SuaraJawaTengah.id - Kota Solo sebentar lagi akan memiliki Wali Kota dari tokoh anak muda atau milenial. Ia adalah Gibran Rakabuming Raka.
Putra sulung Presiden Joko Widodo itu akan dilantik menjadi Wali Kota Solo pada pertengahan Februari mendatang.
Bisa kita lihat bersama, Jokowi orang tua dari Gibran merupakan tokoh yang pernah sukses memimpin Kota Solo. Jokowi yang merupakan pengusaha mebel itu menerapkan politik makan siang dan blusukan saat menyelesaikan masalah di Solo.
Akankah Gibran meniru ayahnya? atau malah dengan politik yang keras seperti gaya Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada waktu memimpin Jakarta?
Analis politik Agus Riewanto, menilai Kota Solo tidak tepat jika dipimpin dengan keras seperti ahok. Maka dari itu, Gibran yang berlatar belakang pebisnis diwanti-wanti supaya jangan menirunya setelah nanti resmi memimpin Surakarta.
"Solo tidak pas dengan gaya kepemimpinan egaliter, menganggap semua orang sama. [Metode Ahok] Tidak pas, tidak bisa di Solo. Gibran justru harus belajar dari bapaknya sendiri [Jokowi] dan Rudy," kata Agus dilansir dari Suarasurakarta.id Sabtu, (30/1/2021).
Dalam hal komunikasi politik, Gibran lebih disarankan banyak belajar dari pengalaman memimpin dari bapaknya, Joko Widodo, dan F. X. Hadi Rudyatmo.
Jokowi dan Rudy disebut Agus tipe pemimpin yang tidak gemar beretorika, tetapi amat suka bertindak dan mendengar aspirasi warga. Komunikasi politik Gibran dinilai perlu dipupuk terus.
"Saya lihat komunikasi politiknya belum baik. Bagaimana ia berkomunikasi dengan media, bagaimana berkomunikasi dengan kelompok, masih sangat kaku," ujarnya dalam wawancara dengan Solopos.com, jaringan Suara.com.
Baca Juga: Ruas Tol Sragen Kembali Memakan Korban, Kini Mobil Lazismu Jepara Terguling
Sebagai tokoh yang dianggap mewakili milenial, Gibran disarankan untuk tekun belajar unggah-ungguh orang Jawa, termasuk pemilihan diksi dalam komunikasi. Dia juga disarankan untuk mengesampingkan ego sebagai anak muda terpelajar.
"Birokrasi pemda itu adalah mesin yang akan menggerakkan program-program Gibran. Maka harus bisa lebih andhap asor, nguwongke figur birokrasi," kata dia.
"Tidak boleh lagi sebagai anak muda merasa paling tahu dari yang lain."
Soal konsep kepemimpinan Jawa, menurut Agus, tidak bisa lepas dari setiap wali kota. Yang akan membedakan adalah visi, misi, dan tekad untuk mewujudkan kemajuan kota.
"Pada konteks langgam kepemimpinan Jawa itu khas, tidak bisa lepas. Tetap harus dilakukan Gibran. Yang nanti menjadi pembeda dia dengan para pendahulunya pada tataran visi, misi, dan tekad untuk kemajuan kota. Gibran sudah kemana-mana, wawasan luas, penguasa teknologi, kemampuan memahami konsep ekonomi dunia," ujarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- WNI Tentara Bayaran Rusia, Rendi Apriyanto Sempat Kirim Duit ke Ortu Tapi Rekening Diblokir
- 5482 Korban Keracunan MBG, Viral Ucapan Wapres Gibran: Bawa Bekal dari Rumah, MBG Jangan Dimakan
- Kekayaan Jusuf Hamka yang Dilaporkan Hary Tanoesoedibjo ke Polisi
- Jaksa Agung Burhanuddin Muncul di Istana, Bantah Bakal Dilantik jadi Jampidum
- 3 Sepatu Lokal Paling Nyaman dan Empuk untuk Jalan Terbaik Menurut Review
Pilihan
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
-
Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan
Terkini
-
Dukung MotoGP Mandalika 2026, BRI Dorong Perputaran Ekonomi hingga UMKM Lokal
-
Polresta Solo Siapkan 350 Personel Amankan Laga Persis Solo vs Kendal Tornado FC
-
Dukung Atlet Indonesia di Panggung Dunia, BRI Perkuat Komitmen terhadap Olahraga Nasional
-
Kualitas Udara Sekitar TPA Jatibarang Tak Memenuhi Syarat, SO Tembus 258,26 g/m
-
Bukan Cuma Lembaga Keuangan, Luthfi Dorong Ekonomi Syariah Jateng Masuk ke UMKM