SuaraJawaTengah.id - Menjelang memasuki bulan Ramadan, terdapat tradisi unik yang selalu digelar di Kota Semarang. Yaitu Dugderan, tradisi masyarakat dalam menyambut bulan puasa, dengan pergelaran pasar malam dan kirab budaya.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang pun telah merancang pergelaran Dugderan 2024 secara lebih meriah dengan berbagai atraksi, seperti pasukan bergada yang akan meramaikan kirab budaya.
"Kirab budaya tahun ini ada perbedaan. Kami melibatkan pasukan bergada dari 16 kecamatan yang akan mengirimkan wakilnya," kata Kepala Disbudpar Kota Semarang Wing Wiyarso dikutip dari ANTARA pada Sabtu (24/2/2024).
Pasukan bergada atau bergodo adalah pasukan keraton yang nantinya akan ditampilkan dari masing-masing kecamatan dengan mengangkat budaya dan kearifan lokal dari setiap wilayah.
Menurut dia, banyak kekayaan budaya dan kearifan lokal yang dimiliki Kota Semarang, apalagi selama ini kontur wilayah juga memengaruhi, seperti kawasan pesisir dengan kehidupan nelayan.
"Semarang ini kan memiliki wilayah pesisir, ada pegunungan. Kami berharap pasukan bergada atau pasukan patang puluhan -sebanyak 40-an orang- ikut kirab budaya, karena sekaligus dinilai," katanya.
Namun, katanya, nantinya setiap kecamatan tidak wajib menampilkan pasukan bergada sebanyak 40-an orang, melainkan cukup 15 orang sebagai uji coba untuk memeriahkan kirab budaya Dugderan tahun ini.
Berbagai komunitas lain juga akan ikut meramaikan festival budaya Dugderan, seperti dari Kelenteng Sam Poo Kong, Kelenteng Tay Kak Sie, hingga paguyuban tosan aji atau benda pusaka.
Ia mengakui bahwa Dugderan merupakan prosesi tahunan yang menjadi tradisi khas masyarakat Kota Semarang dalam menyambut bulan puasa, dengan pergelaran pasar malam dan kirab budaya.
Baca Juga: Petahana Terdepak di Pemilu 2024, Wajah-wajah Baru Bakal Masuk ke DPRD Kota Semarang
"Dugderan merupakan kearifan budaya lokal Semarang membuktikan akulturasi budaya, dengan warak ngendok, dan sebagainya. Kami coba tahun ini akan kemas dengan lebih oke lagi," katanya.
Wing mencontohkan, pada kirab budaya biasanya ada prosesi penyerahan dan pembacaan suhuf halaqah, yakni semacam pengumuman penentuan awal puasa oleh Wali Kota Semarang di Alun-Aun Semarang.
"Insya Allah, pada proses penyerahan dan pembacaan suhuf halaqoh di Alun-Alun Masjid Kauman Semarang, Kami akan coba ubah 'setting' dengan memamerkan pemukulan bedug raksasa," katanya.
Tidak hanya itu, akan dibuat sebanyak lima gunungan makanan untuk meramaikan kirab budaya, sekaligus memecah keramaian masyarakat, karena biasanya hanya ada satu gunungan yang diperebutkan.
"Seperti tahun lalu, kasihan masyarakat rebutan gunungan karena hanya satu. Nanti maestro -gunungan- paling besar di dekat bedug, kemudian akan dibikin empat gunungan lain berukuran lebih kecil," katanya.
Empat gunungan yang berukuran lebih kecil itu akan ditempatkan di empat sisi Alun-Alun Semarang, sehingga masyarakat tidak terpusat di tengah dan bisa lebih merata dalam mendapatkan gunungan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
Terkini
-
Holding UMi Genap 5 Tahun, BRI Perluas Ekosistem Keuangan untuk Masyarakat
-
Kafilah Maluku Utara Terkesan, Ungkap Sisi Lain Keramahan Warga Jateng di MTQ Nasional 2026
-
Bubur Cirebon Go International, Kisah Tati Purwanti Bangun Usaha di Taipei
-
Kembalinya MTQ Nasional ke Jateng Setelah 47 Tahun, Pawai Ta'aruf di Semarang Langsung Diserbu Warga
-
Bukan Cuma untuk Umat Islam, MTQ Nasional di Semarang Jadi Pesta Rakyat Lintas Agama