Scroll untuk membaca artikel
Budi Arista Romadhoni
Rabu, 26 Maret 2025 | 14:39 WIB
Warga Kota Pekalongan dan daerah lain sedang mengikuti kegiatan Ballon Festival Tambat 2024 di Pekalongan. [ANTARA/HO-Humas Kota Pekalongan]

SuaraJawaTengah.id - Pemerintah Kota Pekalongan, Jawa Tengah, kembali menggelar Festival Balon Tambat sebagai bagian dari upaya pelestarian tradisi Syawalan sekaligus mencegah penerbangan balon liar yang berpotensi membahayakan lalu lintas udara.

Festival ini bekerja sama dengan Otoritas Bandar Udara Wilayah III Surabaya dan AirNav Semarang.

Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kota Pekalongan, Sabaryo Pramono, mengungkapkan bahwa festival tahun ini dibuat lebih meriah dan kompetitif dengan sejumlah perubahan dalam mekanisme penyelenggaraan.

Salah satunya adalah sistem pengundian peserta secara acak, tidak lagi berdasarkan kecamatan, sehingga meningkatkan aspek kejutan dan persaingan di antara peserta.

Baca Juga: Siapa Eko Lusjianto? Anggota DPRD Pekalongan Terjerat Dugaan Korupsi BMT Mitra Umat

"Festival balon kembali digelar di kota ini dengan lebih meriah dan kompetitif. Tahun ini, mekanisme penyelenggaraan sedikit berbeda, di mana peserta akan diundi secara acak dan tidak berdasarkan kecamatan agar kompetisi lebih menarik," kata Sabaryo dikutip dari ANTARA di Pekalongan, Rabu (26/3/2025).

Pelaksanaan festival akan dibagi dalam dua tahap penyisihan, yakni pada 2 April 2025 di Lapangan Palapa (Kecamatan Pekalongan Barat) dan Lapangan Peturen (Kecamatan Pekalongan Timur), serta pada 3 April 2025 di Lapangan Sokoduwet (Kecamatan Pekalongan Selatan).

Babak grand final akan digelar pada 7 April 2025 di Lapangan Mataram, bertepatan dengan perayaan tradisi Syawalan.

Animo masyarakat terhadap festival ini cukup tinggi. Hingga saat ini, tercatat sudah ada 67 peserta yang mendaftar, termasuk tim dari luar Kota Pekalongan, seperti Kabupaten Pekalongan, Batang, dan Wonosobo. Panitia menargetkan setidaknya 80 tim untuk ikut serta, dengan batas akhir pendaftaran pada 27 Maret 2025.

Festival balon tambat ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi kreatif bagi masyarakat tetapi juga mengedepankan aspek keselamatan penerbangan.

Baca Juga: Skandal Dana Hibah KONI Pekalongan: Pengurus Cabor Palsukan Stempel Demi Laporan Fiktif

Acara ini mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 40 Tahun 2018 yang mengatur bahwa balon tambat harus memiliki ketinggian maksimal 150 meter, diameter 4 meter, dan tinggi sekitar 7 meter.

"Kami mengimbau masyarakat agar tidak menerbangkan balon secara liar karena dapat membahayakan jalur penerbangan. Mari bersama-sama menjaga tradisi Syawalan agar tetap hidup tanpa mengganggu keselamatan penerbangan," tegas Sabaryo.

Seperti diketahui, tradisi menerbangkan balon udara saat Syawalan telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Pekalongan.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, penerbangan balon liar tanpa kendali menjadi permasalahan serius karena dapat mengancam keselamatan penerbangan.

Oleh karena itu, festival ini hadir sebagai solusi agar tradisi tetap berjalan tanpa risiko terhadap lalu lintas udara.

Selain aspek keselamatan, festival ini juga diharapkan mampu meningkatkan sektor pariwisata dan ekonomi lokal. Setiap tahun, ajang ini menarik perhatian wisatawan yang ingin menyaksikan kreativitas peserta dalam membuat balon beraneka motif dan warna.

Pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) juga turut merasakan dampaknya, dengan meningkatnya kunjungan wisatawan yang berbelanja kuliner khas Pekalongan serta produk lokal lainnya.

Para peserta festival diharapkan dapat menampilkan inovasi terbaik mereka dalam mendesain balon tambat yang tidak hanya memenuhi standar keselamatan, tetapi juga memiliki nilai estetika tinggi.

Kriteria penilaian dalam kompetisi ini mencakup kreativitas desain, kesesuaian ukuran, serta kepatuhan terhadap aturan penerbangan balon tambat.

"Kami juga ingin menjadikan festival ini sebagai ajang edukasi bagi generasi muda tentang bagaimana melestarikan tradisi secara bertanggung jawab. Dengan adanya aturan yang jelas, masyarakat dapat tetap menikmati euforia Syawalan tanpa mengorbankan faktor keselamatan," tambah Sabaryo.

Penyelenggaraan festival ini mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk komunitas pecinta balon udara dan pemerhati budaya.

Harapannya, ke depan, Festival Balon Tambat Kota Pekalongan bisa semakin dikenal secara nasional dan menjadi ikon budaya yang membanggakan.

Gelaran Festival Balon Tambat menjadi bukti bahwa budaya dan keselamatan dapat berjalan beriringan. Dengan pendekatan yang lebih terstruktur dan kompetitif, festival ini tidak hanya menjadi ajang hiburan tetapi juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga keseimbangan antara tradisi dan keselamatan bersama.

Load More