SuaraJawaTengah.id - Menyulut mercon di puncak perayaan Lebaran bagi sebagian orang bagai tak terpisahkan. Tradisi yang kadang harus ditebus nyawa.
Menjelang Lebaran tahun 2023, di Kabupaten Magelang saja terjadi 2 kali insiden ledakan mercon berskala besar. Kejadian serupa terulang di Kendal dan Kebumen.
Pusat ledakan di Magelang berasal dari rumah Mufid (33 tahun), warga Dusun Junjungan, Desa Giriwarno, Kecamatan Kaliangkrik.
Ledakan diduga terjadi saat Mufid sedang meracik 7,5 kilogram campuran potasium nitrat, sulfur, dan brom (serbuk alumunium) menjadi bahan inti petasan.
Akibat ledakan, Mufid ditemukan tewas di tempat dalam kondisi mengenaskan. Dua orang tetangganya, Nurhayah (41 tahun) dan Naila Janur (17 tahun) dilarikan ke rumah sakit karena luka dan trauma.
Besarnya kekuatan ledakan menyapu 34 rumah di sekitar lokasi kejadian. Kerugian akibat kerusakan rumah sedang hingga berat ditaksir mencapai Rp500 juta.
Polresta Magelang langsung melakukan operasi besar, merazia lokasi yang disinyalir menjadi tempat meracik petasan. Hasilnya, 3 orang ditangkap beserta bukti setengan ton bahan mercon.
Operasi masif ini berhasil mengurangi eskalasi penggunaan petasan di puncak hari raya Idul Fitri, 22 April 2023. Meski di beberapa daerah suara ledakan mercon masih sesekali terdengar.
Dari Cina Dilarang di Batavia
Aturan larangan membuat dan menyulut petasan sudah ada sejak masa kompeni. Pemerintah yang disokong persekutuan dagang Belanda di Batavia, melarang warganya menyundut petasan.
Hampir setiap tahun penguasa VOC menerbitkan larangan membakar mercon. Larangan diperketat terutama semenjak tembok Kota Batavia selesai dibangun tahun 1650-an.
Aturan anti membakar petasan biasanya berlaku selama Desember, Januari, hingga Februari. Saat kebanyakan warga Batavia merayakan rangkaian tahun baru dan Imlek.
Mayoritas rumah-rumah di Batavia masa itu menggunakan bahan bambu dan kayu. Euforia warga menyulut petasan dikhawatirkan memicu terjadinya kebakaran.
Upaya melarang penggunaan petasan oleh VOC tidak pernah sepenuhnya berhasil. Buktinya, hingga kini mercon masih dibuat dan disulut di kampung-kampung.
Penggunaan petasan pada masa kolonial tidak terbatas pada perayaan tahun baru dan Imlek. Orang Betawi juga menyundut petasan saat Lebaran, pesta menyambut pegantin, hingga mengantar orang pergi haji.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- 3 Sepatu Puma Tanpa Tali yang Nyaman Buat Jalan, Bergaya hingga Lari
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- 5 HP OPPO Terbaru di Indonesia, dari Midrange Tangguh hingga Flagship Superior
- Buntut Panjang RI Pangkas Ekspor Gas, Bahlil Kini Ketakutan Impor Pertalite Distop Singapura
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
UNDIP dan Bhimasena Power Luncurkan Produk Hilirisasi Riset AFA dan APR
-
Bukan Sekadar Pintar, Ini Tantangan Terberat Pemimpin Muda di Era Digital Menurut Gus Yasin
-
Tragedi Porprov Jateng 2026: Dua Atlet Berprestasi Meninggal Dunia, Polisi Periksa Keterangan Dokter
-
Bukan Cuma Hiburan, Sarif Abdillah Sebut Kesenian Tradisional Simpan Petuah Penting
-
Konflik PPP Memanas, Mardiono Depak Waketum Agus Suparmanto dan Taj Yasin