SuaraJawaTengah.id - Warga Desa Wadas memberikan keterangan soal ‘pengepungan’ Masjid Nurul Huda oleh aparat keamanan pada Selasa (8/2/2020).
Pendamping warga dari Solidaritas Perempuan (SP) Kinasih Yogyakarta mengatakan, saat kejadian banyak ibu-ibu dan lansia yang terjebak di dalam masjid.
Mereka tidak berani pulang karena di luar masjid berjaga puluhan polisi berseragam maupun preman. Mereka menangkap anak-anak muda yang berada di masjid.
“Di Masjid banyak sesepuh mengalami kekerasan hingga baju robek karena ditarik-tarik. Kemudian pukulan dan bentakan. Anak-anak muda menjadi incaran,” kata pendamping SP Kinasih yang enggan menyebutkan identitas.
Mereka bertahan di masjid sejak pukul 09.00 WIB hingga menjelang maghrib. Para ibu dan lansia ini terjebak di masjid tanpa pasokan makanan dan minum.
“Mereka di sana tidak makan, tidak minum. Saat ibu-ibu pulang, aparat mengatakan ‘kenapa nggak pulang dari tadi. Tahukan jadi lapar’.”
Menurut pendamping dari SP Kinasih, mereka takut pulang karena tidak ada jaminan keamanan mereka tidak akan ditangkap oleh aparat. “Bukan sesederhana itu. Ada situasi yang tidak bisa menjamin keamanan ibu-ibu sampai ke rumah.”
Sejatinya, warga berkumpul di Masjid Nurul Huda, Dusun Krajan untuk melaksanakan mujahadah. Kegiatan doa bersama ini rutin dan biasa dilakukan oleh warga Desa Wadas.
Ketakutan warga bukan tanpa alasan. Sebab ada 2 orang ibu warga Desa Wadas peserta mujahadah yang ditangkap saat bersembunyi di makam karena ketakutan.
Baca Juga: Kekerasan di Wadas Disorot Media, YLBHI Kecewa Pemerintah Justru Bilang Tak Terjadi Apa-apa
“Mereka ditangkap setelah pulang mujahadah, menengok rumah sebentar, lalu ingin kembali ke mujahadah. Ternyata (di masjid) sudah banyak sekali aparat. Mereka bersembunyi di makam. Tahlil. Tapi di situ juga dikerubuti intel yang jumlahnya sekitar 5 sampai 10. Diangkut ke Polsek Bener dan dibawa ke Polres Purworejo.
Tujuan warga berkumpul di masjid bukan untuk melakukan perlawanan. Apalagi berupaya menghadang kegiatan pengukuran lahan.
Mayoritas warga saat proses pengukuran tanah berada di rumah masing-masing. Kecuali warga yang menghadiri mujahadah.
“Narasi yang hadir di media bahwa warga menentang, itu sama sekali tidak benar. Semua warga stay di rumah kecuali yang ikut mujahadah di Masjid Krajan.”
Warga yang ketakutan banyak yang lari bersembunyi ke hutan di sekitar Desa Wadas. Mereka bermalam di hutan tanpa persediaaan makan dan minum.
Aparat keamanan bahkan mengerahkan anjing pelacak untuk mencari warga yang bersembunyi di hutan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
-
QRIS Jadi 'Alat Bantu' Judi Online: Mengapa Sistem Pembayaran BI Ini Rentan Disalahgunakan?
Terkini
-
Darurat Kecelakaan Kerja di Jawa Tengah: Wagub Taj Yasin Desak Perusahaan Genjot Budaya K3!
-
Jawa Tengah Siaga! BMKG Peringatkan Banjir dan Longsor Mengancam Hingga Februari 2026
-
Ini Ciri-ciri Aplikasi Penghasil Uang yang Aman dan Terpercaya
-
Avanza Kalah Telak! Inilah Mobil Seumur Hidup Pilihan Terbaik di Bawah 200 Juta
-
10 Perbedaan Utama Toyota Rush dan Daihatsu Rocky Varian Tertinggi, Lebih Bagus Mana?