SuaraJawaTengah.id - Bagi orang Jawa ruang sosial bisa dibangun dimana saja. Di sawah, di rumah, bahkan di kuburan. Seperti menjelang bulan Ramadan, nyadran menjadi tradisi yang tak bisa ditinggalkan.
Masyarakat Dusun Krecek dan Gletuk di Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung secara umum berbeda keyakinan agama. Warga Dusun Krecek mayoritas beragama Buddha sedangkan di Gletuk kebanyakan memeluk Islam.
Meski begitu, warga kedua dusun memiliki leluhur yang sama. Mereka dimakamkan berbaur dalam satu kompleks pekuburan.
Setahun sekali pada Jumat Pon di bulan Rojab, warga Krecek dan Gletuk bersepakat menggelar doa bersama untuk para leluhur.
“Bukan hanya yang beragama Buddha, yang Muslim pun melaksanakannya. Ini adalah tradisi yang mengandung nilai religius dan agamis. Ini tanpa diperintahpun semua masyarakat hadir dengan sendirinya,” kata Kepala Desa Getas, Dwi Yanto.
Dihadiri pemeluk agama yang berbeda-beda, acara pembacaan doa dilangsungkan secara bergantian oleh masing-masing pemuka agama.
Menurut Dwi Yanto acara ini sudah dilakukan warga Dusun Krecek dan Gletuk secara turun temurun. Setiap tahun, masyarakat sudah hafal kapan nyandran lintas agama bakal dilangsungkan.
“Masyarakat sudah menghitung harinya, tanggalnya, karena kita orang Jawa maka dikaitkan dengan hari pasaran. Spontan masyarakat bergerak. Tidak diumumkan melalui pengeras suara maupun perangkat desa.”
Persiapan acara melibatkan seluruh warga pennganut Buddha, Kristen, Islam dan Hindu. Mereka merasa punya tanggung jawab yang sama untuk melanjutkan tradisi nenek moyang.
Baca Juga: Brak! Truk kontainer Tabrak Bangunan Termasuk Showroom di Temanggung, 12 Motor Tergilas
“Terus dari seluruh unsur itu ada yang beragama Buddha, Kristen, Islam, semuanya juga bersama-sama. Dikatakan toleran karena dari makamnya saja itu kan semuanya bercampur. Islam, Kristen Buddha jadi satu,” kata Dwi Yanto.
Nyadran di Dusun Krecek dan Gletuk menjadi pembuka rangkaian tradisi serupa di 7 dusun lainnya: Porot, Banyu Urip, Cendono, Kemiri, Nglarangan, Getas, dan Pringapus.
Akulturasi Jawa-Islam
Sejauh catatan sejarah yang diketahui, tradisi mengunjungi atau merawat makam leluhur sudah ada sejak zaman Majapahit. Raja Hayam Wuruk tercatat -sedikitnya- pernah melakukan 6 kali perjalanan keliling daerah kekuasaannya untuk menyambangi candi-candi yang dibangun para leluhur.
Tidak hanya menziarahi candi peninggalan leluhur, dalam perjalanan itu Hayam Wuruk juga menggelar ritual khusus bagi keluarga yang telah meninggal. Upacara ini dikenal sebagai sraddha atau upacara mengenang arwah.
Saat Islam masuk ke Nusantara, tradisi sraddha mengalami akulturasi budaya menjadi nyadran. Waktu pelaksanaannya dipilih di bulan Rojab atau Ruwah (Syaban).
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- 5 Sabun Mandi Vitamin C Terbaik untuk Mencerahkan Kulit Belang, Lengkap dengan Review Pengguna
- Daftar Shio yang Paling Tidak Cocok dengan Shio Macan dalam Bisnis dan Asmara
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Gubernur Sulsel Telepon Langsung Pemilik SPBU
Pilihan
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
Terkini
-
Holding UMi Genap 5 Tahun, BRI Perluas Ekosistem Keuangan untuk Masyarakat
-
Kafilah Maluku Utara Terkesan, Ungkap Sisi Lain Keramahan Warga Jateng di MTQ Nasional 2026
-
Bubur Cirebon Go International, Kisah Tati Purwanti Bangun Usaha di Taipei
-
Kembalinya MTQ Nasional ke Jateng Setelah 47 Tahun, Pawai Ta'aruf di Semarang Langsung Diserbu Warga
-
Bukan Cuma untuk Umat Islam, MTQ Nasional di Semarang Jadi Pesta Rakyat Lintas Agama