SuaraJawaTengah.id - Salah satu tempat para supir angkutan untuk mangkal di kawasan Johar Lama, Kota Semarang benar-benar lenggang. Puluhan mobil angkutan berbaris rapi di sisi jalan, tanpa penumpang.
Sudah berbulan-bulan nasib angkutan di Kota Semarang berada di titik yang memprihatinkan. Bagaimana tidak, tak jarang dalam sehari supir angkut terpaksa hanya membawa lelah dan keringat saat pulang.
Hal tersebut tak lain karena imbas dari pandemi Covid-19 yang berdampak pada penurunan jumlah warga yang naik kendaraan umum.
Supir angkot Semarang, Nurul Mukminin (46) mengatakan, untuk menambal kebutuhan keluarga dia terpaksa bekerja menjadi kuli bangunan. Lantaran, penghasilannya menjadi tukang bangunan tak dapat diandalkan.
"Ya saya tambal dengan menjadi kuli bangunan untuk mensyukuri kebutuhan keluarga," jelasnya di kawasan Johar Lama, Jumat (9/1/2020).
Sudah 15 tahun lebih dia menjadi supir angkutan namun kondisi saat ini merupakan kondisi yang paling parah. Pernah suatu hari dia tak mendapatkan satupun penumpang. Jika mengingat hal itu, dia benar-benar sedih.
"Iya pernah satu hari itu saya tak dapat penumpang, kalau ingat itu sedih saya," katanya.
Rata-rata, dalam satu hari dia bisa mendapatkan penumpang umum tiga orang. Kadang-kadang juga dia mendapatkan rombongan karyawan pabrik yang ada di daerah sekitar Mangkang.
Namun, untuk mendapatkan rombongan karyawan pabrik harus berjibaku dengan waktu. Ia menyebut "untung-untungan. Hal itu disebabkan supir angkut yang lain juga ingin mendapatkan rombongan karyawan tersebut.
Baca Juga: Dara Rafika Ngaku Tak Tahu Chacha Sherly Alami Kesulitan Ekonomi
"Maklumlah kan memang itu yang banyak ya. Kalau karyawan pabrik isi angkutan ini bisa full. Bisa sampai 12 orang. Namun kan jarang-jarang," katanya.
Apalagi, dengan adanya kebijakan baru pemerintah untuk memberlakukan PSBB Jawa-Bali mulai 11-25 Januari 2021 nanti, Nurul belum bisa memikirkan apa yang akan dia lakukan.
"Iya mau jalan ya ragu-ragu. Takut nanti kalau PSBB tak ada penumpang. Namun kalau tak kerja mau makan apa keluarga. Jadi serba bingung saya," ucapnya.
Di termasuk beruntung karena bos yang mempunyai mobil angkutan baik. Biaya untuk setorannya dikurangi. Hal itu disebabkan, jumlah penumpang benar-benar turun.
"Ya Alhamdulillah biaya setoran dikurangi, dia tau kalau jumlah penumpang turun drastis. Jika dia hitung berkurang sekitar 80 persen," imbuhnya.
Hal senada juga disampaikan supir angkutan lain, Spritanto (52). Selama pendemi penghasilannya benar-benar turun. Dia hanya mengandalkan carter mobil untuk rombongan nikahan maupun acara yang lain.
Berita Terkait
Terpopuler
- Parfum Paling Wangi Rasa Apa? Ini 5 Rekomendasi Aroma yang Populer
- 5 Rekomendasi Lipstik Wardah untuk Usia 40-an yang Elegan, Nyaman di Bibir dan Awet
- 5 HP Samsung Galaxy A Series Termurah: Layar Super AMOLED, 5G hingga NFC
- Pesaing Vario 125 dari Yamaha, Tampang Bernuansa R1M
- 5 Parfum Wanita Terbaik untuk Acara Malam, Wanginya Elegan dan Memikat
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Cluster Beverly Hills Resmi Show Unit, Tawarkan Hunian American Classic di Semarang
-
Unik! PKB Jateng Rayakan Harlah dengan Nobar Final Piala Dunia 2026
-
Tren Ngopi Bertahan di Tengah Tekanan Ekonomi, Pelaku F&B Didorong Ciptakan Menu Bernilai Tambah
-
Perwaris Sesalkan Aksi Persekusi Serang 'Boti', di Semarang Mereka dapat Ruang Nyaman
-
Lewat Kerja Sama LoI Dengan KDEI, BRI Taipei Dorong Literasi Keuangan Pekerja Migran