Dari tempat berdagang di depan Museum Karmawibhangga, para asongan diperintahkan pindah ke zona luar kompleks candi. Bergabung dengan pedagang lainnya di area pedagang dan asongan, dekat lokasi parkir.
"Sekarang gabung sama pedagang lain. Jadi ‘cendol’ di bawah (area parkir). Sekarang yang (jualan) di atas, pindah ke bawah. Yang di bawah juga jadi gimana gitu. Soalnya lahannya kan jadi satu, repot juga."
Dulu saat berjualan di zona II dalam, Kartini dan teman-temannya mendapat kesempatan pertama “menyapa” turis yang baru turun dari pelataran Candi Borobudur.
Mereka menawarkan barang sambil mengikuti turis yang berjalan menuju pintu keluar. Berdasarkan pengalaman berdagang selama bertahun-tahun, mereka yakin cara ini paling jitu mengungkai receh dari kantong para wisatawan.
Itu sebabnya 340 pedagang asongan anggota K 14 memilih tetap mengasong meski dulu pernah ada tawaran untuk menempati lapak berdagang.
Saling Injak Pedagang Kecil
Para pedagang asongan mengeluhkan manajemen alur masuk dan keluar pengunjung Borobudur yang tidak menguntungkan mereka. Turis sudah melewati beberapa titik berjualan sebelum tiba di pintu keluar.
Area-area dagang itu menjual jenis barang yang sama dengan yang dijajakan para asongan dan kaki lima di dekat area parkir. Saat tiba di area parkir, hanya sisa-sisa saja minat wisatawan untuk berbelanja.
Asongan yang ditempatkan setelah pintu keluar masih harus bersaing dengan pedagang lapak kaki lima dan asongan dari kelompok lain.
Baca Juga: Unggah Editan Foto Stupa Menyerupai Wajah Jokowi, Roy Suryo Resmi Dilaporkan ke Polda Metro Jaya
Kartini juga mengeluhkan soal "banting" harga yang menurutnya menyebabkan persaingan tidak sehat sesama pedagang.
"Di pasar harganya sudah ‘remuk’. Enam kaos ditawarkan Rp100 ribu. Bahkan ada yang menjual 7 kaos Rp100 ribu."
Kartini mengaku membeli kaos pada juragan seharga Rp14 ribu per kaos. Dia biasanya menjual dengan sistem borongan Rp100 ribu untuk 6 helai kaos.
Berarti dari satu pembeli, Kartini mendapat untung sekitar Rp16 ribu. "Kan kasihan yang sini. Sudah di pintu keluar terakhir, harganya diremuk kayak begitu."
Bukan semakin untung, semenjak dipindah ke luar zona II pendapatan Kartini malah ‘buntung’. Hasil dari berjualan kaos Borobudur hanya cukup untuk makan sehari-hari.
Gadai Motor untuk Makan
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- Djarum Digeledah KPK, Publik Ramai Kaitkan dengan Isu Haji Isam dan DBS
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 Shio Paling Beruntung 29 Oktober 2026: Bisnis Lancar dan Finansial Aman
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Hujan Ekstrem 349 Milimeter Guyur Cilacap, Banjir dan Longsor Terjang Sejumlah Wilayah
-
Warga Dukung Pengusutan Perusakan Warung Mi Babi Sukoharjo, Polda Jateng Jamin Proses Transparan
-
Pekalongan hingga Demak, Ancaman Rob Paksa Warga Pesisir Beradaptasi, Kerugian Capai Ratusan Triliun
-
Dugaan Tabrak Lari di Bantul, Pengemudi Mobil Ditangkap Warga Usai Hantam Pemotor Hingga Tewas
-
Desain Final Stadion Kendal Tornado FC Dirilis, Pembangunan Dimulai Tahun Depan