Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 13 Maret 2026 | 19:16 WIB
Sekretaris Daerah Kabupaten Cilacap Sadmoko Danardono (kanan) berjalan menuju Gedung Satreskrim Polresta Banyumas setelah menunaikan ibadah Shalat Ashar di Masjid Polresta Banyumas, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Jumat (13/3/2026) sore. [ANTARA/Sumarwoto]
Baca 10 detik
  • Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman menjalani pemeriksaan awal di Markas Polresta Banyumas pasca-OTT KPK pada Jumat sore (13/3/2026).
  • Operasi tangkap tangan (OTT) tersebut merupakan OTT kesembilan KPK sepanjang tahun 2026 dan ketiga selama Ramadan.
  • Pejabat Pemkab Cilacap, termasuk Sekda, juga terlihat berada di lokasi pemeriksaan awal tersebut di Gedung Satreskrim.

SuaraJawaTengah.id - Sebuah pemandangan tak biasa dan penuh ketegangan mewarnai Markas Polresta Banyumas, Purwokerto, pada Jumat sore (13/3/2026).

Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman (SAR) tiba di lokasi tersebut, bukan untuk kunjungan kerja, melainkan untuk menjalani pemeriksaan awal setelah terjaring operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Cilacap, Jawa Tengah.

Penangkapan ini menjadi OTT kesembilan KPK di tahun 2026, sekaligus yang ketiga di bulan Ramadan 1447 Hijriah.

Sekitar pukul 16.15 WIB, sebuah bus pariwisata berwarna gelap memasuki area Markas Polresta Banyumas. Dari dalam bus itulah, Bupati SAR dan sejumlah pejabat Pemerintah Kabupaten Cilacap terlihat turun, langsung digiring menuju Gedung Satuan Reserse Kriminal.

"Biasanya kalau KPK melakukan operasi salah satu tempat akan meminjam fasilitas Kepolisian di kabupaten/kota terdekat untuk melakukan pemeriksaan awal," ungkap salah seorang anggota Polresta Banyumas, memberikan gambaran prosedur standar KPK dalam penanganan OTT.

Suasana di sekitar Gedung Satreskrim terasa tegang, dengan beberapa personel kepolisian berjaga. Sekitar pukul 17.05 WIB, beberapa pejabat Pemkab Cilacap, termasuk Sekretaris Daerah Cilacap Sadmoko Danardono, terlihat keluar dari gedung.

Mereka berjalan menuju Masjid Polresta Banyumas untuk menunaikan ibadah Shalat Ashar. Saat dihampiri wartawan, Sadmoko hanya membalas dengan senyuman tipis, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, sambil terus berjalan didampingi personel Polresta Banyumas.

Tak lama berselang, sekitar pukul 17.20 WIB, Sadmoko beserta rombongan pejabat Pemkab Cilacap kembali memasuki Gedung Satreskrim setelah selesai menunaikan shalat. Kembali, pertanyaan wartawan mengenai kasus yang menjerat Bupati Cilacap hanya dijawab singkat dan penuh kehati-hatian.

"Kita ikuti saja ya," kata Sekda Cilacap tersebut, enggan memberikan komentar lebih lanjut. Sikap bungkam ini semakin menambah spekulasi dan tanda tanya besar di balik penangkapan kepala daerah tersebut.

Baca Juga: Kronologi OTT Bupati Pekalongan Fadia Arafiq: Ditangkap Saat Ramadan, Dibawa ke Jakarta

Wakil Ketua KPK Fitroh Rohcahyanto sebelumnya telah mengonfirmasi penangkapan Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman. "Benar," ujarnya singkat saat dikonfirmasi di Jakarta. 

Penangkapan ini menjadi sorotan tajam, mengingat status Syamsul Auliya Rachman sebagai kepala daerah di salah satu kabupaten penting di Jawa Tengah.

KPK kini memiliki waktu 1x24 jam untuk menentukan status hukum para pihak yang ditangkap dalam OTT tersebut, sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

Publik menanti dengan cemas perkembangan selanjutnya dari kasus ini, yang sekali lagi menyoroti komitmen KPK dalam memberantas korupsi di berbagai tingkatan pemerintahan.

Penampakan Bupati Cilacap yang tiba dengan bus pariwisata dan sikap bungkam para pejabat yang menyertainya menjadi gambaran nyata dari operasi senyap KPK yang berhasil menjaring seorang kepala daerah.

Load More