SuaraJawaTengah.id - Kondisi lahan di Provinsi Jawa Tengah kini berada dalam titik yang sangat mengkhawatirkan. Data terbaru menunjukkan total luas lahan yang masuk kategori kritis, sangat kritis, agak kritis, hingga berpotensi kritis telah mencapai hampir 1,6 juta hektar.
Angka ini menjadi sinyal bahaya serius yang menuntut penanganan berkelanjutan dan inovatif dari semua pihak.
Peringatan keras ini datang dari Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Sarif Abdillah, yang menegaskan bahwa isu lahan kritis sama mendesaknya dengan mitigasi perubahan iklim yang selama ini digalakkan.
Menurutnya, penanganan yang sporadis dan tanpa terobosan tidak akan cukup untuk mengatasi skala masalah yang ada.
“Jumlah lahan kritis di Jawa Tengah masih terbilang tinggi. Jadi memang perlu dilakukan penanganan yang berkesinambungan,” ungkapnya di Semarang pada Rabu (16/7/2025).
Kekhawatiran politikus PKB ini bukan tanpa dasar. Ia membeberkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah tahun 2024 yang melukiskan gambaran suram kondisi pertanahan di provinsi ini.
Berdasarkan data tersebut, tercatat ada lahan seluas 32.396,48 ha yang masuk kategori sangat kritis. Angka ini diperparah dengan 282.832,98 ha dalam kategori kritis, 719.710,90 ha kategori agak kritis, dan 539.559,62 ha yang berstatus potensi kritis. Jika ditotal, luasnya mencapai 1.574.499,98 hektar.
Sebaran lahan kritis ini pun cukup merata dan menjadi ancaman di berbagai kabupaten/kota. Sarif memberikan contoh spesifik di daerah pemilihannya.
“Ini cukup merata di berbagai daerah, misalnya potensi lahan kritis Cilacap 18.463,73 hektar, dan di Banyumas 34.297,31 hektar,” terang politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.
Baca Juga: 9 Mitos Bunga Melati yang Masih Dipercaya: Antara Mitos dan Melestarikan Budaya
Ancaman Banjir hingga Kerugian Ekonomi
Lebih lanjut, Sarif Abdillah menjelaskan dampak mengerikan yang bisa timbul jika lahan kritis ini terus diabaikan. Lahan yang rusak akan kehilangan fungsinya sebagai pengatur tata air alami.
Akibatnya, risiko banjir, kekeringan saat kemarau, dan sedimentasi di wilayah hilir akan semakin meningkat.
“Dampak lahan kritis mengakibatkan penurunan fungsi konservasi, fungsi produksi, dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat sekitar,” terang legislator dari daerah pemilihan (dapil) Banyumas dan Cilacap ini.
Ia memperingatkan, pembiaran terhadap masalah ini hanya akan memperluas area lahan yang rusak dan tidak produktif. Pada akhirnya, masyarakat luas yang akan menanggung akibatnya, baik secara lingkungan maupun ekonomi.
“Ini bisa mempengaruhi kualitas lingkungan, kerugian materi, serta penurunan kesejahteraan masyarakat,” beber pria yang akrab disapa Kakung ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Wardah Pagi dan Malam untuk Usia 50 Tahun ke Atas
- Ini 4 Smartphone Paling Diburu di Awal Januari 2026
- 5 Sepatu Nike Diskon hingga 40% di Sneakers Dept, Kualitas Bagus Harga Miring
- 5 Tablet dengan SIM Card Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking Anti Ribet
- Beda dengan Inara Rusli, Wardatina Mawa Tolak Lepas Cadar Demi Uang
Pilihan
-
Harga Minyak Anjlok! Pernyataan Trump Soal Minyak Venezuela Picu Kekhawatiran Surplus Global
-
5 HP Infinix RAM 8 GB Paling Murah, Pilihan Terbaik Mulai 1 Jutaan
-
UMP Minim, Biaya Pendidikan Tinggi, Warga Jogja Hanya jadi Penonton Kemeriahan Pariwisata
-
Cek Fakta: Video Rapat DPRD Jabar Bahas Vasektomi Jadi Syarat Bansos, Ini Faktanya
-
Dipecat Manchester United, Begini Statistik Ruben Amorim di Old Trafford
Terkini
-
Libur Nataru, Pertamina Ungkap Pergeseran Mengejutkan Preferensi BBM Pengemudi di Jateng dan DIY
-
Jadwal Pencairan Bansos PKH dan BPNT Januari 2026: Cek Penerima dan Nominalnya
-
Pemprov Jateng Lampung Teken 11 Kerja Sama, NIlainya Capai Rp 832,3 Miliar per Tahun
-
10 Mobil Pick Up Murah Tangguh yang Cocok Buat Usaha
-
7 Fakta Viral Nota Warung Kopi Fantastis di Telaga Sarangan Magetan