SuaraJawaTengah.id - Terminal Borobudur adalah salah satu check point terluar angkutan umum Kabupaten Magelang di sisi timur. Ramai pelintas batas menuju wilayah tetangga, Purworejo.
Meski bukan terminal besar, letaknya yang dekat dengan Candi Borobudur, membuat tempat ini dilewati banyak pelancong. Menuju candi, perjalanan tinggal lanjut naik bacak atau dokar.
Selain menjadi lintasan wisatawan, terminal Borobudur juga singgahan para pekerja nglaju dari Magelang menuju Purworejo atau sebaliknya.
Istilah nglaju dipakai untuk mereka yang beraktifitas harian bolak balik lintas wilayah. Di Yogyakarta, para penglaju biasanya warga Kabupaten Bantul yang bekerja, sekolah, atau berdagang di wilayah Kota Jogja.
Dalam kajian perpindahan penduduk, aktifitas nglaju dikenal sebagai forensen. Yaitu pergerakan sekelompok orang yang tinggal di wilayah pinggiran atau desa, menuju kota.
Mereka memiliki mata pencaharian di kota. Berangkat pagi ke tempat bekerja di kota dan kembali ke rumah pada sore hari di wilayah pinggiran.
Selain ke Kabupaten Purworejo, orang Magelang juga nglaju ke Yogyakarta atau Kabupaten Semarang. Tujuan mereka pabrik-pabrik di wilayah Kalasan, Sleman atau sekitaran Bawen dan Ungaran, Semarang.
Mereka yang tinggal di bagian barat Magelang, kebanyakan melintas batas ke Kabupaten Boyolali. Tujuannya berdagang sayuran atau menjadi buruh serabutan.
Pekerja Nglaju dan Titipan Motor
Baca Juga: Potret Umat Buddha Doa Bersama di Candi Borobudur untuk Palestina
Untuk menghemat tenaga, pelajon berangkat dari rumah naik sepeda motor. Di terminal terdekat mereka akan berganti transportasi bus atau angkot menuju tempat bekerja.
Motor ditinggal di tempat-tempat penitipan yang ada di terminal. “Kalau motor nginap, ongkos titipnya Rp5 ribu. Kalau dua hari Rp10 ribu,” kata Edi Mulyono (70 tahun).
Edi pemilik tempat penitipan motor Vela di Selatan Terminal Borobudur. Dia menyediakan ruang penitipan motor seluas 24 meter persegi.
Menurut Edi, pengguna jasa penitipan motor kebanyakan orang-orang yang bekerja atau berdagang di Purworejo. Penitipan motor buka 24 jam karena jadwal orang yang datang dan pergi tidak pasti.
“Biasanya pagi jam 5 sudah buka. Kalau ada yang datang malam dari Purworejo ya tetep buka. Saya tidur disini. Kalau tidak di sini ya tidur di warnet.”
Dulu saat bus bumel jurusan Magelang-Purworejo masih banyak beroperasi, jasa penitipan motor milik Edi Mulyono ramai sekali. Hampir tiap hari penitipan motornya penuh terisi.
Begitu juga saat Bus Rapid Transit (BRT) Trans Jateng jurusan Borobudur-Terminal Kutoarjo resmi beroperasi tahun 2020, jasa penitipan motor laris manis.
Biayai Anak Hingga Kuliah
Dari pendapatan usaha penitipan motor, warnet, dan sewa Play Station di kios kontrakan di terminal, Edi bisa menyekolahkan 4 orang anaknya hingga perguruan tinggi.
“Dulu alhamdulillah. Sek abot-abote nyekolahke lare rejekine paringi gampang. Jadi anak-anak bisa sampai kuliah semua.”
Putri pertama Edi, lulusan Institut Teknologi Telkom Purwokerto. Sekarang sambil mengajar di Institut Telkom, melanjutkan studi S2 di Malaysia.
Putri keduanya lulusan S1 Pendidikan Profesi Kebidanan. Sempat melanjutkan pendidikan S2 Kedokteran Keluarga di Universitas Negeri Surakarta namun tidak selesai.
“Anak saya nomer tiga mogol mboten lulus kuliah. Gagal dropout. Nomer empat sekarang sekolah S2 di UGM Jurusan Pertanian. Lahiran tahun 1991,” kata Edi Mulyono.
Sekitar tahun 2000, mencari uang di terminal sangat mudah. Rata-rata setiap hari dari jasa penitipan motor, paling sedikit mengantongi uang Rp300 ribu.
Edi mengontrak 4 kios di Terminal Borobudur milik Pemerintah Kabupaten Magelang, dengan biaya sewa masing-masing Rp1,1 juta per tahun. Ditambah beban membayar pajak bumi dan bangunan Rp3,3 juta.
Setiap tiga tahun sekali perjanjian hak guna usaha pemanfaatan kios di kawasan Terminal Borobudur diperbaharui. Jika telat membayar sewa, kios akan disita.
“Coba bayangkan kalau tidak ada pemasukan dari salah satu kios ini. Kalau saya tidak tempati setahun kan tetap bayar segitu. Padahal pemasukan tidak ada.”
Titipan Motor Sepi
Setelah pandemi Covid 19, entah mengapa jumlah titipan motor berkurang drastis. Jika dulu parkiran motor penuh hingga keluar kios, sekarang sehari paling banter Edi hanya menerima 8 motor.
“Itu saja kalau hari Sabtu dan Minggu. Hari-hari biasa ya nggak pasti. Hari ini saja baru ada dua motor yang masuk,” ujar Edi.
Di ruang penitipan motor seluas 24 meter persegi, hanya terlihat 2 motor matic terparkir. Sekitar 1,5 jam saya mengobrol dengan Edi, tidak ada satu motorpun yang masuk.
Padahal sejak tadi Bus Trans Jeteng keluar masuk terminal. Kebanyakan penumpang tidak membawa motor karena diantar atau dijemput orang.
“Padahal titip motor sudah murah lho. Motor Rp4 ribu. Kalau cuma sebentar saya tarik Rp3 ribu atau terserah mau ngasihnya berapa. Anak sekolah biasanya nggak menitipkan motor. Naik angkot dari rumah terus naik Trans Jateng.”
Untungnya Edi masih memiliki kios warnet yang sering dipakai anak-anak sekolah untuk mengerjakan tugas. Pendapatan dari warnet dipakai untuk nalangi biaya kontrakan penitipan motor.
“Saya malu kalau ditanya soal berapa pendapatan dari penitipan motor. Sudah yang penting bisa bertahan saja masih bagus,” kata Edi Mulyono.
Kontributor : Angga Haksoro Ardi
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 SD Swasta Terbaik di Palembang dan Estimasi Biayanya, Panduan Lengkap Orang Tua 2026
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- Aksi Kritik Gubernur Rudy Mas'ud 21 April, Massa Diminta Tak Tutup Jalan Umum
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
Pilihan
-
Purbaya Copot Febrio dan Luky dari Dirjen Kemenkeu
-
Heboh! Gara-gara Putar Balik, Sopir Truk Ini Kena Tilang Polisi Rp 22 Juta
-
Bukan Hoaks! 9 Warga Papua Termasuk Balita Tewas Ditembak saat Operasi Militer TNI
-
Harga Pangan Hari Ini Naik, Cabai dan Minyak Goreng Meroket
-
Perang AS vs Iran: Trump Perpanjang Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu
Terkini
-
Tragedi Kecelakaan Maut di Jogja: Pemotor Tak Berhelm Tabrak Nenek 80 Tahun hingga Tewas
-
Peserta UTBK Undip Berdalih Tak Paham Alat Dengar di Telinga, Polisi Beri Pembinaan
-
Ngeri! 5 Fakta Remaja Dibakar Paman di Semarang, Pemicunya Cuma Perkara Mandi
-
Rayakan Hari Kartini, BRI Gelar Srikandi Pertiwi untuk Perempuan Lebih Berdaya
-
3 Fakta Aksi Curang UTBK di Undip: Tanam Logam di Telinga Berakhir di Kantor Polisi