintai uang oleh oknum polisi berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) AW yang bertugas di Mabes Polri.
Ia mengisahkan awal mula didatangi oleh rombongan kepolisian pada Bulan Februari 2020 lalu.
"Saya itu didatangi Mabes 8 Februari ke rumah. Datang terus intinya barang yang ada, dibawa ke Mabes, sedikit sih ga banyak untuk barang bukti. Tawas (bahan baku jamu) sama yang sudah jadi mungkin ya 100 biji," katanya saat dihubungi Suara.com, Jumat (9/10/2020).
Ia juga turut serta dibawa menggunakan mobil oleh petugas kepolisian yang berjumlah empat orang. Namun dirinya tidak langsung menuju Mabes Polri. Karena takut jika sendirian, ia minta ditemani suaminya.
"Saya langsung dibawa naik mobil tujuannya ke Purwokerto dulu. Di Purwokerto itu di parkiran sebuah hotel di dalam mobil terus sampai jam 9 malam. Saya dikasih makan, tapi dimakan di dalam mobil," ujarnya.
Hingga akhirnya setelah lewat jam 21.00 WIB, dirinya dipindahkan ke dalam bus untuk dibawa ke Mabes Polri. Ada empat perajin jamu dalam satu rombongan, namun dirinya tidak mengetahui siapa saja karena dipisah satu sama lain.
"Sejak di dalam bus itu dipisah, ada yang di belakang ada yang di tengah, mencar. Tidak ngobrol satu sama lain," jelasnya.
Saat di Mabes Polri ia langsung di bawa ke sebuah ruangan di lantai 7. Dari situlah proses pemerasan itu terjadi. Namun dirinya mengaku terjadi proses tawar menawar yang tadinya diminta sebanyak Rp1 miliar lebih.
Ia tidak secara langsung bertemu dengan oknum polisi yang memeras. Namun melalui seorang pengacara dari pihak kepolisian.
"Ya minta uangnya ceritanya, bisa nolongin saya dengan catatan ada uang. Terus sampai tawar menawar, tadinya sampai Rp1 miliar lebih tapi saya ga sanggup. Saya nawar sampai Rp100 apa 200 juta. Terus dijawab, 'waduh ga bisa kalau segitu bu'. Terus Rp 300 juta ga bisa, sampai Rp 500 juta juga masih ga bisa. Selama dua hari yang diomongin duit, duit, duit saling tawar menawar," lanjutnya.
Karena dirinya tidak memiliki uang sebanyak itu yang harus dibayar dalam jangka waktu hitungan hari, ia akhirnya harus mencari pinjaman ke saudara dan tetangganya.
"Ya ga sanggup, wong duit segitu. Saya vakum itu sudah 15 tahunan (bisnis jamu). Saya boro-boro segitu, Rp50 juta saja ga ada di ATM. Sempat jual apa saja itu lah. Terus tetangga mau beli sawah sudah jadi tinggal, anak-anak saya yang ngomong pokoknya pinjem dulu karena mama saya lagi kaya gini-gini. Terus saudara mau beli rumah di Bandung sudah tinggal bayar juga saya ngomong pinjam," tuturnya.
Ia mengaku, dirinya sudah memberi uang sebesar Rp700 juta secara bertahap sampai empat kali. Dikirim ke rekening atas nama pengacara dari pihak kepolisian.
Karena saat bertemu selama 2 hari di kantor tersebut dirinya terus ditanyakan perihal jaminan uang sebesar yang telah disepakati. Ia dijanjikan setelah memberikan uang akan menutup perkara yang sedang berjalan.
"Sana kasih embel-embel. Pokoknya ibu pulang dari sini tidak usah takut-takut buka saja lagi buat gantiin yang ini. Malah disuruh produksi lagi, aktifitas seperti biasa. Malah kasih contoh, si A si B si C sampai sekarang tetap masih jalan, jadi saya disuruh produksi lagi," ujarnya.
Berita Terkait
-
Menjawab Kritik Polisi Bahasa: Mengapa Kita Harus Berhenti Menganggap Bahasa Sedang Rusak
-
Gaya Kepemimpinan Merakyat Ahmad Luthfi Curi Perhatian Para Akademisi Ilmu Sosial dan Politik
-
Ahmad Luthfi Optimistis Investasi Jateng Tembus Rp110 triliun pada Akhir 2026
-
Nama Rektor Dicatut Kasus Penipuan Mahasiswa Baru, UI Lapor ke Polda Jateng
-
Geger di Ciamis, Pria ODGJ Bacok 2 Polisi, Berakhir Tewas Diamuk Warga
Terpopuler
- Wabup Syaefudin Ditahan karena Kasus Korupsi, Bupati Lucky Hakim Minta Maaf ke Pemilih
- Dingatkan Teddy Segera Akhiri Pidato, Prabowo: Letkol Ngatur Presiden
- Ajudan Gubernur Kaltim Masuk Desil 1 DTSEN, Mensos Buka Suara
- 4 Sunscreen Wardah untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas
- Tak Masuk Skuad Utama Persija, Kualitas Shayne Pattynama di Bawah Standar Shin Tae-yong
Pilihan
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
-
Polisi Bunuh Polisi karena Bully, Bharatu Valdo 4 Kali Didor dan Digorok Junior
-
Kamaruddin Simanjuntak Pengacara Brigadir J Meninggal Dunia di RS Pelni
Terkini
-
Lebih dari Pendidik, Guru PAUD dan TK Diharapkan Jadi Teladan Pembentukan Karakter Anak
-
Menaker Apresiasi Program Magang Nasional BRI, Buka Peluang Karier bagi Talenta Muda
-
BRI Gandeng Prodia, Hadirkan Promo Medical Check-Up hingga Pemeriksaan Genomics
-
Kisah Cucur Aulia, UMKM Binaan RB Rembang yang Sukses Mengangkat Jajanan Tradisional
-
Semarang Diprakirakan Cerah Berawan, Hujan Berpotensi Turun Sore Nanti