SuaraJawaTengah.id - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan puncak musim hujan tahun 2022-2023 di sebagian wilayah Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, akan berlangsung pada bulan November 2022.
"Secara umum wilayah Jateng selatan dan pegunungan tengah Jateng saat ini telah memasuki musim hujan," kata Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi (Stamet) Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo dikutip dari ANTARA di Cilacap, Selasa (4/10/2022).
Menurut dia, puncak musim hujan di wilayah Jateng selatan dan pegunungan tengah Jateng berbeda-beda namun secara umum diprakirakan berlangsung pada bulan Januari-Februari 2023.
Khusus untuk wilayah pesisir selatan Kabupaten Cilacap, kata dia, puncak musim hujan diprakirakan pada bulan November 2022, sedangkan wilayah barat Cilacap sekitar bulan Desember 2022-Januari 2023.
"Bulan November diprakirakan sebagai puncak musim hujan di sebagian wilayah Cilacap karena berdasarkan data klimatologis selama 30 tahun terakhir menunjukkan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan November," jelasnya.
Teguh mengatakan beberapa faktor yang menyebabkan puncak musim hujan di sebagian wilayah Cilacap terjadi pada bulan November, antara lain letak geografis yang berada di pesisir, adanya angin darat dan angin laut, serta sejumlah faktor pendukung lainnya.
Kendati puncak musim hujan di wilayah lainnya diprakirakan akan berlangsung pada bulan Januari-Februari 2023, dia mengimbau masyarakat Jateng selatan maupun pegunungan tengah Jateng untuk tetap mewaspadai potensi terjadinya bencana hidrometeorologi seiring dengan adanya peningkatan intensitas hujan.
"Berdasarkan informasi dinamika atmosfer, indeks ENSO saat sekarang masih tercatat minus 0,76 yang berdampak terhadap peningkatan curah hujan," katanya.
Selain itu, kata dia, Dipole Mode Index (DMI) sebesar minus 0,67 yang menunjukkan bahwa aktivitas pembentukan awan di Indonesia signifikan.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca Selasa 4 Oktober 2022, Berawan dan Hujan di Sebagian Wilayah Jawa Barat
Kemudian, lanjut dia, di wilayah kemaritiman Indonesia (kuadran 4) terdapat Madden Julian Oscillation (MJO) yang berkontribusi terhadap pembentukan awan sehingga menambah curah hujan.
"Yang terakhir, suhunya tidak turun-turun. Anomali suhunya masih berkisar 1-4 derajat Celcius, sehingga penguapannya menjadi lebih banyak," katanya.
Terkait dengan hal itu, Teguh menegaskan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya bencana hidrometerologi harus ditingkatkan karena Oktober hingga Desember diprakirakan sebagai bulan dengan curah hujan yang tinggi (curah hujan di atas 300 milimeter per bulan, red.) hingga sangat tinggi (curah hujan di atas 500 milimeter per bulan, red.).
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Mobil Bekas Honda yang Awet, Jarang Rewel, Cocok untuk Jangka Panjang
- Dua Tahun Sepi Pengunjung, Pedagang Kuliner Pilih Hengkang dari Pasar Sentul
- 5 Mobil Diesel Bekas 7-Seater yang Nyaman dan Aman buat Jangka Panjang
- Senyaman Nmax Senilai BeAT dan Mio? Segini Harga Suzuki Burgman 125 Bekas
- 4 Mobil Bekas 50 Jutaan dari Suzuki, Ideal untuk Harian karena Fungsional
Pilihan
-
Rumus Keliling Lingkaran Lengkap dengan 3 Contoh Soal Praktis
-
Mulai Tahun Ini Warga RI Mulai Frustasi Hadapi Kondisi Ekonomi, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
CORE Indonesia Soroti Harga Beras Mahal di Tengah Produksi Padi Meningkat
-
Karpet Merah Thomas Djiwandono: Antara Keponakan Prabowo dan Independensi BI
-
Dekati Rp17.000, Rupiah Tembus Rekor Terburuk 2026 dalam Satu Bulan Pertama
Terkini
-
Bukan LCGC! Ini 3 MPV Bekas Rp80 Jutaan Paling Nyaman dan Irit BBM, Dijamin Senyap di Tol
-
Usai OTT Bupati Sudewo, Pelayanan Publik di Kabupaten Pati Dipastikan Kondusif
-
Kunci Jawaban Matematika Kelas 4 Halaman 132: Panduan Belajar Efektif
-
Peringati HUT Ke-12, Semen Gresik Gelar SG Fun Run & Fun Walk di Area Greenbelt Pabrik Rembang
-
5 Fakta Dugaan Jual Beli Jabatan Perangkat Desa di Pati yang Menjerat Bupati Sudewo