SuaraJawaTengah.id - Pandemi Covid-19 menyebabkan petani salak di lereng Gunung Merapi kesulitan ekspor. Selama pandemi, banyak negara lain menutup pintu impor.
Kesulitan ekspor diakui Marji, petani sekaligus pengepul salak di Dusun Soko, Desa Ngargosoko, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang. Srumbung dikenal sebagai salah satu sentra perkebunan salak di Magelang.
Menurut Marji, sejak Corona mulai mewabah sekitar Maret 2020 baru 4 kali melakukan ekspor ke Thailand dan Kamboja. Padahal sebelumnya, dia bisa mengirim salak ke luar negeri sebanyak 2 kali seminggu.
“Kiriman ke Thailand, Kamboja, dan Singapura. Iya kendalanya Corona ini. Terkendala Corona ini sudah beberapa bulan,” kata Marji saat ditemui di tempat pengepulan salak, Rabu (18/11/2020).
Selama pandemi Covid-19, Marji mengaku pernah satu kali gagal ekspor ke Tiongkok. Eksportir buah ke luar negeri wajib memiliki Sertifikat Produk Prima-3 sebagai syarat makanan aman dikonsumsi.
Beruntung, Marji masih bisa menjual salaknya di pasaran lokal. Selain dijual disekitar Magelang dan Yogyakarta, salak dari Srumbung ini juga dijual hingga ke Kalimantan.
“Kirim ke Kalimantan seminggu 2 kali, setiap hari Minggu dan Rabu. Sekali kirim 1,5 ton. Nanti dikemas dalam peti, setiap peti berisi 50 kilogram. Sekali kirim biasanya 33 peti.”
Marji membeli salak dari petani dengan kisaran harga Rp2.200-Rp2.500 per kilogram. Dia mengambil keuntungan dari selisih harga jual sekitar Rp500 per kilogram.
Sebelum dikemas dalam peti, salak dibersihkan dan disortir. Hanya salak berukuran besar yang layak jual ke luar daerah. Salak ukuran kecil biasanya dijual di pasar tradisional sekitar daerah saja.
Baca Juga: Mayat Tanpa Busana Ditemukan di Kawasan Wisata Gunung Salak, Diduga ODGJ
“Kami sortir yang kecil-kecil. Yang rusak atau busuk, kami sisihkan untuk pakan sapi. Dibuang kulit dan bijinya. Sapi punya kami sendiri. Iya sapinya mau,” kata Marji.
Saat ini Marji bargabung dalam Kelompok Tani Suko Raharjo. Untuk pengiriman salak ke luar negeri seperti ke Thailand, kelompok tani bekerjasama dengan petani dan pengepul dari Turi, Sleman, Yogyakarta.
Kontributor: Angga Haksoro Ardi
Berita Terkait
-
BPS : Ekspor Sektor Pertanian pada Oktober Tumbuh 23,8 Persen
-
Data BPS : Ekspor Naik di Oktober 2020 Tapi Impor Ambles 6,79 Persen
-
Wujud Syukur, Warga Punthuk Setumbu Gelar Sedekah Bumi
-
Pawon Luwak Coffee Jaga Kualitas Kopi Tradisional untuk Edukasi
-
Sepakati Perjanjian Dagang 14 Negara, Apa Keuntungan Indonesia?
Terpopuler
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
- 6 Shio Paling Beruntung pada 23 Juli 2026, Keberuntungan Memihak
- 5 Warna Lipstik Wardah untuk Bibir Hitam dan Kulit Sawo Matang
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Hari Anak Nasional, SD di Temanggung Perangi Kecanduan Gadget Lewat Permainan Tradisional
-
Minta Rp4 Juta lalu Sita HP Korban! Modus Polisi Gadungan Terbongkar di Banyumas
-
Siap War Tiket! Indomaret Fun Run 2026 Bakal Ramaikan Gaya Hidup Sehat Warga Semarang
-
Bupati Cilacap Nonaktif Segera Diadili Kasus Dugaan Korupsi THR
-
BRI x REI Expo Semarang 2026 Tawarkan Promo KPR Bunga Mulai 1,75%, Wujudkan Rumah Impian