Dengan berbagai kejadian tersebut, banyak nelayan atau pemancing yang menghindari melintas kampung itu ketika malam hari.
Warga yang Tersisa Hanya Punya Asa
Dukuh Timbulsloko, Desa Timbulsloko, kini berpenduduk sekitar 110 kepala keluarga (KK), padahal sebelumnya sebanyak 400 KK.
Warga yang bertahan memodifikasi rumahnya menjadi rumah panggung untuk terhindar dari rob.
Tokoh Masyarakat Desa Timbulsloko Shobirin mengatakan warga yang pindah kebanyakan merasa lelah dengan keadaan.
Rob yang terus meninggi mengharuskan warga juga meninggikan rumahnya. Padahal, harga meterial tanah padas tidak murah.
Harga tanah padas per truk dump adalah Rp 500 ribu. Namun, jika diantarkan sampai ke kampung tersebut maka harganya naik menjadi Rp 2 juta.
Akses ke Dukuh Timbulsloko yang sulit membuat harga tanah padas/truk dump naik drastis. Terdapat dua cara untuk masuk ke sana.
Pertama melalui tanggul sempit sepanjang 1 km yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Kedua, melalui perahu nelayan dengan biaya menumpang sebesar Rp 10 ribu.
Baca Juga: Banjir Terus, Pemkab Demak akan Bangun Rumah Pompa atasi Rob di Sayung
"Warga yang bertahan ini, istilahnya adalah orang-orang yang pasrah karena tidak memiliki modal untuk pindah," katanya.
Shobirin menyebut terdapat 55 rumah yang sudah ditinggalnya pemiliknya. Kawasan itu dikenal dengan kampung mati dan banyak cerita horornya.
"Surga" yang Tinggal Cerita
Desa Timbulsloko yang terletak di pesisir utara Jawa Tengah dulu tidak seperti sekarang. Desa ini sebelum tahun 2000, dikenal seperti surga karena kemakmurannya.
Shobirin masih ingat betul. Ketika masih muda, banyak tanaman pohon kelapa di kampungnya, tanah sangat subur dengan berbagai macam tanaman di atasnya.
"Dulu, Desa Timbulsloko istilahnya Gemah Ripah Loh Jinawi, seperti syurga dunia. Mencari uang Rp 100 ribu/hari gampang, sekarang mungkin setara Rp 1 juta/hari," tuturnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 2 Sabun Cuci Muka Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas
- OJK Respon Isu Dirut MNC Dicekal Usai Keterangan Kontroversial Jusuf Hamka
- Kajian UGM: Durasi Pidato Prabowo Naik Tiga Kali Lipat, Ucapan Tidak Pantas Tercatat 311 Kali
- Penyekapan 10 Calon ART Gegerkan Surabaya, Pemkot Segel Penampungan di Kedung Anyar
- Tiga Jembatan di Batang Toru, Ikhtiar Menjaga Satwa Liar Tetap Terhubung
Pilihan
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
-
Kebakaran Hutan di Toraja Utara Hanguskan Kuburan Leluhur
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
Terkini
-
Bukan Sekadar Jualan, UMKM Kuliner Semarang Diajak Ubah Chat WhatsApp Jadi Omzet
-
Perkuat Daya Saing, Tiga Tim Inovasi Semen Gresik Bertarung di APQO International Conference 2026
-
Jangan Cuma Dilestarikan, Wakil Ketua DPRD Jateng Sebut Budaya Lokal Butuh Inovasi Agar Mendunia
-
Jaga Air Tanah dari Rumah, Pemprov Jateng Gelorakan Gerakan Sak Omah Sak Sumur Resapan
-
Laba BRI Capai Rp31,2 Triliun, Buyback Saham Berlanjut