5. Nasakom sebagai Ide Pemersatu yang Gagal
Walaupun awalnya dimaksudkan sebagai pemersatu bangsa, Nasakom justru memperuncing perpecahan politik. Kekuatan politik yang disatukan secara paksa tidak menghasilkan harmoni, melainkan kecurigaan dan persaingan.
PKI merasa mendapat perlindungan penuh dari Soekarno, sementara kelompok agama dan militer merasa terancam oleh keberadaan komunisme.
6. Jalan Menuju G30S 1965
Ketidakseimbangan antara tiga kekuatan utama dalam Nasakom menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya G30S 1965. Dengan dominasi PKI yang makin kuat, sementara militer merasa terpojok, konflik besar akhirnya pecah.
Gerakan 30 September (G30S) yang menewaskan sejumlah jenderal Angkatan Darat menjadi titik balik yang mengguncang politik nasional.
7. Jatuhnya Soekarno
Setelah peristiwa G30S, legitimasi Soekarno runtuh. Dukungan terhadap Nasakom lenyap karena PKI dianggap sebagai dalang kudeta. Militer mengambil alih kendali, dan Soekarno dipaksa menyerahkan kekuasaan kepada Soeharto melalui Supersemar 1966. Dengan jatuhnya Soekarno, berakhir pula era Nasakom yang sebelumnya diagung-agungkan.
8. Warisan Nasakom bagi Politik Indonesia
Baca Juga: Ekonomi Tumbuh 5,13 Persen, Mekari Ungkap Alasan Bisnis Jateng Wajib Digitalisasi Sekarang
Nasakom meninggalkan warisan kontroversial dalam sejarah Indonesia. Di satu sisi, gagasan ini menunjukkan upaya Soekarno untuk menyatukan perbedaan ideologi besar.
Namun di sisi lain, kegagalan penerapan Nasakom juga memperlihatkan betapa rapuhnya kompromi politik jika tidak disertai dengan keseimbangan kekuatan.
Pencetusan Nasakom pada 1956 hingga penerapannya dalam Demokrasi Terpimpin setelah 1959, menunjukkan keinginan Soekarno untuk menjaga stabilitas politik dengan menyatukan nasionalisme, agama, dan komunisme.
Namun, implementasinya justru memperlebar jurang konflik antara PKI, militer, dan kelompok agama. Alih-alih memperkuat bangsa, Nasakom berakhir menjadi biang kerok yang membuka jalan bagi tragedi G30S 1965 dan kejatuhan Soekarno.
Warisan ini tetap menjadi pelajaran penting tentang risiko besar ketika ideologi dipaksakan tanpa memperhitungkan keseimbangan nyata di lapangan.
Kontributor : Dinar Oktarini
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- 5 Sabun Mandi Vitamin C Terbaik untuk Mencerahkan Kulit Belang, Lengkap dengan Review Pengguna
- Daftar Shio yang Paling Tidak Cocok dengan Shio Macan dalam Bisnis dan Asmara
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Gubernur Sulsel Telepon Langsung Pemilik SPBU
Pilihan
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
Terkini
-
Bubur Cirebon Go International, Kisah Tati Purwanti Bangun Usaha di Taipei
-
Kembalinya MTQ Nasional ke Jateng Setelah 47 Tahun, Pawai Ta'aruf di Semarang Langsung Diserbu Warga
-
Bukan Cuma untuk Umat Islam, MTQ Nasional di Semarang Jadi Pesta Rakyat Lintas Agama
-
Tim Gabungan Sita 2.188 Batang Rokok Ilegal di Wonosobo
-
Misi Promosi Liga 1 Dimulai! Kendal Tornado FC Bidik 3 Poin di Surabaya