Kecepatan mengantar ambulan juga bergantung pada jenis motor yang digunakan. Seluruh relawan escorting ambulance dibekali kemampuan safety riding dan etika berkendara di jalan.
Demi keamanan, motor yang digunakan relawan escorting ambulance tidak boleh dimodifikasi berlebihan.
“Semuanya yang penting safety. Kita ada latihan safety riding minimal setahun sekali. Dulu pernah ada pendampingan pelatihan juga dari Polres. Kalau motor besar seperti punya saya, dulu pernah emergency mengawal ambulan sampai 115-120 kilometer per jam. Situasinya memang darurat," ucapnya.
Relawan escorting ambulan secara situasional sering menerima tugas tak terduga di jalanan. Pernah suatu ketika, Widhi terpaksa mengawal ambulan sambil memboncengi pacarnya.
“Kalau mendadak di jalan misal ada ambulan, kita dengarkan kode bunyi sirine. Misal bawa pasien darurat kita langsung ambil jarak 100 meter di depan ambulan, buka jalan,” kata Widhi.
Pacarnya tak keberatan. Keluarga Widhi juga paham risiko yang harus ditanggungnya selama menjadi relawan pengawalan ambulan.
Selain risiko kecelakaan di jalan, tugas pengawalan ambulan sekarang juga dihantui terpapar Covid. Tugas mereka yang dekat dengan petugas medis dan rumah sakit, rawan tertular penyakit.
Widhi pernah punya pengalaman mengantar pasien suspek Covid ke Rumah Sakit Daerah (RSUD) Merah Putih Magelang. Pasien adalah salah satu pengungsi Merapi di posko pengungsian Deyangan.
“Sama yang ngurus pengungsinya dikasih tahu tolong di-escort ini ada yang suspek (Covid). Yang minta tolong driver ambulan, sudah pakai APD. Kami antar sampai masuk rumah sakit, tapi masih jaga jarak. Kalau takut sih iya. Tapi gimana ya kami kan kegiatan di lapangan," jelasnya.
Baca Juga: Dirut RSUP Dr Sardjito dan RSJ Prof Dr Soerojo Magelang Ditukar Posisi
Soal keselamatan berkendara jadi yang utama bagi para relawan pengawal ambulan. Etika sopan santun dan tidak ugal-ugalan saat membuka jalan juga sama pentingnya.
Meski di beberapa wilayah Polda melarang pengawalan ambulan oleh warga sipil, fungsi mereka tetap dibutuhkan. Terlebih disaat kesadaran pengguna jalan soal mengutamakan kendaraan darurat masih minim.
Diakhir obrolan kami, Widhi sempat melontarkan niatnya untuk melanjutkan kegiatan menjadi relawan pengawalan ambulan di tempatya bekerja nanti di Kerawang.
“Kalau pas lagi sama keluarga bawa mobil, terkadang ada rasa pengen turun dari mobil, misal lihat pas macet ada ambulan kejebak. Ada rasa pengen turun dari mobil dan buka jalan untuk ambulan. Sudah reflek," pungkasnya.
Kontributor : Angga Haksoro Ardi
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Pilihan HP Flagship Paling Murah, Spek Sultan Harga Teman
- 5 HP 5G Terbaru RAM 12 GB, Spek Kencang untuk Budget Rp3 Juta
- 5 Pilihan Sepatu Lari Hoka Murah di Sports Station, Harga Diskon 50 Persen
- 5 Parfum Aroma Segar Buat Pesepeda, Anti Bau Badan Meski Gowes Seharian
- 5 Sepeda Listrik Jarak Tempuh Terjauh, Tahan Air dan Aman Melintasi Gerimis
Pilihan
-
Korban Kecelakaan KRL Vs KA Argo Bromo Bertambah, AHY: 15 Jiwa Meninggal dan 88 Orang Luka-Luka
-
'Kakak Saya Belum Bisa Dihubungi', Pilu Keluarga Cari Korban Kecelakaan KRL di Bekasi Lewat Medsos
-
Perjalanan Terakhir Nuryati, Korban Tragedi KRL Bekasi Timur yang Ingin Menengok Cucu
-
9 Fakta Kecelakaan Kereta di Stasiun Bekasi Timur, Gerbong Wanita Jadi Titik Terparah
-
Cerita Pasutri Selamat dari Kecelakaan Maut Kereta di Bekasi: Terpental hingga Pingsan
Terkini
-
Jelang May Day di Semarang, Ahmad Luthfi Tekankan Kondusivitas Kunci Masuknya Investasi Rp110 T
-
Lebih dari Kebaya, BRI Blora Maknai Hari Kartini sebagai Simbol Kesetaraan di Era Perbankan Modern
-
Cuaca Jateng Hari Ini: Semarang Berpotensi Hujan, Dibayangi Ancaman Kemarau Terkering 30 Tahun
-
Komitmen Dukung Olahraga, BRI Berpartisipasi Hadirkan Clash of Legends 2026
-
Transformasi BRI Buahkan Hasil, Kredit Commercial Melonjak Pesat di Tengah Persaingan