SuaraJawaTengah.id - Dua tahun sudah, ritual adat yang biasanya diikuti oleh ribuan orang dari dua wilayah di Kabupaten Cilacap dan Banyumas Anak Putu (keturunan) Bonokeling digelar secara terbatas. Pandemi Covid-19 menjadi musabab utamanya.
Sebelum pandemi, biasanya anak putu Bonokeling berkumpul dalam satu ritual yang biasa disebut Perlon Unggahan. Mereka masih mempertahankan identitas dengan mengenakan pakaian atasan hitam, iket kepala, serta jarit.
Sedangkan untuk kaum perempuan, mengenakan atasan kemben yang dibalut dengan kain putih, serta bawahan jarit.
Waktu menunjukkan pukul 09.00 WIB ketika para kaum lelaki selesai menyembelih hewan kambing, sapi dan ayam hasil dari sumbangan para donatur anak putu untuk disantap bersama setelah ziarah selesai.
Langkah kaki para lelaki ini menuju aliran sungai kecil yang jaraknya lumayan jauh dari lokasi persembelihan untuk membersihkan daging.
Dengan beriringan, mereka bergotong-royong mengangkat keranjang yang terbuat dari bambu berisikan daging. Kegiatan ini sudah dimulai sejak pagi hari saat fajar mulai terbit dari timur.
Anak putu Bonokeling membagi tugas agar proses persembelihan segera selesai. Selain itu, para lelaki juga ada yang bertugas memetik daun pohon jati yang tumbuh disekitar. Daun jati ini nantinya digunakan untuk bungkus dan alas daging saat disajikan.
Juru bicara anak putu Bonokeling, Sumitro menjelaskan ritual prosesi unggahan adalah acara adat yang dilaksanakan setahun sekali pada saat memasuki Bulan Sadran.
"Ketentuan dilaksanakannya unggahan itu saat hari Jumat terakhir pada Bulan Sadran menjelang puasa. Jadi tiap tahunnya, anak putu komunitas Bonokeling berkunjung kesini untuk ziarah ke makam leluhur Bonokeling," katanya kepada Suara.com, Jumat (25/3/2022).
Baca Juga: Masjid-Masjid di Sumsel Bersiap Gelar Salat Tarawih Ramadhan, Tetap Terapkan Prokes
Persiapan untuk unggahan dilakukan dari dua bulan sebelum pelaksanaan. Karena pelaksanaan ritual adat sendiri, melibatkan orang banyak termasuk dari Kabupaten Cilacap.
Untuk rangkaian sendiri, biasanya anak putu dari Kabupaten Cilacap memulai dengan Laku Lampah (berjalan kaki) dengan jarak puluhan kilometer menuju area pasemuan di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas. Prosesi jalan kaki ini dilakukan sehari sebelum unggahan.
Namun karena terkendala pandemi, dalam tiga tahun ini prosesi jalan kaki ditiadakan. Biasanya ribuan anak putu secara beriringan menyusuri jalan aspal dan perbukitan.
"Pada tahun kemarin itu paling perwakilan dari Kabupaten Cilacap sebanyak 15 orang. Sehingga sekarang ini lebih dari 500 orang. Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada Pak Bupati karena sudah mengijinkan," terangnya.
Untuk menuju kesini tanpa Laku Lampah, sekitar 800 an anak putu Bonokeling dari Kabupaten Cilacap diangkut menggunakan kendaraan mobil pada Kamis (24/3/2022). Meski begitu, tidak mengurangi khidmatnya prosesi unggahan.
Sebetulnya, masyarakat komunitas Bonokeling kerap kali melakukan ritual adat. Dalam satu tahun saja ada lebih dari 40 kali kegiatan. Hanya saja, ritual unggahan yang paling populer di mata masyarakat luas.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Desain Final Stadion Kendal Tornado FC Dirilis, Pembangunan Dimulai Tahun Depan
-
Buntut Penggeledahan "Ponpes" di Sukoharjo, Taj Yasin Pastikan Pendampingan Psikologis Anak-Anak
-
Ancaman Megathrust di Wisata Jateng, Sarif Abdillah Desak Hotel dan Destinasi Punya Standar Mitigasi
-
Bikin Bangga Indonesia! Inovasi Kelas Dunia Antarkan Semen Gresik Raih 4 Bintang di APQO 2026
-
BRI Raih Empat Penghargaan, Dorong UMKM Naik Kelas dan Makin Berdaya