SuaraJawaTengah.id - Para ahli mencari jawaban mengapa hujan masih turun di musim yang seharusnya kemarau. Kemarau basah: Istilah yang sebelumnya asing bagi kita.
Kemarau basah adalah sebutan untuk menjelaskan fenomena alam tingginya curah hujan di musim kering. Intensitas hujan naik 40-100 dibandingkan musim kemarau biasa.
Musim kering yang masih disertai curah hujan tinggi, dapat memicu bencana hidrometeorologi. Akibatnya bencana alam dan gagal panen terjadi.
Kemarau basah sering dikaitkan dengan anomali iklim. Perubahan cuaca yang tidak biasa.
Berdasarkan data prakiraan cuaca di Jawa Tengah, 8 September 2022, hujan intensitas sedang hingga lebat diprediksi terjadi di Kebumen, Wonosobo, Boyolali, Karanganyar, Sragen, Grobogan, Blora, dan Magelang.
Kelembaban udara tinggi berkisar 80-95 juga terjadi di Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Bumiayu, Majenang, dan Ambarawa. Kelembaban memicu perubahan tekanan udara yang menyebabkan angin kencang.
Hujan deras di musim yang seharusnya kemarau sesungguhnya bagian dari siklus cuaca yang berulang. Artinya perubahan alam ini bisa diperkirakan kapan terjadi untuk kemudian diantisipasi.
Persoalan jika kemudian siklus alam ini memicu bencana adalah karena manusia tidak siap melakukan pencegahan. Hujan tinggi memicu banjir karena hutan di lereng gunung digunduli.
Kemarau panjang menyebabkan kekeringan karena lahan-lahan terbuka yang seharusnya menjadi kawasan penangkap air, beralih fungsi menjadi perumahan atau kawasan industri.
Baca Juga: Terus Meningkat, Luas Tanam Kebun Sawit Swadaya di Kalbar Capai 534.767 Hektare
Banjir rob di Semarang dan pesisir utara Jawa Tengah, juga terjadi bukan semata-mata karena perubahan cuaca. Ada salah urus kawasan pesisir yang menyebabkan daratan digenangi air.
Eksploitasi air tanah menjadi penyebab utama banjir rob. Konsumsi air yang rakus oleh pabrik-pabrik di pesisir menyebabkan penurunan muka tanah.
Tapi memang lebih mudah menyalahkan alam sebagai penyebab terjadinya bencana, ketimbang mencari akar masalah sesungguhnya.
Ahli Membaca Musim
Perkenalkan Mbah Juni. Sesepuh Desa Giritengah, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang yang memiliki keahlian membaca perubahan musim.
"Masih seringnya hujan sekarang karena memang ini kemarau basah. Menurut ilmu di (serat) Gatoloco, ada namanya tahun sewindu. Ada 8 tahun sekali mengalami musim itu," kata Mbah Juni (65 tahun).
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
Pilihan
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
-
Akun RHB Sekuritas Milik Wadirut Dijebol, Ada Transaksi Janggal 3,6 Juta Saham BOBA
-
Danantara Janji Bangkitkan Saham Blue Chip BUMN Tahun Ini
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
Terkini
-
10 Fakta Gunung Slamet yang Mengerikan, Penyebab Pendaki Syafiq Ridhan Ali Razan Hilang Misterius
-
Fakta-fakta Mengejutkan Reza Pahlavi, Sosok yang Ingin Gulingkan Rezim Iran
-
10 Mobil LCGC Terbaik dengan Harga 100 Jutaan yang Wajib Anda Miliki!
-
7 Langkah Cepat Pemprov Jateng Atasi Bencana di Jepara, Kudus, dan Pati
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang