Untuk mengurangi gejala gangguan kesehatan mental yang dirasakan, 73 persen masyarakat mengatakan mereka akan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, menjaga kecukupan tidur dan istirahat (55 persen), rekreasi (46 persen), melakukan aktivitas fisik agar tetap aktif (36 persen), bercerita kepada sahabat (34 persen), menjaga hubungan baik dengan orang lain (32 persen), membantu orang lain dengan tulus (27 persen), dan melakukan meditasi (19 persen).
Di tengah meningkatnya berbagai akses dan layanan kesehatan mental akhir-akhir ini, survei menunjukkan bahwa 69 persen masyarakat yang mengalami gejala gangguan kesehatan mental tidak pernah menggunakan layanan tersebut karena berbagai alasan.
Beberapa alasan utama yang mereka sampaikan adalah merasa tidak perlu untuk melakukan konsultasi (45 persen), meyakini bisa mencari jalan keluar sendiri (42 persen), biaya mahal (41 persen), dan malu untuk bercerita kepada orang tidak dikenal (33 persen). Namun demikian, sebagian masyarakat juga mengaku bahwa mereka tidak tahu adanya layanan kesehatan mental (27 persen).
Selanjutnya, dari 31 persen masyarakat yang pernah mencoba layanan kesehatan mental mengatakan bahwa mereka mencoba layanan tersebut karena mudah diakses (63 persen), tenaga kesehatannya mempunyai kemampuan berkomunikasi yang baik (59 persen), biaya terjangkau (57 persen), mempunyai reputasi pelayanan yang baik (47 persen), serta mengikuti rekomendasi dari teman, keluarga, pemengaruh (37 persen).
Tipe layanan kesehatan yang dipilih adalah konsultasi dengan psikolog/psikiater di klinik kesehatan terdekat (61 persen), mengakses telemedisin melalui aplikasi daring (54 persen), bergabung dengan komunitas sosial yang peduli dengan kesehatan mental (38 persen), dan konsultasi dengan pemuka agama (36 persen).
"Selain meratakan akses terhadap fasilitas dan dukungan kesehatan mental, edukasi dari berbagai pihak juga masih diperlukan guna menghapus stigma negatif terhadap gangguan kesehatan mental,” tutup Eileen.
Berbagai kenyataan dari survei di atas diharapkan bisa menjadi referensi dan memotivasi masyarakat untuk lebih peduli dengan kesehatan mentalnya, dan memiliki kesadaran penuh untuk memperbaiki dan meningkatkan kesehatan jiwanya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
Perjuangan 20 Tahun Rosidah Besarkan Usaha Gula Merah Berbuah Manis dengan Dukungan KUR BRI
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Polda Jateng Gelar Sertijab Terhadap 6 PJU dan 16 Jabatan Kapolres Jajaran, Ini Daftar Lengkapnya
-
Plt Bupati Sukoharjo Jalani Pemeriksaan KPK, Penyidikan Kasus Etik Suryani Bergulir
-
Bocah SD Boyolali Diakui NASA, Ahmad Luthfi Langsung Beri Laptop