Dewi menyampaikan bahwa untuk masuk ke sekolah tersebut, membutuhkan seleksi yang cukup panjang dan nilai akademik yang cukup tinggi. Beberapa sekolah yang selama ini dilabeli ‘favorit’ dan ‘unggulan’ juga menurutnya mempunyai standar tersendiri untuk calon peserta didiknya.
Dengan sistem zonasi yang saat ini masih berjalan, menurut Dewi pemerintah harus melakukan observasi apakah anak-anak yang masuk ke ‘sekolah unggulan’ melalui jalur zonasi dapat mengikuti sistem pembelajaran di sekolah tersebut atau tidak.
“Jadi sepertinya itu perlu waktu untuk membuat sekolah menjadi sama rata, menjadi sekolah yang tingkatan dan kualitasnya sama. Itu menurut saya suatu hal yang sulit sekali,” katanya.
Namun, Dewi merasa cukup optimis dengan jalur zonasi kendati membutuhkan proses panjang untuk mendapatkan hasil dan harapan pemerintah.
Baca Juga: Hari Ketiga PPDB Online SMA di Kota Tangerang Masih Eror
Fenomena Pindah Sekolah Demi Masuk ‘Sekolah Unggulan’ Masih Terjadi
Dewi tidak bisa menampik dan seolah menutup mata bahwa hingga hari ini masih ada SMA yang menjadi primadona di mata para orang tua. Hal ini dinilai dari semangat belajar dan pengelolaan sistem pembelajaran.
Dia membeberkan cerita bahwa pada semester lalu ketika ada kesempatan untuk pindah sekolah, banyak orang tua antusias untuk mengajukan data-data perpindahan anak didik dari sekolah yang terpaksa mereka masuki karena sistem zonasi, ke sekolah yang mereka inginkan.
“Mereka berjuang ratusan anak untuk mendapatkan hanya satu sampai lima kursi kosong. Itu perjuangan mereka karena balik lagi tadi ke ‘sekolah unggulan’,” cerita Dewi.
Selain itu, kata dia, untuk menyamaratakan semua sekolah harus dilakukan monitor dari hulu ke hilir. Dewi melihat, sekolah dengan status ‘favorit’ atau ‘unggulan’ bisa dilihat dari jumlah lulusan yang dapat masuk ke jenjang pendidikan yang juga mempunyai kualitas tinggi.
Baca Juga: Link Pendaftaran PPDB SMP Negeri 2021 di Medan
“Boleh dibedakan antara SMA A dan SMA B, kita bisa lihat dari ‘sekolah unggulan’ yang masuk ke universitas negeri favorit berapa persen dan dari 'sekolah biasa' berapa persen. Kalau memang semangat menyamaratakan semua sekolah sama, seharusnya output dari semua sekolah juga sama,” tuturnya.
Berita Terkait
-
Tak Sampai Rp2 Juta, Kemensos Tawarkan Kuliah di Poltekesos, Terjangkau Buat Keluarga Prasejahtera
-
Urgensi Pendidikan Budi Pekerti Ki Hadjar Dewantara vs Krisis Rasa Bersalah
-
Ki Hadjar Dewantara Menangis, Pendidikan yang Dulu Dibela, Kini Dijual
-
Menelisik Kiprah Ki Hadjar Dewantara dalam Pendidikan dan Politik Indonesia
-
Generasi Unggul: Warisan Ki Hajar Dewantara, Mimpi Indonesia Emas 2045?
Tag
Terpopuler
- Kode Redeem FF 2 April 2025: SG2 Gurun Pasir Menantimu, Jangan Sampai Kehabisan
- Ruben Onsu Pamer Lebaran Bareng Keluarga Baru usai Mualaf, Siapa Mereka?
- Aib Sepak Bola China: Pemerintah Intervensi hingga Korupsi, Timnas Indonesia Bisa Menang
- Rizky Ridho Pilih 4 Klub Liga Eropa, Mana yang Cocok?
- Suzuki Smash 2025, Legenda Bangkit, Desain Makin Apik
Pilihan
-
Misi Mathew Baker di Piala Asia U-17 2025: Demi Negara Ibu Tercinta
-
Dear Timnas Indonesia U-17! Awas Korsel Punya Dendam 23 Tahun
-
Piala Asia U-17: Timnas Indonesia U-17 Dilumat Korsel Tanpa Ampun
-
Media Korsel: Hai Timnas Indonesia U-17, Kami Pernah Bantai Kalian 9-0
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
Terkini
-
Habbie, UMKM Minyak Telon Binaan BRI Tampil dengan Prestasi Keren di UMKM EXPO(RT) 2025
-
Operasi Ketupat Candi 2025: Kapolda Jateng Kawal Kenyamanan Pemudik di Jalur Solo-Jogja
-
Terapkan Prinsip ESG untuk Bisnis Berkelanjutan, BRI Raih 2 Penghargaan Internasional
-
Pemudik Lokal Dominasi Arus Mudik di Tol Jateng, H+1 Lebaran Masih Ramai
-
Koneksi Tanpa Batas: Peran Vital Jaringan Telekomunikasi di Momen Lebaran 2025