SuaraJawaTengah.id - Melonjaknya harga beras belakangan ini membuat masyarakat semaking sengsara. Apalagi, diikuti dengan kenaikan bahan pangan lainnya.
Namun demikian, Pakar kebijakan publik Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Prof Slamet Rosyadi menilai kebijakan impor beras merupakan salah satu wujud upaya pemerintah dalam mengendalikan harga beras di pasaran yang tengah melonjak.
"Sebenarnya itu cerita lama, setiap petani panen raya, pemerintah itu mengambil kebijakan impor beras. Itu sebenarnya tujuannya kalau saya lihat supaya harga beras tidak terlalu mahal," kata Prof Slamet Rosyadi dikutip dari ANTARA pada Selasa (27/2/2024).
Ia menduga kebijakan tersebut diambil karena volume beras yang dihasilkan saat panen raya dianggap tidak bisa mencukupi kebutuhan nasional, sehingga diperlukan impor untuk menambah cadangan beras pemerintah serta menjaga stabilisasi harga.
Ia mengatakan jika harga beras stabil, paling tidak bisa mengurangi guncangan-guncangan sosial politik.
"Karena kalau misalkan harga beras terlalu mahal 'kan tentu akan membangkitkan atau menciptakan instabilitas," kata Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unsoed itu.
Selain itu, kata dia, kebijakan impor tersebut juga sebagai antisipasi terjadinya lonjakan harga beras di pasaran seperti saat masa panen sebelumnya karena gabah hasil panen petani dibeli oleh pedagang-pedagang besar dengan harga tinggi.
Dalam hal ini, pedagang besar diduga memanfaatkan isu kekeringan dan fenomena El Nino yang terjadi pada tahun 2023 untuk membeli gabah hasil panen petani dengan harapan dapat dijual dalam bentuk beras ketika harganya tinggi.
"Aksi seperti itu termasuk kategori penimbunan, sehingga harus diatasi oleh penegak hukum," katanya menjelaskan.
Baca Juga: Hasil Pertanian Surplus, Bulog Patikan Persediaan Beras di Jawa Tengah Cukup hingga April 2024
Kendati demikian, dia mengakui dengan adanya impor beras, petani lokal menjadi pihak yang tidak diuntungkan karena tidak bisa menikmati harga tinggi ketika panen.
"Di satu sisi pemerintah ingin stabilkan harga beras, tetapi di sisi lain pemerintah harus 'mengorbankan' petani kita. Ini mungkin konsekuensi yang harus diterima daripada pemerintah misalkan mendapatkan gejolak sosial politik," katanya menegaskan.
Ia mengatakan jika pemerintah mau berpihak kepada petani tentunya harus memikirkan solusi terbaik, salah satunya dengan memberikan insentif bagi petani.
Menurut dia, keberpihakan pemerintah pada petani selama ini lebih banyak dilakukan melalui pemberian subsidi pupuk maupun benih, belum kepada bagaimana mensubsidi margin perbedaan harga yang petani terima saat kondisi normal dengan kondisi saat panen raya yang "dibanjiri" beras impor.
"Misalkan, kalau petani seharusnya bisa menjual sesuai harga pasaran, namun ketika ada beras impor justru mendapatkan harga lebih rendah, selisih harganya itu harus ditanggung oleh pemerintah, sehingga petani mendapatkan keuntungan. Itu berarti pemerintah berpihak betul kepada petani," kata Prof Slamet.
Berita Terkait
Terpopuler
- Banyak UMKM Mundur dari Rans Carnival Jogja, Warganet Pasang Badan Bantu Larisin
- Tak Ingin Sakiti Hati Warga Jogja, OM Wawes Pilih Batal Manggung di RANS Carnival
- 5 Sunscreen untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- Konser Andrea Bocelli di Borobudur Tetap Digelar, KIBBM Siapkan Tablig Akbar Penolakan
- Kenapa Deretan Musisi Mundur dari Rans Carnival Jogja? Ini Kronologinya
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Legislator Sebut Andrea Bocelli Bantu Perluas Promosi Budaya Indonesia
-
Pemprov Jateng Terus Perkuat Dukungan Pesantren, dari Tali Asih Hafiz hingga Beasiswa Santri
-
Hujan Ekstrem 349 Milimeter Guyur Cilacap, Banjir dan Longsor Terjang Sejumlah Wilayah
-
Warga Dukung Pengusutan Perusakan Warung Mi Babi Sukoharjo, Polda Jateng Jamin Proses Transparan
-
Pekalongan hingga Demak, Ancaman Rob Paksa Warga Pesisir Beradaptasi, Kerugian Capai Ratusan Triliun