SuaraJawaTengah.id - Musim haji 2025 atau haji 1446 Hijriah akan segera tiba. Jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia, tengah bersiap menunaikan rukun Islam kelima.
Di balik kemegahan sistem haji modern yang tertata rapi hari ini, Gus Baha ulama karismatik asal Rembang mengingatkan kita semua agar tidak melupakan sejarah kelam perjalanan haji di masa lampau atau perjuangan haji zaman dahulu.
Dalam salah satu pengajiannya, Gus Baha bercerita tentang betapa sulitnya menjadi jamaah haji Indonesia pada zaman dulu. Banyak yang tersesat, menjadi korban perampokan, bahkan tak sedikit yang meninggal dalam perjalanan karena lamanya waktu tempuh dan minimnya perlindungan.
“Dulu itu orang kalau haji harus amnuariq,” kata Gus Baha, yang berarti mereka harus benar-benar siap menanggung segala risiko perjalanan darat yang sangat berat dan berbahaya.
Gus Baha menyebut istilah Ujrotul Khauf, sebuah ungkapan lama yang menggambarkan betapa menegangkannya perjalanan haji pada masa lalu. Perjalanan darat yang melewati padang pasir membuat banyak jamaah menjadi korban begal.
“Kalau di sana ada 10 begal, ya kita harus bawa pengawal 20 orang,” ujarnya. Bahkan ada yang sampai menyewa penjaga dari kelompok silat seperti Pagar Nusa atau Banser demi keamanan.
Lucunya, dalam pengajian itu Gus Baha juga menceritakan kisah putrinya yang ingin ikut bela diri agar bisa melindungi diri ketika berangkat haji.
Ia berkata, “Pak, saya boleh ikut PN nggak?” PN yang dimaksud adalah Pagar Nusa. Gus Baha, dengan gaya khasnya yang jenaka, menjawab bahwa syaratnya harus pakai sabuk hitam agar terlihat keren.
Namun di balik guyonan itu, ada pesan serius: keamanan dalam berhaji dulunya adalah sesuatu yang mahal. Dalam fatwa beberapa ulama terdahulu, jika seseorang memiliki harta lebih, maka dia tetap wajib berhaji walau harus mengeluarkan dana tambahan besar untuk pengamanan.
Baca Juga: Pj Gubernur Jateng Sambut Kedatangan Jemaah Haji Kloter I Embarkasi Solo
“Misalnya ongkos haji 100 juta, biaya keamanan 100 juta, ya tetap wajib karena dia mampu,” jelas Gus Baha.
Banyak Calon Jamaah Haji Nyasar
Ia juga menyampaikan bahwa sistem keamanan baru di negara-negara Timur Tengah seperti Irak dan Arab Saudi telah banyak berubah sejak dulu.
Dulu Irak, misalnya, sempat menjadi sarang kriminal yang membahayakan jamaah. Tapi dengan berkembangnya institusi negara dan kepolisian, keamanan jamaah semakin terjamin. Hal ini juga berlaku di Indonesia.
“Dulu itu kalau orang Indonesia mau haji, seringnya lewat Singapura dulu, terus nyasar ke mana-mana, kadang malah tersesat,” kata Gus Baha. Buyut beliau sendiri konon membutuhkan waktu setahun untuk bisa kembali ke rumah setelah berhaji.
“Setahun hilang, baru pulang. Itu pun sakit-sakitan,” imbuhnya sebagaimana dikutip dari YouTube Sing Penting Ngaji.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
Pilihan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
-
Nanik Mundur dari Kepala BGN, Ini Alasannya
-
Nanik S Deyang Mundur dari Kepala BGN, Prabowo Minta Tetap Awasi MBG
Terkini
-
Jaga Sumber Air dari Hulu hingga ke Hilir, AMDATARA Tanam 250 Mangrove di Pesisir Jateng
-
Perempuan Berkebutuhan Khusus Tewas Terpanggang saat Rumahnya Terbakar
-
Kiper Juara Liga 1 Merapat! PSIS Semarang Datangkan Reky Rahayu
-
121 Juru Parkir Semarang Menunggak Setoran, PAD Rp280 Juta Terancam Melayang
-
Kualitas Aset Membaik, JPMorgan Naikkan Rekomendasi Saham BBRI Menjadi Overweight