SuaraJawaTengah.id - Menjamurnya pusat perbelanjaan modern alias mal di Kota Semarang bikin Plasa Simpang Lima seperti hidup segan mati tak mau. Salah satu mal tertua ini kalah pamor dengan kemunculan mal-mal baru.
Meski letaknya strategis di jantung kota, Plasa Simpang Lima mulai ditinggalkan. Sejumlah lorong mal yang dibangun tahun 1990an itu terlihat sepi. Bahkan gerai-gerai yang saling berderetan banyak yang tidak berpenghuni alias kosong.
Jika pada umumnya kita akan mudah melihat gerai fashion, makanan cepat saji, dan lain-lainnya di sebuah mal. Di Plasa Simpang Lima tidak demikian, hanya ada beberapa gerai eloktronik yang masih bertahan disana.
Salah satu pemilik gerai elektronik, Kenny mengutarakan kondisi sepi di Plasa Simpang Lima bukan hal yang baru. Bahkan kondisinya kini mirip saat Kota Semarang dilanda pandemi Covid-19.
"Seharian nggak ada pengunjung sama sekali juga sering. Puncak kejayaan terakhir Mall Plasa Simpang Lima sekitar tahun 2010an," ucap Kenny pada Suara.com, Jumat (8/12/2023).
Bisa dibilang saat ini Plasa Simpang Lima tinggal kenangan. Menjamurnya mal-mal elite seperti Paragon, DP Mal, The Park hingga Quen City Mal bikin Plasa Simpang Lima makin tenggelam.
Menurut Kenny, ada salah satu penyebab mal tersebut mulai tinggalkan masyarakat Kota Semarang. Mungkin karena bentuk gedung Plasa Simpang Lima tidak banyak mengalami perubahan. Sehingga bikin masyarakat memilih mal-mal yang lebih modern.
"Plasa Simpang Lima juga ketinggalan jauh dengan Mal Ciputra. Apalagi akses parkir disana lebih mudah," imbuhnya.
Omset Menurun Drastis
Baca Juga: Kendalikan Banjir di Kota Semarang, Mbak Ita Minta Bantuan ke Menteri PUPR
Kenny juga secara terbuka mengatakan pendapatan gerainya saat ini menurun dratis hampir 50 persen. Jika mengingat tahun 2010an, dia bahkan tidak bisa menghitung berapa banyak jumlah pengunjung yang datang mengunjungi gerainya.
"Pas ramai-ramainya pengunjung tuh sampai rela antri. Yang pasti ramainya banget nggak bisa kehitung," tuturnya.
Tidak hanya menyediakan servis handphone. Gerainya waktu itu juga menyediakan berbagai layanan tambahan seperti jual beli lagu MP3, foto artis maupun beragam aplikasi.
Layanan tambahan itu lambat laun luntur mengingat perkembangan teknologi dan internet sangat pesat. Saat ini orang-orang sangat mudah memutar musik dari youtube maupun sportify.
"Kebanyakkan toko lain tutup terutama di bagian bawah mungkin karena udah nggak kuat bayar sewa," terangnya.
Kenny sendiri sudah merintis usahanya di Plasa Simpang Lima sejak 15 tahun silam. Setiap bulannya dia membayar sewa sebesar Rp5 juta.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- Djarum Digeledah KPK, Publik Ramai Kaitkan dengan Isu Haji Isam dan DBS
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Cara Cek KTP Kita Terdaftar di Pinjol Apa Saja?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Hujan Ekstrem 349 Milimeter Guyur Cilacap, Banjir dan Longsor Terjang Sejumlah Wilayah
-
Warga Dukung Pengusutan Perusakan Warung Mi Babi Sukoharjo, Polda Jateng Jamin Proses Transparan
-
Pekalongan hingga Demak, Ancaman Rob Paksa Warga Pesisir Beradaptasi, Kerugian Capai Ratusan Triliun
-
Dugaan Tabrak Lari di Bantul, Pengemudi Mobil Ditangkap Warga Usai Hantam Pemotor Hingga Tewas
-
Desain Final Stadion Kendal Tornado FC Dirilis, Pembangunan Dimulai Tahun Depan