- Lontong berakar dari tradisi dakwah Islam abad ke-15, diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga di Jawa.
- Lontong menjadi simbol kebersamaan dalam perayaan dan memperkuat identitas sosial masyarakat Indonesia.
- Variasi daerah seperti lontong balap dan lontong sayur menegaskan kekayaan budaya kuliner Nusantara.
SuaraJawaTengah.id - Kuliner Indonesia kaya ragam, dan salah satu yang paling dikenal adalah lontong, nasi yang dipadatkan, dibungkus daun pisang, lalu dikukus hingga menjadi silinder yang bisa dipotong-potong.
Di balik tampilan yang sederhana, lontong ternyata memiliki akar sejarah, budaya, dan identitas nasional yang kuat.
Sebagaimana dikutip dari YouTube SerbaID lontong mulai dikenal di Jawa setelah masuknya Islam, sekitar abad ke-15 hingga ke-17, hingga kemudian menjadi bagian tradisi kuliner Nusantara.
Berikut enam fakta menarik tentang lontong yang layak kita pahami bersama.
1. Awal Mula dari Ketupat, Dikaitkan dengan Dakwah Islam
Lontong memiliki kaitan erat dengan ketupat, makanan beras yang dikemas dalam anyaman janur kelapa muda dan dikukus. Kedua makanan ini menggunakan bahan dasar yang sama yaitu beras dan bungkus daun alami.
Menurut keterangan sejarah, ketika agama Islam mulai menyebar di Pulau Jawa khususnya melalui upaya dakwah para wali makanan seperti ketupat dan lontong mulai digunakan sebagai bagian dari pendekatan budaya.
Salah satu tokoh yang disebut-sebut adalah Sunan Kalijaga yang menurut beberapa catatan memperkenalkan lontong kepada masyarakat Jawa sebagai bagian dari dakwahnya.
Dengan demikian lontong tidak hanya makanan tetapi juga bagian dari warisan budaya yang menghubungkan agama, masyarakat dan tradisi kuliner.
Baca Juga: 7 Rekomendasi Nasi Rames Murah Rp5 Ribuan di Semarang
2. Lontong Menjadi Hidangan Perayaan dan Simbol Kebersamaan
Seiring berkembangnya waktu, lontong berubah dari makanan harian menjadi hidangan penting dalam acara-acara khusus seperti syukuran, Lebaran dan acara keluarga.
Nama lontong mulai populer sebagai pengganti nasi putih dan bagian tradisi setelah penyebaran Islam ke Jawa. Hadirnya lontong dalam berbagai jamuan menunjukkan bahwa makanan ini menjadi simbol kebersamaan dan identitas bersama.
Kebiasaan saling berbagi lontong dalam perayaan menggambarkan nilai sosial seperti gotong royong dan kehangatan yang khas masyarakat Indonesia.
3. Variasi Daerah yang Bermacam-macam Menguatkan Identitas Lokal
Salah satu hal menarik tentang lontong adalah bagaimana satu jenis makanan berkembang menjadi banyak varian di berbagai daerah.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Link Download Gratis Ebook PDF Buku Broken Strings, Memoar Pilu Karya Aurelie Moeremans
- 5 Sampo Penghitam Rambut yang Tahan Lama, Solusi Praktis Tutupi Uban
- 5 Mobil Nissan Bekas yang Jarang Rewel untuk Pemakaian Jangka Panjang
- 4 Bedak Wardah Terbaik untuk Usia 50 Tahun ke Atas, Bantu Samarkan Kerutan
- 7 Sepatu Skechers Wanita Tanpa Tali, Simple Cocok untuk Usia 45 Tahun ke Atas
Pilihan
-
John Herdman Termotivasi Memenangi Piala AFF 2026, Tapi...
-
Purbaya Sebut Bisnis Sektor Media Cerah: Saham DIGI, TMPO, dan VIVA Langsung Ceria
-
Dari 'Kargo Gelap' Garuda ke Nakhoda Humpuss: Kembalinya Ari Askhara di Imperium Tommy Soeharto
-
Tanpa Bintang Eropa, Inilah Wajah Baru Timnas Indonesia Era John Herdman di Piala AFF 2026
-
Hari Ini Ngacir 8 Persen, Saham DIGI Telah Terbang 184 Persen
Terkini
-
Tragedi Gunung Slamet: Syafiq Ali Ditemukan Tewas Setelah 16 Hari Pencarian Dramatis
-
Sebelum Dipulangkan Syafiq Ali Pendaki Hilang di Gunung Slamet akan Diautopsi di Pemalang
-
9 Fakta Mengerikan di Balik Kerusuhan Iran: Ratusan Tewas, Ribuan Ditangkap, dan Ancaman Militer AS
-
Suzuki Karimun 2015 vs Kia Visto 2003: Pilih yang Lebih Worth It Dibeli?
-
Banjir Lumpuhkan SPBU Kudus, Pertamina Patra Niaga Sigap Alihkan Suplai BBM Demi Layanan Optimal