-
- LEKRA lahir 17 Agustus 1950, membawa gagasan seni berpihak pada rakyat dengan semboyan revolusi.
- Prinsip “Politik adalah Panglima” dorong seniman turun ke rakyat, lahir karya sastra, teater, musik.
- Dekat dengan PKI, LEKRA runtuh pasca 1965, namun warisan “seni untuk rakyat” tetap hidup hingga kini.
4. Konflik Budaya: LEKRA vs Manikebu
Dekade 1960-an menjadi panggung pertarungan ideologi kebudayaan. LEKRA semakin dekat dengan PKI dan mendapat angin segar di masa Demokrasi Terpimpin (1959–1965) karena dukungan Presiden Soekarno.
Namun muncul kelompok tandingan: Manifesto Kebudayaan (Manikebu) yang bertentangan dengan nilai-nilai LEKRA yakni mengedepankan humanisme universal dan kebebasan seniman.
Polemik ini menjadi salah satu konflik budaya paling terkenal di Indonesia. Tidak hanya berhenti pada perdebatan, tapi juga memengaruhi publikasi karya. Meski begitu, posisi LEKRA justru makin besar hingga menjadi organisasi kebudayaan terbesar di awal 1960-an.
5. Runtuh Pasca 1965 dan Warisan Kontroversial
Tragedi politik 30 September 1965 menjadi titik balik. PKI dituduh dalang kudeta, dan LEKRA ikut terseret. Pada 1966, rezim Orde Baru melarang LEKRA. Banyak anggotanya ditangkap, dipenjara tanpa pengadilan, diasingkan ke Pulau Buru, bahkan dieksekusi.
Nama LEKRA kemudian dihapus dari buku sejarah, karya-karyanya disensor, seakan organisasi ini tak pernah ada. Baru setelah Reformasi 1998, sejarawan mulai mengkaji ulang jejaknya.
Kisah LEKRA adalah cermin betapa rumitnya hubungan antara seni, politik, dan rakyat. Ia lahir dengan semangat revolusi, tumbuh besar, terlibat dalam konflik, lalu runtuh secara tragis. Meski demikian, semangat “seni untuk rakyat” tetap hidup hingga kini, baik sebagai inspirasi maupun sebagai peringatan.
Pertanyaan besar yang ditinggalkan LEKRA pun masih relevan: Apakah seni harus netral, ataukah ia justru wajib berpihak pada rakyat? Jawabannya bergantung pada bagaimana kita memaknai seni dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Menguak Misteri Dewan Jenderal dan Dokumen Gilchrist, Bahan Bakar Tragedi G30S PKI
Kontributor : Dinar Oktarini
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Moisturizer yang Cocok untuk Kulit Kering dan Kusam di Usia 40 Tahun ke Atas
- 4 HP Kamera 200 MP Under Rp5 Juta untuk Foto dan Video Kualitas Tinggi
- 5 Lipstik Wardah yang Tahan Lama Saat Hujan dan Tidak Mudah Luntur Saat Makan
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Resmi, MA Putuskan Suket Penyetaraan Ijazah Gibran Tidak Sah
-
Kembangkan AURA, Suara.com Raih AMSI Awards 2026 di Bidang Inovasi Produk dan Pemanfaatan AI
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
Terkini
-
Desain Final Stadion Kendal Tornado FC Dirilis, Pembangunan Dimulai Tahun Depan
-
Buntut Penggeledahan "Ponpes" di Sukoharjo, Taj Yasin Pastikan Pendampingan Psikologis Anak-Anak
-
Ancaman Megathrust di Wisata Jateng, Sarif Abdillah Desak Hotel dan Destinasi Punya Standar Mitigasi
-
Bikin Bangga Indonesia! Inovasi Kelas Dunia Antarkan Semen Gresik Raih 4 Bintang di APQO 2026
-
BRI Raih Empat Penghargaan, Dorong UMKM Naik Kelas dan Makin Berdaya