SuaraJawaTengah.id - Terawan Agus Putranto beberapa kali menjadi perbincangan publik karena profesinya sebagai dokter, dan saat menjabat menteri kesehatan. Kali ini namanya kembali mencuat, usai kedapatan menggagas vaksin nusantara.
Vaksin Nusantara, digagas Terawan saat menjabat sebagai menteri kesehatan. Upayanya itu adalah ingin membuat vaksin buatan anak dalam negeri sendiri.
Namun demikian, kehadiran vaksin nusantara besutan Terawan itu membuat pro kontra dari ilmuan maupun praktisi kesehatan yang ada di Indonesia. Padahal, vaksin nusantara diklaim menjadi vaksin Covid-19 termurah di Indonesia bahkan di Dunia.
Kehadiran Vaksin Nusantara seharusnya menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia. Tapi entah kenapa terdapat beberapa orang ingin pengembangan vaksin Nusantara ini dihentikan.
Tidak sekali ini saja, Terawan juga pernah mendapatkan pertentangan dan dikeluarkan dari IDI gegera menemukan metode cuci otak untuk menyembuhkan penyakit struk.
Namun, dibalik kontroversialnya itu, hingga sekarang belum ada laporan korban dari praktik-praktik kesehatan dari dokter pensiunan TNI tersebut.
Epidemiolog UI minta pengembangan Vaksin Nusantara dihentikan
Dilansir dari Ayosemarang.com, ( Epidemiolog Universitas Indonesia, Pandu Riono berpandangan, vaksin nusantara yang mengandung vaksin dendritik, sebelumnya banyak digunakan untuk terapi pada pasien kanker yang merupakan terapi yang bersifat individual.
Menurut Pandu, untuk imunoterapi kanker bukan karena setiap orang diberi jumlah sel dendritik, tetapi karena setiap orang sel dendritik-nya bisa mendapat perlakuan yang berbeda. Dalam hal ini yang disesuaikan adalah perlakuan terhadap sel dendritik tersebut.
Baca Juga: Pembuatan Vaksin Nusantara Besutan Terawan Hanya Butuh Waktu Seminggu
"Jadi pada imunoterapi kanker sel dendritik tetap diberi antigen, tetapi antigennya bisa dari tumornya dia sendiri. Karena itu sifatnya personal," kata Pandu dihubungi di Jakarta, Sabtu (20/2/2021).
Terkait hal itu, Pandu memberikan dua catatan. Pertama, membandingkan perbedaan sel dendritik pada terapi kanker dengan vaksin dendritik. Bahwa untuk terapi kanker sel dendritik tidak ditambahkan apa-apa, hanya diisolasi dari darah pasien untuk kemudian disuntikkan kembali kepada pasien tersebut.
"Sementara, pada vaksin, sel dendritik ditambahkan antigen virus," ujarnya.
Kedua, bahwa sel dendritik perlu pelayanan medis khusus karena membutuhkan peralatan canggih, ruang steril, dan inkubator CO2, dan adanya potensi resiko.
Dengan demikian, sangat besar risiko, antara lain sterilitas, pirogen (ikutnya mikroba yang menyebabkan infeksi), dan tidak terstandar potensi vaksin karena pembuatan individual.
"Jadi, sebenarnya sel deindritik untuk terapi bersifat individual, dikembangkan untuk terapi kanker. Sehingga tidak layak untuk vaksinasi massal," tegas Pandu.
Berita Terkait
Terpopuler
- Andre Taulany Resmi Nikahi Amanda Rigby, Mantan Istri Erin: Hamil Duluan Kali
- Kiai Sahal Gontor ke Prabowo: Saya Ngomong Agak Tidak Enak, Sorry ye...
- Erin Taulany Klarifikasi Soal Komentar Hamil Duluan: Sumpah Demi Allah Akun Saya Dibajak
- Viral Video Ulama Houthi Serukan Serangan ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
- 6 HP Samsung Terbaik 2026! Mulai dari Kelas Flagship Hingga Entry-level
Pilihan
-
Merumuskan Kembali Bisnis Media Masa Depan di Local Media Summit 2026
-
KPK OTT Bupati Bolaang Mongondow Utara Sirajudin Lasena
-
KPK Geledah Rumah Mewah Polisi Yayat Sudrajat di Depok, Terkait Kasus Suap Bekasi
-
Silmy Karim Kritik KPK! Bandingkan Nasibnya dengan Nusron Wahid
-
Perang Dunia III Nyaris Meledak! AS Mau Serang Kapal China Ternyata AI-nya Salah
Terkini
-
Tuntutan 8,5 Tahun Bikin Suasana Sidang Sudewo Memanas, Pendukung Ricuh
-
Dua Laga Nirgol, Fikron Afriyanto Ungkap Kunci Kokohnya Pertahanan Kendal Tornado FC
-
Jaksa Tuntut Sudewo 8,5 Tahun Penjara, Suap DJKA hingga Pemerasan Jabatan Desa
-
Nongkrong Seharian di Blok M Hub Makin Seru Bareng BRIZZI ARKIV
-
Basecamp Nyaman Sebelum ke Dieng, Ini 3 Hotel di Kota Wonosobo dengan Alat Pemanas