SuaraJawaTengah.id - Kasus kekerasan terhadap anak di Wonogiri meningkat selama masa pandemi Covid-19. Kejahatan seksual mendominasi penyebab kekerasan tersebut.
Dilansir dari Solopos.com, Dinas Sosial Kabupaten Wonogiri mencatat sejak Januari hingga September 2020 ada 26 kasus kekerasan terhadap anak.
Dari jumlah tersebut, 15 kasus disebabkan karena kejahatan seksual atau persetubuhan. Adapun faktor lainnya yakni pencurian dengan jumlah delapan kasus, pencabulan dua kasus dan laka lantas satu kasus.
Jumlah korban dalam kasus itu sebanyak 12 orang. Sedangkan jumlah pelaku sebanyak 14 orang. Dengan rincian berdasarkan jenis kelamin, 12 laki-laki dan 14 perempuan.
Jumlah kasus itu meningkat dibandingkan jumlah kasus pada 2019.Dinas Sosial Wonogiri mencatat terdapat 19 kasus kekerasan terhadap anak selama 2019.
Kasus Mulai Meningkat Pertengahan Maret
Adapun rincian penyebab beserta jumlah kasus yakni persetubuhan sebanyak lima kasus, sodomi enam kasus, penganiayaan dua kasus, pencurian dua kasus, penyalahgunaan Napza satu kasus dan laka lantas tiga kasus. Anak yang terlibat terdiri dari 14 laki-laki dan lima perempuan.
"Selama pandemi ini memang ada peningkatan kasus. Mulai awal pandemi, pertengahan Maret, kasus sudah mulai meningkat. Dari Januari hingga Februari itu hanya satu kasus. Selebihnya terjadi saat pandemi Covid-19," kata Pekerja Sosial (Peksos) Dinas Sosial Wonogiri, Rizki Cahya, mewakili Kadinsos Wonogiri, Kurnia Listiyarini, saat ditemui Solopos.com di ruang kerjanya, Jumat (23/10/2020).
Ia mengatakan sebelum pandemi pihaknya bersama tim hanya menangani satu hingga tiga kasus dalam setiap bulan. Saat ini mereka bisa menangani kasus lima hingga delapan kasus dalam setiap bulan.
Baca Juga: Rakit Bangkit Facebook Indonesia Ajak Masyarakat Beradaptasi dengan Pandemi
Menurut Rizki, faktor penyebab meningkatnya kasus kekerasan anak berawal dari handphone (HP) dan media sosial. Karena sejak pandemi, HP menjadi kebutuhan utama untuk belajar secara online. Selain itu aktivitas anak selama masa pandemi yang sedang tidak belajar di sekolah juga menjadi faktor utama.
Sebagian orang tua, kata dia, kurang melakukan pengawasan atau mengontrol aktivitas anak saat memainkan handphone. Mereka mampu membelikan HP untuk anaknya. Namun mereka tidak bisa mengoperasikan HP dan mengontrol apa yang dilakukan anak melalui HP.
"Saat anak memainkan HP, mungkin orang tua menganggapnya sedang digunakan untuk belajar. Namun, di sisi lain ternyata anak juga memanfaatkan HP untuk berhubungan atau berkomunikasi dengan lawan jenis," ungkap dia.
Berkenalan Melalui Media Sosial
Berdasarkan pengalaman Rizki mendampingi kasus anak, ketika anak berkenalan dengan orang lain melalui media sosial, rata-rata akan terjadi pertemuan. Setelah bertemu satu hingga dua kali, akhirnya terjadilah kasus kekerasan seksual.
"Kenalan dengan orang tidak dikenal melalui medsos. Kemudian diajak ketemuan mau, diajak nongkrong mau, akhirnya terjadi kekerasan seksual. Terkadang saat bertemu juga diajak minuman keras dan lain sebagainya. Dari pertemuan itu berdampak negatif terhadap anak," kata Rizki.
Berita Terkait
-
Dampak Pandemi, Jumlah Pekerja Migran di Banyuwangi Turun Drastis
-
Hari Sumpah Pemuda, Mengapa Ganjar Pranowo Dapat Kado?
-
Waspada! Libur Panjang Banjarnegara dan Sekitarnya Diprediksi Hujan Lebat
-
Komnas PA: Medan Peringkat Pertama Kasus Kekerasan Terhadap Anak
-
Kelaparan di Tengah Pandemi, Perhatikan Ini Saat Beri Bantuan Pangan
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- Biodata dan Agama DJ Patricia Schuldtz yang Resmi Jadi Menantu Tommy Soeharto
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
- 5 Sepatu Jalan Lokal Terbaik Buat Si Kaki Lebar Usia 45 Tahun, Berjalan Nyaman Tanpa Nyeri
- DPUPKP Catat 47 Hektare Kawasan Kumuh di Kota Jogja, Mayoritas di Bantaran Sungai
Pilihan
-
Purbaya Sebut Bisnis Sektor Media Cerah: Saham DIGI, TMPO, dan VIVA Langsung Ceria
-
Dari 'Kargo Gelap' Garuda ke Nakhoda Humpuss: Kembalinya Ari Askhara di Imperium Tommy Soeharto
-
Tanpa Bintang Eropa, Inilah Wajah Baru Timnas Indonesia Era John Herdman di Piala AFF 2026
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
-
Mengapa Purbaya Tidak Pernah Kritik Program MBG?
Terkini
-
Sebelum Dipulangkan Syafiq Ali Pendaki Hilang di Gunung Slamet akan Diautopsi di Pemalang
-
9 Fakta Mengerikan di Balik Kerusuhan Iran: Ratusan Tewas, Ribuan Ditangkap, dan Ancaman Militer AS
-
Suzuki Karimun 2015 vs Kia Visto 2003: Pilih yang Lebih Worth It Dibeli?
-
Banjir Lumpuhkan SPBU Kudus, Pertamina Patra Niaga Sigap Alihkan Suplai BBM Demi Layanan Optimal
-
Semen Gresik Gaungkan Empowering Futures sebagai Landasan Pertumbuhan dan Keberkelanjutan