Kesulitan mencari penumpang?
"Sulit. Dulu kan diberi fasilitas utuk parkir andong di dalam kompleks candi. Sekarang untuk parkir mobil di dalam taman itu sudah dikontrak Angkasa Pura," kata Parsudin.
Parsudin pernah mengusulkan para kusir andong diberi ruang parkir di dalam kompleks. Selain tidak semrawut parkir di pinggir jalan, parkir andong di dalam kompleks memudahkan para kusir mencari penumpang wisatawan.
Tidak aman meninggalkan kuda tanpa pengawasan di pinggir jalan seperti sekarang. Masing-masing kuda memiliki karakter berbeda yang berisiko ditinggal di jalan tanpa penjagaan kusir.
"Kalau ada parkir kan andongnya aman. Nggak ada mobil, nggak bus di pinggir jalan. Kuda itu karakternya lain-lain. Ada yang takut sama ini-itu. Kalau lari gimana?"
Tidak semua kuda mudah diserang panik. Banyak juga yang anteng dan santai saja berdiri bersebelahan dengan bus yang menderu.
"Parkir khusus itu kan untuk antisipasi. Ada kuda yang cuma sama plastik kecil kena angin itu saja takut. Ada yang takut suara mobil besar regudug.. regudug... Karakter kuda nggak sama."
Selama belum memiliki lahan parkir khusus di dalam kompleks Candi Borobudur, para kusir terpaksa mangkal di pinggir jalan. "Memang sulit. Mau kemana lagi (parkir), kalau memang cuma adanya di situ," ujar Parsudin.
Usaha andong wisata melalui paket “Andong Tilik Ndeso” pernah sangat sangat menjanjikan di Borobudur. Selain menguntungkan secara ekonomi, paket wisata ini memberdayakan warga desa sekitar candi.
Baca Juga: Luhut Tunda Kenaikan Tarif Tiket Candi Borobudur, Ganjar: Itu Bijaksana
Pada musim Liburan, Juli 2018, pengelola paket wisata Andong Tilik Ndeso Borobudur meraup omzet Rp23.686.000. Jumlah itu sudah diluar bagi hasil dengan PT Taman Wisata Candi Borobudur sebesar Rp45.125.000.
Dari omzet tersebut, pengelola paket wisata Andong Tilik Ndeso mampu menyumbang Rp7.220.000 untuk 4 dusun yang dilalui trip andong.
Dusun yang dilintasi andong wisata menerima kutipan Rp1.000 dari tiap tiket yang terjual. Dana itu digunakan untuk membersihkan jalan atau memenuhi kebutuhan dusun.
"Itu kampung-kampung bisa buat untuk beli bolo pecah (piring dan gelas) dan untuk kegiatan kampung. Tiap bulan, minim itu dapat Rp1,5 juta."
Pendapat kusir juga naik karena mendapat bagian Rp50 ribu dari harga tiket sebesar Rp100 ribu. Frekuensi menarik andong wisata juga lebih banyak dibanding menarik penumpang biasa.
Jika menarik penumpang biasa dari Pasar Borobudur misalnya, kusir hanya mendapat upah Rp20 ribu sampai Rp25 ribu.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian
- Malaysia Tegur Keras Menkeu Purbaya: Selat Malaka Bukan Hanya Milik Indonesia!
- Dexlite Mahal, 5 Pilihan Mobil Diesel Lawas yang Masih Aman Minum Biosolar
- Awas! Jakarta Gelap Gulita Besok Malam, Cek Daftar Lokasi Pemadaman Lampunya
- Warga 'Serbu' Lokasi Pembangunan Stadion Sudiang Makassar, Ancam Blokir Akses Pekerja
Pilihan
-
Jadi Tersangka Pelecehan Santri, Benarkah Syekh Ahmad Al Misry Sudah Ditahan di Mesir?
-
Kopral Rico Pramudia Gugur, Menambah Daftar Prajurit TNI Korban Serangan Israel di Lebanon
-
Ingkar Janji Taubat 2021, Syekh Ahmad Al Misry Resmi Tersangka Kasus Pelecehan Santri
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
Terkini
-
DPRD Jateng Soroti Jalur Maut Silayur Semarang: Tegakkan Aturan atau Korban Terus Berjatuhan!
-
Terinspirasi Candi Borobudur, Artotel Leguna 'Bayi Cantik' di Kota Magelang
-
BRILink Agen Mekaar Jadi Ujung Tombak Inklusi Keuangan di Komunitas
-
PSIS Semarang vs Kendal Tornado FC, Junianto: Kami Ingin Laga yang Menghibur
-
Bagi Dividen Jumbo, BRI Jaga Keseimbangan Imbal Hasil dan Ekspansi Bisnis