“Dulu satu bulan bisa jual 1-2 ekor, tergantung stok. Kalau punya stok 10 ekor bisa habis semua dalam 2 sampai 3 bulan. Musim seperti ini, belum tinggi lagi peminatnya.”
Saat ini Wawan memiliki stok anakan musang usia 6 bulan sebanyak 3 ekor. Stok musang usia di bawah 2 bulan ada 7 ekor.
Dia menjual anakan musang melalui grup jual-beli di Facebook atau dari mulut ke mulut sesama hobies. Kebanyakan dijual ke Jakarta, Surabaya, bahkan sampai Bali.
“Paling jauh (kirim) ke Bali. Ke luar pulau selain Bali, belum berani. Lewat darat, perjalanannya terlalu jauh,” kata Wawan.
Paling mahal Wawan pernah menjual seekor musang mozaik hasil penangkaran seharga Rp 17 juta. Menghasilkan musang pandan berbulu mozaik terbilang sulit, karena warn bulunya didapat dari kelainan genetis.
Musang mozaik dihargai mahal jika kaki belakang dari pergelangan sampai paha berbulu putih. Warna ekor, putih memanjang sampai ke pinggang. Bulu pada muka musang juga putih sampai ke leher.
Musang juara kontes juga otomatis akan mendongkrak harga jualnya. Penilaian kontes dilihat dari postur, warna bulu, kesehatan, serta tanpa cacat tubuh.
Jika taring musang dipotong, otomatis penilaiannya akan berkurang. “Musang obesitas tidak boleh ikut kontes. Kasihan kalau dibawa pergi jauh bisa mati kepanasan.”
Selain untuk tujuan bisnis, penangkaran musang pandan milik Wawan juga menjadi sarana wisata edukasi. Banyak wisatawan datang untuk melihat proses penangkaran musang.
Baca Juga: Tak Memenuhi Syarat, 60 Formasi CPNS Pemprov Jateng Tidak Terisi
Seperti Ardi Putra, wisatawan asal Jakarta yang sedang berlibur di Magelang bersama keluarganya. Dia tertarik melihat penangkaran musang yang selama ini diketahuinya hanya berkembang biak di alam.
“Ada unsur pelestarian alam juga. Jadi nggak diburu secara liar di alam yang mungkin ditangkap bukan untuk dibudidayakan tapi hanya untuk dijual,” kata Ardi.
Mahasiswa salah satu perguruan tinggi di China ini, juga mengaku tertarik mempelajari hidup musang pandan tanpa harus datang ke alam liar. “Kita dapat edukasi mereka makannya apa, habitatnya, cara budidayanya.”
Penangkaran salah satunya juga untuk mengurangi jumlah penangkapan liar musang di alam. Kebanyakan musang yang didapat dari alam ditangkap saat masih kecil.
Padahal musang rentan mati jika ditangkap oleh orang yang tidak berpengalaman. “Memelihara musang dari kecil bisanya agak susah hidup kalau tidak tahu penangananya,” kata Wawan menutup obrolan kami siang itu.
Kontributor : Angga Haksoro Ardi
Berita Terkait
-
Ini Sejumlah Surat Krusial Penolakan Pembangunan Gereja di Sukoharjo
-
Ditutup Gegara Dangdutan, Tempat Wisata dan Hiburan Kota Tegal Dibuka Lagi
-
Kegiatan Gereja Mojolaban Berhenti, Ketua RT: Seharusnya Tetap Berjalan
-
Waspada! Hujan Lebat Mengancam, Banjir Terjadi di Banyumas
-
Percobaan Bunuh Diri Ayah dan Anak, Diduga Karena Depresi Pandemi Covid-19
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
Pilihan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
Terkini
-
Jaga Sumber Air dari Hulu hingga ke Hilir, AMDATARA Tanam 250 Mangrove di Pesisir Jateng
-
Perempuan Berkebutuhan Khusus Tewas Terpanggang saat Rumahnya Terbakar
-
Kiper Juara Liga 1 Merapat! PSIS Semarang Datangkan Reky Rahayu
-
121 Juru Parkir Semarang Menunggak Setoran, PAD Rp280 Juta Terancam Melayang
-
Kualitas Aset Membaik, JPMorgan Naikkan Rekomendasi Saham BBRI Menjadi Overweight