SuaraJawaTengah.id - Jagat media sosial saat ini tengah ramai membicarakan kasus penistaan agama yang dilakukan oleh beberapa orang dari berbagai kalangan.
Setelah kicauan mantan politisi Partai Demokrat Ferdinand Hutahaen bernada penistaan agama dilaporkan dan berhasil jadi tersangka. Publik pun kemudian berbondong-bondong melaporkan kasus penistaan agama lainnya.
Mulai dari Ustaz Abdul Somad, Eko Kuntandhi, Abu Janda, Deny Siregar, Rocky Gerung turut terseret kasus penistaan agama. Karena pernah membuat cuitan atau ceramah yang menyinggung agama lain.
Ramainya kasus penistaan agama tersebut membuat Ketua MUI Pusat Bidang Dakwah Cholil Nafis gusar. Menurutnya, para pelaku membuat pernyataan bernada penistaan agama karena ada tujuan tertentu.
"Ya orang ini (pelaku penistaan agama) sedang bertarung wacana di dunia publik dan masing-masing mereka ingin mendominasi pemikiran atau ideologinya di masyarakat," buka Cholil Nafis di kanal YouTube Padasuka TV.
"Maka kadang-kadang mereka menginjak orang lain untuk menunjukkan dirinya tinggi. Ini yang salah, seharusnya kita menunjukkan ketinggian kita tanpa harus menginjak orang lain," sambungnya.
Lebih lanjut, Cholil Nafis tak menampik jika ada beberapa pelaku penistaan agama tersebut yang memang sengaja untuk menyerang kelompok lain lewat kicauan-kicauannya di media sosial.
"Satu sisi memang ada kesengajaan untuk menyerang kelompok lain yang bertentangan dengan ideologinya. Baik ideologi keagamaan maupun politik. Bahkan mungkin ideologi kebangsaan," terangnya.
Disinggung soal pernyataan Ustaz Abdul Somad yang pernah berujar bahwa di salib ada jin kafir. Cholil Nafis enggan membahas persoalan tersebut terlalu mendalam.
Baca Juga: Minta Bimbingan Ulama, Ferdinand Hutahaean Disebut Cocok Dibimbing Bahar Smith di Penjara
"Kita (MUI) belum menfatwakan persoalan itu jadi kita belum bisa menilai. Apakah termasuk penistaan agama atau tidak. Kita serahkan ke pengadilan saja. Kalau kita dimintai sanksi, kita juga siap," paparnya.
Cholil Nafis pun merasa prihatin dengan beberapa kalangan yang terseret kasus penistaan agama. Menurutnya motif para pelaku yang melakukan hal tersebut karena ingin dikenal publik dan ideologi yang dimilikinya mendominasi.
"Agama itu kan paling murah untuk dijadikan alat konflik. Jadi kalau kita mau konflik itu paling mudah dan murah adalah atas dasar agama," sambungnya.
"Pesan saya kepada masyarakat jangan asal berbicara soal agama dan paling penting belajar ilmu agama kepada kiai yang trek rekor yang sudah jelas. Jangan belajar ilmu agama di sosial media," pungkasnya.
Kontributor : Fitroh Nurikhsan
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Sunscreen Menghilangkan Flek Hitam Usia 40 Tahun
- Jejak Pendidikan Noe Letto, Kini Jabat Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional
- 5 Bedak Murah Mengandung SPF untuk Dipakai Sehari-hari, Mulai Rp19 Ribuan
- 6 Mobil Bekas Keren di Bawah 50 Juta untuk Mahasiswa, Efisien buat Jangka Panjang
- 50 Kode Redeem FF Terbaru 17 Januari 2026, Klaim Hadiah Gojo Gratis
Pilihan
-
Fadli Zon Kaget! Acara Serah Terima SK Keraton Solo Diserbu Protes, Mikrofon Direbut
-
Tim SAR Temukan Serpihan Pesawat ATR42-500 Berukuran Besar
-
KLH Gugat 6 Perusahaan Rp 4,8 Trliun, Termasuk Tambang Emas Astra dan Toba Pulp Lestari?
-
Bursa Transfer Liga Inggris: Manchester United Bidik Murillo sebagai Pengganti Harry Maguire
-
John Herdman Termotivasi Memenangi Piala AFF 2026, Tapi...
Terkini
-
Juara Bertahan Berjaya! SDN Sendangmulyo 04 dan SDN Klepu 03 Raih Gelar di MilkLife Soccer Challenge
-
7 Fakta Hasil Visum Syafiq Ali, Ungkap Perkiraan Waktu Kematian dan Kondisi Luka
-
Gebrakan Awal 2026: Ribuan Talenta Sepak Bola Putri Unjuk Gigi di MLSC Semarang
-
BNPB Siapkan Amunisi Tambahan, Pesawat Modifikasi Cuaca Siap Serbu Langit Jateng
-
Tutorial Cara Menggunakan Aplikasi Cek Bansos Resmi Pemerintah