SuaraJawaTengah.id - Pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan tumbuh di angka 5 persen oleh pemerintah nampaknya akan sulit tercapai. Terlebih hingga saat ini pandemi masih berlangsung.
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad mengungkapkan tahun 2021 ekonomi Indonesia paling maksimal tumbuh hanya 3 persen.
Banyak faktor kata Tauhid yang menyebabkan pertumbuhannya hanya 3 persen, salah satunya adalah konsumsi kelas menengah atas yang masih cukup rendah.
"Tahun depan perekonomian hanya akan tumbuh 3 persen, karena kelompok menengah atas belanjanya masih tertahan akibat pandemi," kata Tauhid dalam sebuah diskusi bertajuk 'Proyeksi Ekonomi Indonesia 2021' secara virtual, ditulis Selasa (24/11/2020).
Tauhid menjabarkan, selama pandemi Covid-19, jumlah tabungan masyarakat kelas menengah ke atas di perbankan tumbuh pesat sedangkan jumlah kredit turun, ini mengindikasikan bahwa belanja kelompok menengah atas masih jauh dari harapan.
Dimana kata Tauhid pertumbuhan kredit pada tahun depan hanya akan berkisar 5 sampai 6 persen, dimana sebelum adanya pandemi pertumbuhan kredit selalu double digit.
Sebelumnya Bank Indonesia (BI) mengumumkan pertumbuhan kredit bank hanya sebesar 0,12 persen secara bulanan pada September 2020. Sebaliknya, laju Dana Pihak Ketiga (DPK) melejit ke 12,88 persen pada bulan yang sama.
BI mencatat pertumbuhan kredit bank terus melambat dari bulan ke bulan. Pada September kemarin merupakan titik terendah laju kredit bank tahun ini. Sebelumnya, pertumbuhan kredit berada di kisaran 1,04 persen pada Agustus 2020.
"Wajar juga dengan Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan 25 BPS menjadi 3,75 persen ini untuk mengantisipasi penurunan laju kredit perbankan," ucapnya.
Baca Juga: Pemulihan Ekonomi Pasca Pandemi Harus Fokus Pada Keberlanjutan
Sehingga kata dia faktor-faktor tersebut cukup menghantui pergerakan ekonomi pada tahun depan, dimana pertumbuhannya ditaksir hanya bisa mencapai 3 persen.
"Sehingga kami melihat di tahun depan laju kredit turut masih menghantui pertumbuhan ekonomi yang belum normal,” pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Indosat Perkuat 5G di Semarang, Cakupan Capai 96 Persen, UMKM hingga Pengguna AI Jadi Sasaran
-
Tiga Insiden Terjadi di Porprov Jateng, KONI dan Panitia Evaluasi Prosedur Keselamatan Atlet
-
Viral Atlet Silat Kejang di Porprov Jateng, Wasit Dinilai Belum Berpengalaman
-
Jelang Akhir Tahun, Wakil Ketua DPRD Jateng Wanti-wanti Ancaman Kelangkaan dan Antrean BBM
-
Hati-hati! Wakil Ketua DPRD Jateng Peringatkan Bahaya Bullying di Sekolah