Scroll untuk membaca artikel
Ronald Seger Prabowo
Rabu, 18 Mei 2022 | 19:10 WIB
Komunitas janda saat berkegiatan di Pendopo Dipayudha Adigraha Banjarnegara. [Dok Pribadi]

SuaraJawaTengah.id - Kerap dipandang sebelah mata, janda di Banjarnegara, membentuk komunitas Jaket (Janda Kreatif Banjarnegara).

Menjadi janda bukanlah pilihan. Menyandang status tanpa suami pasca ditinggal mati atau cerai, seperti pil pahit yang harus ditelan.

Keberadaan janda pun kerap di pandang sebelah mata. Tak sedikit pula mereka mendapat julukan sebagai perempuan penggoda.

Tampak seperti jatuh tertimpa tangga, sudah janda masih dikatain juga. Nasib sungguh nasib. Namun, stigma miring itu tampak tak menggoyahkan semangat para janda di Banjarnegara.

Baca Juga: Tuding Kerap Kafirkan Orang, Abu Janda Girang Sekali Ustaz Abdul Somad Dideportasi Singapura

Diketuai oleh Riningsih, komunitas janda Banjarnegara pun angkat suara.

Bukan untuk ajang mecari cinta dari seorang pria, komunitas ini dibentuk untuk menciptakan Janda yang berkualitas dan berdaya.

"Wanita mana yang ingin menjadi janda? Ini bukan pilihan, tapi keadaan," ungkap Rini ketika ditemui Suarajawatengah.id, Rabu (18/5/2022).

Berbagai cibiran sudah ia terima selama 19 tahun menjanda. Membesarkan anak sendiri bukanlah hal yang gampang.

"Usia anak saya 20 tahun, sekarang sedang kuliah, alhamdulillah dia pinter jadi dapat beasiswa," ungkapnya.

Baca Juga: Mengingat Kembali Khotbah Bom Bunuh Diri yang Bikin Ustaz Abdul Somad Dideportasi Singapura, Singgung Soal Mati Syahid

Menurutnya, menjadi janda bukanlah aib. Janda tetaplah wanita yang mulia. Boro-boro iba, kerja keras demi menghidupi diri dan anaknya kerap dituding miring.

"Kadang bekerja ini itu sampai pulang malam pun masih tetap dikira kerja yang aneh-aneh," kata janda bergelar S2 atau Magister Manajemen ini.

Tapi apalah daya omongan tetangga, tanpa bekerja bagaimana bisa menghidupi keluarga.

Rini yang bekerja sebagai staf administrasi Disperindagkop Kabupaten Banjarnegara ini juga mencari uang dengan menjadi host atau pembawa acara.

Tak hanya itu, ia juga kerap diminta untuk bernyanyi di berbagai acara dengan nama panggung Rini Geboy.

Pantang Menyerah

Perjalanan hidup yang dijalani membentuk karakter pantang menyerah. Namun disisi lain, ia menyadari bahwa situasi yang dialaminya juga dirasakan oleh janda janda lain.

"Dengan adanya komunitas Janda kreatif ini, diharapkan kita semua bisa saling menguatkan, saling rangkul dan saling mendukung," katanya.

Komunitas yang berawal dari group chat WhatsApp kini beranjak menjadi komunitas yang teroganisir.

"Ada beberapa program ke depan, ada pemberdayaan, ada pelatihan, ada kolaborasi. Kegiatan yang rutin itu arisan, sebagai pengikat agar kita bisa kumpul dan tidak merasa sendirian. Terdekat kami akan deklarasi di Pendopo Dipayudha Adigraha," jelasnya.

Dengan begitu, ia berharap dalam komunitas tumbuh rasa saling bantu. Sehingga, janda di Banjarnegara dapat berdikari meski sendiri.

"Tiap anggota ada yang punya usaha, disitu misal ada yang belum bekerja bisa kerjasama. Atau yang punya jasa misal catering bisa diarahkan untuk order di anggota dan sebagainya," terangnya.

Disisi lain, tingkat perceraian di Banjarnegara saat ini kian tinggi. Ia mengaku prihatin sebab menjalani hidup sebagai janda harus siap segalanya, baik mental, lahir dan batin.

"Harapannya bisa membentuk pribadi Janda yang berkualitas, ber-attitude dan mandiri secara ekonomi, " jelasnya.

Menurutnya, semua perempuan wajib memiliki sikap yang baik dan kemampuan yang dapat diandalkan sebagai bekal.

"Sebab, suami kalau tidak diambil Tuhan ya diambil wanita lain. Jadi harus mempersiapkan diri untuk mandiri," pungkasnya.

Kontributor : Citra Ningsih

Load More