SuaraJawaTengah.id - Di tahun 2025 atau 1446 Hijriah ini, jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia kembali menapaki jejak para Nabi di Tanah Suci dalam momen puncak ibadah haji.
Di antara rangkaian ritualnya, hari Arafah menjadi klimaks yang paling dinantikan — saat para jamaah berdiam diri di Padang Arafah, mengangkat tangan dalam doa dan taubat, memohon ampunan dalam suasana yang haru dan sakral.
Namun, keagungan hari Arafah tidak hanya berlaku bagi mereka yang berada di tanah haram. Bagi umat Islam yang tidak berhaji, ada amalan istimewa yang bisa dilakukan untuk menyatu secara ruhani dengan momentum tersebut: puasa Arafah.
Bagaimana awal mula ibadah ini diperintahkan? Apa dasarnya dalam Al-Qur’an dan sunnah? Dan mengapa ia begitu dianjurkan? Mari kita telusuri akar sejarahnya, dan pahami bagaimana puasa Arafah menjadi jembatan spiritual antara kita dan Padang Arafah.
Asal Usul Penamaan Arafah dan Hubungannya dengan Ibadah
Kata “Arafah” berasal dari bahasa Arab yang berarti “mengenal” atau “mengetahui”. Dalam sejumlah riwayat, disebutkan bahwa di Padang Arafah-lah Nabi Adam dan Hawa dipertemukan kembali setelah diturunkan ke bumi, lalu mereka “saling mengenal” (ta'aruf).
Namun dalam konteks syariat Islam, Arafah dikenal sebagai tempat pelaksanaan rukun terbesar dalam ibadah haji, yakni wukuf, yang disebut Rasulullah sebagai “Haji adalah Arafah.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Dasar Puasa Arafah dalam Al-Qur’an dan Hadits
Walaupun tidak disebut secara eksplisit dalam satu ayat khusus, hari Arafah termasuk dalam sepuluh hari pertama Dzulhijjah yang Allah muliakan:
Baca Juga: Pj Gubernur Jateng Sambut Kedatangan Jemaah Haji Kloter I Embarkasi Solo
“Demi fajar, dan malam yang sepuluh...” (QS. Al-Fajr: 1-2)
Menurut para mufassir seperti Ibnu Katsir dan Al-Thabari, “malam yang sepuluh” merujuk pada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, termasuk hari Arafah.
Sedangkan keutamaan puasa Arafah diriwayatkan dalam hadits shahih:
Dari Abu Qatadah, Rasulullah bersabda:
“Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.” (HR. Muslim No. 1162)
Momen Penurunan Ayat Kesempurnaan Agama
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- OJK Respon Isu Dirut MNC Dicekal Usai Keterangan Kontroversial Jusuf Hamka
- 2 Sabun Cuci Muka Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas
- Sepasang Sepatu Nike dari Manhattan dan Cerita di Balik Sosok Jenderal Maruli Simanjuntak
- Ini 3 Pilihan Terbaik HP Snapdragon Termurah dengan Layar AMOLED
- Lagu Runaway Menggema di SUGBK, Jadi Penutup Konser Kanye West di Jakarta
Pilihan
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
-
Kebakaran Hutan di Toraja Utara Hanguskan Kuburan Leluhur
-
Prabowo Tak Takut Ancaman MSCI, OJK: Kita Tetap Usaha Jadi Emerging Market
-
Pasar Bergejolak, Kapan Waktunya Beli, Tahan, atau Jual Saham?
-
Aktivis Greenpeace: Kalau Rakyat Menanggung Semua Krisis Sendiri, Apa Kerja Pemerintah?
Terkini
-
Pilar Penting Bangsa, Wakil Ketua DPRD Jateng Desak Pemerintah Perkuat Kelembagaan Pesantren
-
Waspada Hujan Lebat Sore hingga Malam, Semarang Berpotensi Diguyur Hujan Ringan
-
Dua Tahun dalam Teror: Anak Perempuan di Pati Jadi Korban Kekerasan Seksual Ayah dan Kakak Tiri
-
Dikeroyok Perguruan Silat hingga 7 Tahun Koma, Kompol Aditia Menghembuskan Nafas Terakhir
-
Turun Langsung ke Cilacap, Ini Deretan Aspirasi Warga yang Diterima Wapres Gibran dan Sekda Jateng