Scroll untuk membaca artikel
Budi Arista Romadhoni
Rabu, 24 April 2024 | 14:57 WIB
Suasana latihan ketoprak Sanggar Lumaras Budaya di Dusun Petung Kidul, Desa Petung, Pakis, Magelang (Suara.com/ Angga Haksoro).

Kegiatan ngetoprak Mbah Timbul sempat terhenti sekitar 5 tahun lalu akibat penyakit gula. Kegiatannya sehari-hari hanya dihabiskan berdiam diri di rumah.

Nuryanto, putra Mbah Timbul prihatin menyaksikan keseharian bapaknya. Menghabiskan waktu hanya duduk-duduk di muka rumah pasti sangat menyiksa. 

Dia tahu hanya ketoprak yang bisa mengembalikan semangat hidup bapaknya. Kesenian itu sudah menjadi nafas hidup Timbul.

“Saya tahu bapak itu kesukaanya cuma ketoprak sama ngingu merpati. Waktu kena penyakit gula kan vakum dari kegiatan apapun. Saya berpikir bagaimana caranya menyenangkan bapak lagi.”

Baca Juga: Benarkah Makanan Olahan Bisa Pengaruhi Menstruasi? Ini Penjelasan Dokter

Nuryanto mengumpulkan anak-anak muda Desa Petung. Para penari Sanggar Lumaras Budaya asuhan bapaknya, dia ajak membentuk kelompok ketoprak.

Sanggar Lumaras Budaya dibangun Timbul tahun 1997. Di sanggar ini dia mengajar para pemuda berbagai seni tari seperti Rampak Kurawa, Grasak Kontemporer, dan Warok Bocah.

Rumah yang sekarang ditempati Nuryanto, juga merangkap tempat latihan tari. Pada bagian belakang rumah, terdapat ruang seluas kurang lebih 50 meter persegi.

Malam itu sekitar 20 pemuda-pemudi berkumpul berlatih tari. Kebanyakan warga Desa Petung, lainnya berasal dari luar kampung.

Usia mereka rata-rata belasan tahun. Malam yang dingin. Hujan sedari sore baru saja berhenti. Satu-dua bocah tertidur di antara deretan gamalan.     

Baca Juga: Genjot Sport Tourism di Jateng, Pj Gubernur Jateng Launching Specta 2024

Kurang dari separo ruang latihan dijejali perangkat gamelan dan kendang. Ada sedikit ruang di lantai atas, dipakai untuk tempat menyimpan kostum tari dan ketoprak.

Load More