Menurut dia, Indonesia adalah negara dengan keanekaragaman hayati darat dan laut terkaya nomor satu di dunia.
"Itu sumber pangan, sementara dunia akan menghadapi krisis pangan akibat perang ini, krisis ekonomi juga. Karenanya ledakan mesiu akibat perang antara Rusia dan Ukraina serta ketegangan di Taiwan, harus diantisipasi," katanya lagi.
Menurut dia, pemenang dari konflik keras tersebut nantinya akan ikut menentukan bagaimana dunia ditata ulang.
"Kita tahu bahwa setiap 25 tahun sekali, terutama setelah Perang Dunia Kedua, dunia itu gantian 'kurikulum'. Pada 25 tahun pertama dari 1945 sampai 1970 dunia itu mencari-cari sumber daya mineral, sumber daya alam untuk tambang," ujar dia.
Oleh karena itu, katanya lagi, berbagai kudeta maupun konflik politik serta perang saudara yang terjadi selama 1945-1970 kebanyakan diakibatkan oleh konflik-konflik pertambangan.
Kemudian pada 1970-1995, dunia dikuasai negara-negara yang industri manufakturnya kuat, selanjutnya 1995-2020 dikuasai perdagangan moneter, sedangkan 2020-2045 dikuasai teknologi informasi berbasis data.
Budiman mengatakan pemerintah harus sadar dan tahu bahwa siapa yang menguasai data, itulah yang akan menjadi pemenang.
"Nah, Indonesia sebelum terlambat, kejar ini. Kita terlambat di sumber daya alam, ya dikeruk semua (sumber daya alam) kita, kemudian manufaktur kita ketinggalan, moneter kita juga ketinggalan, sekarang data tidak boleh ketinggalan," katanya pula.
Menurut dia, pemerintah harus membangun teknologi informasi, teknologi kesehatan, teknologi rekayasa berbasis data yang akurat, dan hal itu hanya mungkin ketika sumber daya manusianya mampu memilih serta memilah pengetahuan.
Baca Juga: Eva Dwiana Perbolehkan Warga Gelar Lomba 17 Agustus, Syaratnya Tetap Patuhi Prokes
Ia mengatakan untuk membangun sumber daya manusia dan menguasai teknologi informasi berbasis data harus ditopang oleh infrastruktur, baik infrastruktur transportasi, infrastruktur perumahan, dan sebagainya.
"Itu menjadi penting agar nanti ketika data dibangun, membangun manufakturnya, membangun tambang kita, membangun manusia kita, harus berbasis teknologi informasi dengan data yang akurat. Jika tidak, kita pasti akan ketinggalan," kata Budiman Sudjatmiko pula.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
Terkini
-
Ulah Bejat Kiai Cabul, Ponpes Ndholo Kusumo Ditutup! Ratusan Santri Harus Pindah
-
Laba BRI 2025 Dorong Pembagian Dividen Besar, Total Capai Rp52,1 Triliun
-
Ancaman PMK Mengintai, Wakil Ketua DPRD Jateng Dorong Pemeriksaan Ketat Hewan Kurban
-
BRI Pro Ekonomi Kerakyatan, Holding UMi Telah Menjangkau Lebih dari 33,7 Juta Nasabah Pinjaman
-
80% Desa di Indonesia Telah Terjangkau BRILink Agen