Semburan Air Bercampur Lumpur dari Tempat Pengeboran Sumur
Dikutip dari berbagai sumber, sebuah fenomena alam terjadi yang ada kaitannya dengan keberadaaan Selat Muria.
Tercatat pada 2014 lalu, warga Dukuh Sarimulyo, Desa Wotan, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, digemparkan dengan semburan di area pengeboran sumur yang kedalamannya mencapai 140 meter,
Semburan itu berupa air bercampur lumpur yang menyembur setinggi sekitar 20-25 meter bersamaan dengan bau gas menyengat yang menyergap.
Semburan ini tidak begitu saja berhenti. Hari kedua, semburan masih terjadi namun tinggi semburan menurun menjadi 15 meter dengan air yang lebih jernih. Setelah tiga hari, semburan akhirnya berhenti dengan sendirinya dan air mengalir begitu saja tanpa menyembur.
Rumah-rumah yang berjarak 20 km dari semburan sempat terdampak namun hanya lumpur yang melumuri rumah saja.
Meskipun demikian, fenomena semburan lumpur membuat warga di sekitar semburan sempat mengungsi. warga smepat panik karena kejadian semburan ini bakal mirip seperti perisitiwa lumpur Lapindo di Sidoarjo yang muncul semenjak 2006 silam dan saat itu belum menunjukan tanda-tanda berhenti.
Kepala Badan Geologi yang saat itu menjabat, Surono menuturkan bahwa air yang keluar dari sumur bor cenderung bersifat basa dengan pH 8,4 dan bersuhu rendah, yakni 31,1 derajat celcius, Pengukuran komposisi gas dengan menggunakan radas Draeger ini memperlihatkan dominannya kadar gas metana, yakini maksimum 76 persen LEL (Low Explosive Level) dan rata-rata 35 persen LEL.
Gas-gas lain seperti karbondioksida, sulfurdioksida dan hidrogen sulfida absen/tak terdeteksi. Meski semburan sudah berhenti, namun tim menemukan di lokasi masih terjadi gelembung-gelembung gas berintensitas rendah.
Baca Juga: Cuaca Ekstrem, BPBD Cilacap Minta Masyarakat untuk Meningkatkan Waspada Bencana
Sebelumnya, warga Dukuh Sarimulyo melakukan pengeboran sumur untuk mencari sumber air sebagai upaya pemenuhan air bersih selama musim kering yang panjang.
Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, Selat Muria merupakan perairan purba yang kemudian mengalami pendangkalan dari proses sedimentasi material beberapa sungai yang bermuara di daerah yang sekarang disebut Grobogan, Demak, Kudus, dan Pati. Selain itu pendangkalan itu juga disebabkan karena longsoran letusan Gunung Muria.
Proses pendangakalan Selat Muria diperkirakan sudah terjadi sejak abad ke-13 di mana secara berangsur-angsur, terjadi penyusutan perairan di Selat Muria. Material sedimentasi itu diperkirakan berasal dari Kali Jragung, Tuntang, Serang, Lusi dan Juwana yang membawa material tanah dan bebatuan sehingga perairan selat berubah menjadi daratan. Pada abad ke-17, proses sedimentasi akhirnya membuat Gunung Muria dan Pulau Jawa menyatu.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Beda Cushion Wardah Colorfit Hijau dan Krem: Intip Harga, Kandungan, dan Manfaatnya
- 5 HP Android dengan Kualitas Setara iPhone 13 Pro dan iPhone 13 Pro Max
Pilihan
-
Derita Masyarakat RI Bertambah Kini Harga Pertamax Naik, Apa yang Harus Dilakukan?
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
-
Perhatian! Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250/Liter
-
Susunan Pemain Timnas Indonesia vs Mozambik di FIFA Matchday Malam Ini
Terkini
-
Wakil Ketua DPRD Jateng Minta Rehabilitasi 600 Ribu Hektare Lahan Kritis Harus Libatkan Masyarakat
-
Gubernur Luthfi Potong Jalur Tengkulak, Demi Amankan Harga Pangan dari Gejolak Global
-
Pemprov Jateng Upayakan Perbaikan Jalan Cepu-Randublatung Tuntas 2026
-
Harga Pertamax Melonjak Drastis, Tembus Rp16.250 per Liter Mulai Hari Ini!
-
Ratusan Guru di DIY Dilatih AI untuk Pangkas Beban Administrasi