SuaraJawaTengah.id - Di Dukuh Baran Kiringan, Desa Samirejo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus terdapat Masjid Jami Manarul Huda. Tempat ibadah ini dahulunya didirkan oleh salah satu penyebar agama Islam berjuluk Kiai Udan Panas.
Tidak seperti masjid kebanyakan, di masjid ini juga dijumpai Menara Kudus yang menyerupai Menara Kudus di kompleks Masjid Makam Menara Sunan Kudus turut Desa Kauman.
Bahkan dari segi bentuk dan arsitektur, Menara Kudus versi Masjid Jami Manarul Huda ini, memiliki kemiripan hampir 100 persen dari bangunan aslinya.
Tokoh Masyarakat Samirejo, Noor Habib mengatakan, tiruan Menara Kudus itu dibuat pada tahun 1999.
Setelah sang nadzir masjid bernama Kiai Ahmad Musa Maulani, saat itu berkeinginan untuk tabarukan kepada Syekh JA’far Shodiq atau yang lebih dikenal dengan Sunan Kudus.
“Selang beberapa tahun karena terinspirasi oleh masjid dan juga tabarukan (ngalab berkah) Mbah Sunan Kudus, maka didirikan lah menara di sini,” ujar Noor, Rabu (21/4/2021).
Pembangunan menara ini sendiri, sedikitnya menghabiskan dana Rp100 juta hasil swadaya masyarakah Dukuh Baran Kiringan.
“Semuanya dikerjakan warga sini. Mustaka menara itu kebetulan saya yang diminta meletakkan. Untuk bata merah agar mirip dengan aslinya kita cari bata pilihan dari daerah Jepang,” ujarnya.
Pihaknya sempat kewalahan saat mencari piringan keramik untuk ditempel di menara agar mirip aslinya. Akhirnya setelah melalui perburuan, replika benda tersebut didapatkan di Kecamatan Juwana, Pati.
Baca Juga: BPBD Kudus Imbau Msyarakat Waspadai Angin Puting Beliung
“Kita juga cari jubin-jubin lama. Kalau struktur bangunan dengan Menara Kudus yang ada, wong kita niatnya tabarukan maka kita buat sedetail dan sepersis mungkin,” jelasnya.
Hanya saja, lanjut Noor, karena luas tanah di kompleks masjid relatif tidak mencukupi untuk dibuat seperti ukuran Menara Kudus asli. Maka untuk ukuran duplikat menara ini, sedikit diperkecil.
“Karena tanahnya sempit. Menara ini memiliki ketinggian sekitar 12 meter dengan lebar 9 meter. Memang kemiripan tidak sampai 100% , paling sekitar 90% kita bisa jamin,” ungkapnya.
Menengok kebelakang, masjid ini didirikan kali pertama oleh Kiai Udan Panas yang bernama asli Kiai Abdullah Asyi Bin Abdi Syakur. Seorang wali sekaligus salah satu pendiri desa tersebut.
“Masjid ini tidak lepas dari Mbah Kiai Udan Panas, karena masjid ini satu-satunya peninggalan beliau,” terangnya.
Kiai Abdullah mendapatkan julukan Kiai Udan Panas karena saat mendirikan desa terjadi fenomena hujan dan panas yang silih-berganti dan terus-menerus.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
- 5 Sepatu Lari di Bawah Rp500 Ribu di Sports Station, Performa Nyaman Sesuai Review
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Ruang Kelas SDN Sendangmulyo Semarang Hancur Ditimpa Pohon Roboh
-
PSIS Kunci Raffinha, Mahesa Jenar Perkuat Misi Kembali ke Super League
-
Deepfake AI Teror Mahasiswi PTN di Solo, Polisi Kantongi Profil Terduga Pelaku
-
Sukses BRIvolution: Transaksi QRIS dan Merchant BRI Melesat
-
Pembukaan Rute dan Layanan Baru Dongkrak Arus Peti Kemas Nasional