SuaraJawaTengah.id - 6 Januari 1984 sekira pukul 10.00 WIB menjadi pagi mencekam tak terlupakan bagi rakyat Desa Karangwangkal, yang saat itu masih masuk daerah administratif (asisten) Kecamatan Kebumen. Pasalnya kepala desa setempat, Amiredja alias Achmad Jaelani bersama ketiga perangkatnya meregang nyawa tertembus peluru senapan jenis Lee-Enfield (LE) oleh sekelompok serdadu Belanda dalam Agresi Militer Belanda II.
Pemerhati Sejarah dan Kebudayaan, Bambang Wadoro (61) yang juga merupakan warga setempat mengisahkan berdasar catatan lengkap yang ia dapat dari kesaksian warga saat itu.
"Warga yang saya mintai informasi tersebut sudah meninggal. Tapi yang jelas warga sini telah mengakui Achmad Jaelani sebagai Pahlawan Kusuma Bangsa berkat pengorbanannya," kata Bambang Wadoro yang akrab disapa Bador, Sabtu (7/11/2020) malam.
Berdasarkan dokumen yang ia tulis, pada saat itu satu pleton Tentara Belanda yang berjumlah 36 orang masuk ke wilayah Desa Karangwangkal. Mereka mencari keberadaan Mashud dan Sugriwo, Tentara Republik Indonesia (TRI) yang sedang bersembunyi di wilayah setempat saat sedang bergerilya.
Warga dan perangkat desa sebelumnya telah sepakat untuk menyembunyikan informasi keberadaan prajurit TRI tersebut. Namun karena Tentara Belanda telah mencium informasi penting ini, mereka kembali datang dan menanyakan persembunyian tentara Gerilya.
Achmad Jaelani yang merupakan Kepala Desa Karangwangkal pertama sejak Indonesia merdeka di bawah kepemimpinan presiden Soekarno-Hatta menjadi sosok yang paling bertanggung jawab.
Menurut dokumen yang ditulis oleh Bador, saat itu Mashud dan Sugriwo merupakan anak buah Pudjadi Djaring Banda Yuda yang tengah bergerilya di wilayah Purwokerto. Namun karena keberadaannya sangat dicari Belanda mereka berpencar. Mashud, adalah warga asli Desa Karangwangkal kemudian mengajak rekannya Sugriwo untuk bersembunyi.
Keberadaan Mashud dan Sugriwo diketahui keberadaannya setelah adanya anggota Tentara Gabungan yang tertangkap, kemudian diinterogasi untuk mengaku bahwa di Desa Karangwangkal ada TRI. Ia yang terus menerus dipukuli akhirnya memberikan informasi keberadaan Mashud dan Sugriwo.
Achmad Jaelani, yang sebenarnya sejak jauh-jauh hari sudah mengetahui akan kedatangan tentara Belanda, bersikukuh bahwa Mahmud dan Sugriwo tak ada di Karangwangkal. Ia sudah memperhitungkan, kebungkamannya dapat berdampak fatal menyulut kemarahan Belanda sehingga membumi hanguskan Karangwangkal dan membantai warga seperti di beberapa daerah yang pernah ia dengar. Ia yang terus ditekan untuk memberikan informasi, tetap teguh pada pendiriannya menjaga rahasia keberadaan TRI yang sedang bergerilya.
Baca Juga: Dear Guru dan Nakes, KAI Sediakan Tiket Gratis, Begini Cara Dapatnya
"Ia memerintahkan agar warga terutama perempuan dan anak-anak agar mengungsi ketempat lain. Namun ia bersama perangkatnya memutuskan utnuk tetap bertahan di Karangwangkal menghadapi Tentara Belanda," jelas Bador.
Tentara Belanda yang saat itu di bawah komando pasukan Letnan Vanderplas sudah kehilangan kesabarannya, kemudian menyebar mengelilingi desa dengan formasi leter O. Subuh hari, setelah mengelilingi desa, sebagian tentara masuk ke rumah Achmad Jaelani selaku lurah serta ke rumah pamong-pamong desa lain.
Malangnya, di rumah kediaman Carik Karangwangkal, Sanwiredja pada saat itu, Tentara Belanda tidak sengaja menemukan secarik surat di saku kemeja. Surat itu berbunyi pemberitahuan bahwa Desa Karangwangkal akan diperiksa oleh Tentara Belanda. Apesnya, surat tersebut terbaca jelas bersumber dari TRI.
"Kira-kira pukul 10.00 WIB, empat Pamong desa diputuskan untuk diadili dengan cara ditembak mati di jalan desa di hadapan beberapa warga. Jaelani menjadi korban pertama yang ditembak dengan senjata LE sebanyak dua kali. Menyusul kemudian tiga bawahannya," kata Bador.
Atas jasa beliau lah kemudian nama Achmad Jaelani diabadikan menjadi nama jalan kabupaten di wilayah Kelurahan Karangwangkal, Kecamatan Purwokerto Utara, Kabupaten Banyumas.
Warga sampai saat ini pun masih rutin menggelar upacara penghormatan tiap tanggal 17 Agustus di makam Achmad Jaelani di tempat pemakaman umum Kelurahan Karangwangkal.
Berita Terkait
-
11 Pahlawan Nasional Asal Sulawesi Selatan, Ada Mantan Bajak Laut
-
Peringati Hari Pahlawan & Hari Ayah Nasional 2020, Ancol Gelar Acara Seru
-
Melihat Pentas Drama Teatrikal Perjuangan di Sea World
-
Daftar Kereta Api dari Jakarta yang Gratis Buat Guru dan Nakes
-
10 Tahun Warga Sulsel Menanti Gelar Pahlawan Nasional
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
Pilihan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
Terkini
-
Jaga Sumber Air dari Hulu hingga ke Hilir, AMDATARA Tanam 250 Mangrove di Pesisir Jateng
-
Perempuan Berkebutuhan Khusus Tewas Terpanggang saat Rumahnya Terbakar
-
Kiper Juara Liga 1 Merapat! PSIS Semarang Datangkan Reky Rahayu
-
121 Juru Parkir Semarang Menunggak Setoran, PAD Rp280 Juta Terancam Melayang
-
Kualitas Aset Membaik, JPMorgan Naikkan Rekomendasi Saham BBRI Menjadi Overweight