Chile, Uruguay, dan Kamboja menawarkan dosis booster kepada orang-orang yang diimunisasi dengan vaksin Sinovac atau Sinopharm, dimulai dengan lansia dan kelompok berisiko.
Begitu pula Indonesia dan Thailand, menawarkan dosis ketiga merk vaksin yang berbeda kepada tenaga kesehatan yang telah diimunisasi dengan Sinovac, meskipun cakupan vaksinasi masih rendah (masing-masing 15% dan 8%).
Prancis dan Jerman akan mulai menawarkan dosis ketiga pada September mendatang, sementara Inggris belum memutuskan.
Brasil, Korea Selatan, dan India termasuk negara-negara yang tengah mempertimbangkan program vaksinasi booster, meskipun belum ada rencana yang diumumkan di negara-negara tersebut.
Vaksin dan varian Delta
Di balik program-program tersebut ada ketakutan pada varian Delta virus corona, yang tampaknya dua kali lebih menular daripada varian-varian virus sebelumnya, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC).
Dalam pedomannya, CDC mengatakan bahwa "individu yang terinfeksi oleh varian Delta, termasuk orang-orang yang sudah divaksinasi penuh [...] dapat menularkannya ke orang lain."
Namun, kata lembaga itu, orang-orang yang sudah divaksinasi tampaknya menular dalam periode yang lebih singkat - karena itulah Presiden AS Joe Biden meminta rakyatnya untuk divaksinasi, mengatakan bahwa vaksin adalah "cara terbaik untuk melindungi diri dari varian baru".
Namun Oksana Pyzik, mitra peneliti senior di Sekolah Farmasi UCL, mengatakan keputusan untuk memberikan dosis ketiga seawal ini "tidak berlandaskan sains".
Baca Juga: Jumlah Pasien Covid-19 Sempat Naik 10 Kali Lipat, RS Diminta Cepat Beradaptasi
"Dosis booster adalah reaksi terhadap Delta dan kebijakan 'untuk berjaga-jaga'," katanya kepada BBC.
Tidak ada bukti ilmiah yang mendukung kebutuhan atau bahkan efektivitas dosis booster, kata Dr. Pyzik.
"Saat ini, ada sedikit data tentang kekebalan yang memudar, namun pada tahap awal ini data mengarah pada penurunan proteksi dari infeksi ringan, bukan penyakit parah," ujarnya.
Dilema moral
Dua penelitian di Israel menunjukkan bahwa dosis ketiga Pfizer secara signifikan meningkatkan perlindungan dari infeksi dan penyakit parah pada orang-orang berusia 60 tahun ke atas.
Penelitian lainnya dari Pfizer dan Moderna mencapai kesimpulan yang sama.
Namun Dr. Pyzik berkata meningkatkan proteksi untuk satu kelompok sambil menunda vaksinasi untuk kelompok lain bukanlah strategi yang bijak.
Ini karena varian-varian yang disebut variants of concern, seperti Delta, dapat muncul ketika cakupan vaksin rendah dan tingkat penularan di komunitas tinggi.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Mobil Bekas 50 Jutaan dari Suzuki, Ideal untuk Harian karena Fungsional
- Dua Tahun Sepi Pengunjung, Pedagang Kuliner Pilih Hengkang dari Pasar Sentul
- Apakah Habis Pakai Cushion Perlu Pakai Bedak? Ini 5 Rekomendasi Cushion SPF 50
- 5 Rekomendasi HP RAM 8GB Rp1 Juta Terbaik yang Bisa Jadi Andalan di 2026
- 34 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 20 Januari: Sikat TOTY 115-117 dan 20.000 Gems
Pilihan
-
Rebut Hadiah Berlimpah! Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel Jadi Penggerak Potensi Daerah
-
ASEAN Para Games 2025: Nurfendi Persembahkan Emas Pertama untuk Indonesia
-
Perbedaan Jaring-jaring Kubus dan Balok, Lengkap dengan Gambar
-
Rupiah Loyo, Modal Asing Kabur Rp 27 Triliun Sejak Awal Tahun
-
Izin Tambang Emas Martabe Dicabut, Agincourt Resources Belum Terima Surat Resmi dari Pemerintah
Terkini
-
Waspada! Semarang Diguyur Hujan Seharian, BMKG Prediksi Dampak Cuaca Ekstrem Hingga Akhir Januari
-
Mengenal Rumus Segitiga Sembarang dan Cara Menghitung Luasnya
-
Apel Siaga Bulan K3 Nasional, Semen Gresik Tegaskan K3 sebagai Budaya dan Prioritas Utama
-
Warga Pati Berpesta: Kembang Api Sambut Tumbangnya Bupati Sudewo
-
7 Fakta Mengejutkan Kasus Korupsi Bupati Pati: Dari Jual Beli Jabatan hingga Suap Proyek Kereta Api