- PKI angkat isu kemiskinan, janji tanah bagi petani, dan dukung buruh miskin di kota serta desa.
- Sentimen anti-kolonialisme dan anti-Amerika jadi kekuatan PKI menarik simpati rakyat 1950-an.
- PKI tawarkan janji sosial: upah layak, perlindungan nelayan, hingga hak pegawai negeri.
SuaraJawaTengah.id - Pada Pemilu 1955, Partai Komunis Indonesia (PKI) meraih posisi keempat dengan memenangkan 39 kursi di DPR dan 80 kursi di konstituante.
Meskipun sejak Orde Baru PKI mendapat stigma buruk, ada beberapa alasan yang membuat partai ini sangat menarik bagi sebagian besar rakyat Indonesia, terutama pada era 1950-an.
Sebagaimana dikutip dari YouTube Neo Lambe Sundel, berikut adalah lima faktor utama yang menjelaskan mengapa banyak yang memilih PKI pada tahun tersebut.
1. Isu Kemiskinan yang Dikampanyekan PKI
Salah satu kekuatan utama yang dimiliki PKI pada Pemilu 1955 adalah kemampuan mereka dalam mengangkat isu kemiskinan, yang menjadi masalah besar di Indonesia pada masa itu. Kemiskinan tidak hanya terjadi di kota, tetapi juga merambah ke kawasan pedesaan.
PKI memanfaatkan situasi ini dengan baik, menawarkan solusi bagi kaum buruh dan tani yang menderita. Di kota, PKI menarik perhatian kaum buruh yang upahnya sangat rendah, sedangkan di desa, mereka mengincar petani yang hidup dalam kemiskinan endemik.
Melalui lambang palu dan arit, PKI berhasil membangun citra sebagai pembela kaum tertindas.
2. Janji Pembagian Tanah kepada Kaum Tani
PKI juga sukses dalam menyuarakan perjuangan untuk pembagian tanah kepada petani. Pada masa itu, banyak petani yang tidak memiliki tanah sendiri dan hidup dalam ketertindasan akibat feodalisme yang sangat kuat.
Baca Juga: Rahasia Gelap Angkatan Kelima dan Jalan Merah Menuju G30S PKI
PKI menjanjikan pembagian tanah kepada petani, terutama kepada mereka yang miskin dan tidak memiliki lahan. Program ini mendapat sambutan positif, karena banyak petani yang berharap bisa memiliki tanah sendiri dan lepas dari jeratan tuan tanah.
3. Anti-Kolonialisme dan Sentimen Anti-Amerika
PKI dikenal dengan sikap anti-kolonialisme yang kuat, terutama terhadap pengaruh negara-negara imperialis, khususnya Amerika Serikat. Pada era 1950-an, Amerika Serikat semakin menguatkan pengaruhnya di Indonesia, terutama di sektor ekonomi.
PKI menganggap kehadiran perusahaan-perusahaan Amerika sebagai bentuk neokolonialisme, yang hanya menguntungkan pihak asing dan merugikan rakyat Indonesia. Sentimen anti-asing ini berhasil menarik perhatian banyak orang yang merasa tertindas oleh dominasi ekonomi asing di tanah air.
4. Kampanye dengan Janji-janji Sosial yang Menarik
PKI tahu bagaimana cara menarik perhatian pemilih dengan menawarkan janji-janji sosial yang menarik.
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp20 Ribu dan Rp10 Ribu di Tangerang
- Apakah Ada Penukaran Uang Baru BI Pintar Periode 3? Ini Pengumuman Pastinya
- 3 Cara Melihat Data Kepemilikan Saham di Atas 1 Persen: Resmi KSE dan BEI
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Palembang
- 6 Sepatu Lari Lokal Berkualitas Selevel HOKA Ori, Cocok untuk Trail Run
Pilihan
-
Shin Tae-yong Gabung FC Bekasi City, Ini Jabatannya
-
Pelatih Al Nassr: Cristiano Ronaldo Resmi Tinggalkan Arab Saudi
-
WHO: 13 Rumah Sakit di Iran Hancur Dibom Israel dan Amerika Serikat
-
Bahlil Lahadalia: Bagi Golkar, Lailatul Qadar Itu Kalau Kursi Tambah
-
Gedung DPR Dikepung Massa, Tuntut Pembatalan Kerja Sama RI-AS dan Tolak BoP
Terkini
-
Waspada! BMKG Beri Peringatan Dini Cuaca di Semarang, Potensi Hujan Lebat Disertai Petir
-
5 Fakta Mengejutkan Dibalik Video Viral Pengejaran Begal Payudara di Pati
-
BRI Semarang Tebar Berkah Ramadan, Berbagi Makanan Berbuka untuk Pengendara
-
BRI KPR Berikan Kemudahan Akses Pembiayaan untuk Wujudkan Rumah Impian
-
Jateng Bakal Diserbu 17 Juta Pemudik, Gubernur Luthfi Gerak Cepat Amankan Stok Pangan